Karo dan Kekaroan semakin luntur. Kesimpulan penting untuk disingkapkan. Sebuah motivasi akan saya jabarkan sedikit untuk menanggulangi semakin lunturnya Karo dan kekaroan kita.

Sebuah iklan yang sedang beredar dipercaturan televisi Indonesia. Saya tidak bermaksud mempromosikan iklan itu. Tidak sedikitpun keterkaitan saya dengan produk yang ditawarkan. Tapi saya tertarik untuk mengangkat “keyword” yang dimiliki iklan tersebut.

Iklan itu adalah iklan handphone Samsung berhadiahkan kartu fren Sip seharga 399 ribu.

Di iklan itu digambarkan seorang yang bertampang bloon lengkap dengan kaca mata tebalnya masuk ke sebuah Mall. Di pintu seorang petugas lengkap dengan detektor logamnya menseleksi setiap bawaan pengunjung Mall. Maklum, di Indonesia hal ini sering dilakukan karena mencegah kaum teroris terhormat agar tidak meledakkan kekayaan negeri ini. Tiba-tiba saja ketika remaja bertampang bloon itu masuk, alat detektor logam itu berbunyi. Sang petugas berkata, “Fren Sip”. Tentu maksudnya produk kartu pra bayar yang ditawarkan iklan. Tapi dengan tampang bloon si remaja mengeluarkan sebuah pisang. Lalu “keyword” muncul dengan logat Jakarta kental,”Hari gini belum punya handphone?”

Satu kesimpulan yang ditarik dari “keyword” iklan itu untuk kesadaran pribadi kita akan Karo dan Kekaroan. Untuk semakin menyadari kalau Karo itu memang penting.

Sebagai contoh saya ambil kalimat,”Hari gini belum tahu bahasa Karo?” atau,” Hari gini tidak peduli Karo ?” bahkan, “Hari gini belum bisa menari Karo ?” sampai,”Hari gini enggak tahu budaya Karo ?” atau kalimat yang sedikit menyakitkan,”Hari gini masih menganggap Karo itu kampungan?”

Sebuah konteks yang tidak terpisahkan dari kehidupan Karo itu yaitu sifat ACC (Anceng Cian Cekurak). Sifat yang selalu menghalangi orang Karo kearah kemajuan. Hingga ketika ada yang mencuat selalu terjerembab oleh saudara-saudara sendiri. Mungkin kalimat itu bisa dipertegas dengan dialek betawi sedikit menyindir sambil bertolak pinggang,”Hari gini masih ACC?”

Beberapa bulan lalu di bundaran Hotel Indonesia (HI) Jakarta sebuah gedung memajang iklan anti narkoba. Iklan itu digambarkan seekor monyet yang menutup menutup mata, telinga, dan mulut akan narkoba. Sebuah kesimpulan penting yang didapat dari gambar itu agar janganlah kita menutup mata, telinga dan mulut akan Karo dan Kekaroan kita.