Sebuah tambahan kecil atas tulisan bang Juara di Soramido XIII “Karo Baru dan Marco Van Basten”. Sebuah pertandingan special memang ketika saya menyaksikan pertandingan itu di layar kaca televisi tanah air. Belanda menang 2-0 atas Rumania. Tentu menarik disimak karena saya juga penggemar sepak bola sama seperti penulis. Hanya berbeda tim favorit saja. Saya lebih menyukai Italia, untuk urusan klub dari dulu saya memang tifosi Internazionale Milano sejati. Dalam negeri? Tentu PSMS Medan menjadi klub yang telah mendarah daging turun temurun keluarga saya. Konon tokoh utama saya dalam Cerita “Sibayak” Hana de Jong diilhami dari seorang pemain muda Belanda keturunan Suriname beroperasi di sektor sayap yang memperkuat Ajax Amsterdam, Nigel de Jong.

Untuk itu saya tertarik untuk membahas tentang “Karo dan Olahraga”. Seberapa banyak orang Karo yang mengharumkan nama bangsa atau Karo sendiri dalam bidang olahraga ? Jari tangan cukup untuk menghitung semuanya.

Di Sepakbola bolehlah kita menyebut beberapa nama seperti Iwan Karo-karo, Gunung Ginting, Rehmalem Perangin-angin, atau Petrus Barus.

Iwan Karo-karo, seorang legenda Sumatera Utara. Siapa orang Sumut yang tidak mengenal dia. Keberhasilannya mempersembahkan medali emas PON 1989 membuat lagu Kacang Koro membahana di hadapan 100 ribu penonton Stadion Senayan. Merganya yang Karo-karo telah mendukung seluruh penjuru negeri lebih mengenal suku Karo.

Gunung Ginting, terakhir memperkuat klub yang sudah bubar Asyabab Salim Grup Surabaya. Pemain yang telah memecahkan rekor untuk pendapatan kartu merah di kancah Liga Indonesia.

Rehmalem Perangin-angin, seorang Cina yang besar di Tanah Karo. Konon namanya diberikan Rehmalem karena seorang guru menyembuhkan penyakitnya. Nama dan merganya didedikasikan untuk sang Guru. Dia cukup sukses bersama klub Mastrans Bandung Raya yang menjuarai Liga Indonesia 1995.

Petrus Barus, pemain Harimau Tapanuli, klub yang juga sudah bubar. Sempat malang melintang di pentas Liga Indonesia bersama Medan Jaya.

Terakhir seorang Tarigan (saya lupa namanya) menjadi wakil manajer PSMS Medan di Liga Indonesia tahun ini.

Bagaimana PSSK (Persatuan Sepakbola Karo), kapan promosinya?

Sayang belum ada satupun orang Karo yang memperkuat Tim Nasional Indonesia. Sampai Piala Tiger 2004 lalu orang Tapanuli sudah banyak sekali menyumbangkan

putra-putranya (Untuk piala Tiger 2004, Indonesia diperkuat oleh Saktiawan Sinaga & Mayadi Panggabean).

Di Catur, siapa yang tidak mengenal GM (Grand Master) Cerdas Barus & GM Nasib Ginting. Kedua pahlawan catur itu telah mengharumkan nama bangsa di pentas Internasional. Tentu hal ini mematahkan mitos kalau orang Karo hanya menjadi raja catur “perkede kopi”.

Di Volley, Indoenesia banyak berterima kasih pada sosok Robby Meliala. Pahlawan Karo itu telah memberikan banyak medali emas Sea Games bagi Indonesia. Saya ingat ketika masih SMA dulu di Medan, kutanta di km 8 Padang Bulan sempat sepi karena menyaksikan Robby Meliala tampil membawa nama bangsa.

Mungkin hanya itu yang bisa saya bubuhkan tentang pahlawan olah raga Karo. Ada yang mau menambahkan?

Suatu kesimpulan dipetik kalau olah raga bagi orang Karo sama seperti seni. Belum bisa sebagai profesi. Tidak bisa menjamin hidup.

Olah Raga hanya hobi bukan pekerjaan. Banyak sekali turnamen yang dilakukan oleh komunitas Karo. Tapi hanya bentuk dari keakraban bukan mencari atlet.

Kalau saja “Joker Karo” yang sudah terkenal di Indonesia dipertandingkan secara nasional maupun internasional, mungkin banyak orang Karo yang banting stir menjadi Atlet.