Hal menarik jika kita memperbincangkan tentang peranan pemuda Karo berikut sepak terjangnya dalam tatanan berkebangsaan di negeri tercinta ini. Sementara pemuda itu sendiri adalah generasi muda yang menjadi cikal bakal pemimpin negeri.

Setiap suku di Indonesia tentu mempunyai sifat dan karakter yang berbeda-beda. Keanekaragaman sifat dan karakter itu justru menjadikan beberapa suku unggul dibanding suku lain dalam menyumbangkan pemuda-pemudanya di berbagai aspek dalam pembangunan nasional.

Tapi bagaimanakah dengan pemuda Karo?

Suatu malam saya pernah mengobrol dengan seorang veteran pejuang 45 di Jakarta. Dia menceritakan tentang perbedaan pemuda Karo dan pemuda non Karo pada masa perjuangan dulu. Semasa pendudukan Jepang setiap pemuda Indonesia berhak untuk masuk ke kesatuan tentara Jepang Giyugun dan Heiho. Maka datanglah pemuda dari seluruh penjuru Sumatera Timur untuk mendaftar. Tapi ketika sampai di tempat pendaftaran, serdadu Jepang meminta ijazah ataupun surat tanda sudah pernah sekolah. Pemuda Karo yang tidak pernah sekolah akhirnya mengundurkan diri. Berbeda dengan pemuda non Karo, walau mereka tidak mempunyai persyaratan, dengan berbagai cara mereka berusaha untuk masuk ke dalam kesatuan itu.

Dari contoh diatas kita dapat menyimpulkan sedikit sifat umum yang dimiliki pemuda Karo sampai sekarang. Jika dia mengalami hambatan atau cobaan dalam bertindak selagi dia masih bisa mengundurkan diri lebih baik mengundurkan diri saja. Berbeda dengan saudara-saudara kita non Karo dimana mengalami hambatan akan dicoba menghadapinya siapa tahu keberuntungan dan kesuksesan ada di depan. Istilah lainnya, kalau sudah basah sekalian menceburkan diri saja.

Saya juga pernah mengalami hal ini. Sebuah production house ibukota yang memproduksi banyak sinetron pernah menawarkan pekerjaan pada saya. Mereka percaya kemampuan saya. Karena saya tidak percaya akan kemampuan sendiri akhirnya saya melepas pekerjaan itu. Betapa menyesalnya saya saat itu.

Kita bisa lihat di beberapa tempat pertemuan orang Karo seperti jambur, rumah-rumah ibadah atau tempat-tempat bertemu dan berkumpul yang mayoritas orang Karo. Disana kita bisa melihat kalau tempat duduk yang terisi pasti disebelah belakang dulu. Ketika panitia atau pengurus menyuruh ke depan maka jawabannya, “Enggo me yah, aku jenda saja.”

Apakah pemuda Karo ingin selalu duduk dibelakang? Menjadi pertanyaan tersendiri pada pribadi kita. Sebuah konteks jika dia ditunjuk sebagai pengurus atau menempati jabatan tertentu selalu jawaban terdengar, “Aku lang, kena saja yah.”

Dari beberapa contoh kecil diatas kita bisa melihat pemuda Karo belum percaya akan kemampuannya sendiri. Pemuda Karo masih berpikir ortodoks dalam menjalani perannya. Sementara perkembangan jaman menuntut kita lebih aktif dalam berkompetisi agar segala cita-cita dapat tercapai.

Suatu kebanggaan bagi kita ketika melihat pemuda Karo tidak pernah ragu untuk merantau (erlanjang). Walau terkadang dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya di tanah perlajangen (tanah perantauan) itu. Tapi acungan jempol patut diberikan untuk pemuda Karo di tanah perlajangen. Karena kemanapun pemuda Karo itu melangkah maka kesuksesan akan diraihnya. Paling tidak dia bisa ‘survive’ (bertahan) hidup disana.

Alangkah baiknya jika saat ini pemuda-pemuda Karo untuk menoleh ke belakang, berbuat banyak untuk perkembangan Tanah Karo Simalem dan menoleh ke depan, dengan mengharumkan nama Karo pada berbagai bidang di pentas nasional bahkan Internasional.

Suatu kesimpulan kecil. Sudah selayaknya pemuda Karo itu duduk di depan bukan di belakang. Sehingga kelak orang-orang akan mengatakan, “Itu pemuda Karo”.

-Tulisan pernah dimuat di Sora Mido edisi XIX –