Bagaimanakah sepak terjang kesenian Karo diantara dinamika kesenian Nasional? Sebuah pertanyaan penting untuk dijawab. Ketika kita harus dihadapkan pada kenyataan kesenian Karo diantara dilematis kesenian Nasional.

Pada tanggal 26 – 30 September 2005 bertempat di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, diadakan Kongres Kesenian Indonesia II. Lebih kurang 400 orang seniman, budayawan dan sastrawan dari seluruh Indonesia hadir. Kebetulan saya dan Yulianus Limbeng ditunjuk untuk mewakili kesenian Karo. Kongres Kesenian Indonesia ini sendiri dimaksudkan untuk mendengarkan aspirasi dari daerah seluruh Indonesia sekaligus untuk merumuskan undang-undang kesenian Indonesia.

Setelah terlibat tukar pikiran dengan teman-teman dari daerah lain, saya menyimpulkan bahwa kesenian Karo tidak berbeda dengan kesenian dari daerah lain dari sudut pandang perkembangan, perhatian dan pelestariannya.

Perkembangan kesenian Karo terbilang cepat. Cepat disini dalam pengertian cepat beradaptasi pada perkembangan zaman. Sebagai contoh peran keyboard Karo menjadi salah satu simbol kesenian Karo saat ini. Kita bisa melihat peran Keyboard Karo dalam menarik hati setiap insan Karo dalam mengapresiasikan kesenian Karo. Justru karena Keyboard Karo ini kesenian Karo dikenal oleh beberapa etnis non Karo.

Bukan hanya kesenian Karo saja yang terpengaruh oleh perkembangan zaman. Beberapa kesenian daerah juga sudah menggunakan keyboard sebagai alternatif dalam berkesenian. Bahkan beberapa sudah menggunakan mengggunakan band.

Perhatian akan kesenian Karo terbilang minim saat ini. Kurangnya perhatian dari pemda maupun dinas pariwisata menjadi luka yang sudah menganga sejak dulu. Sebagai contoh, di Tanah Karo belum terdapat tempat/sarana dimana wisatawan domestik maupun mancanegara bisa menyaksikan kesenian Karo. Baik itu tarian, musik tradisional dan lain sebagainya.

Beberapa seniman mengeluhkan kurangnya jam terbang mereka dalam mempromosikan seni budaya Karo di tingkat nasional maupun Internasional. Kurangnya dukungan dari pemda dan dinas periwisata menjadi alasan klasik yang terbentur sejak dulu.

Ketika saya menyimak penuturan dari teman dari Jawa dan Bali terlintas dibenak saya bagaimana kesenian mereka sangat didukung oleh pemda daerah. Mereka beranggapan kalau kesenian adalah bentuk promosi dari daerah itu sendiri. Tidak heran kalau budaya Jawa dan Bali sekarang telah menjadi kiblat pariwisata Indonesia.

Secara kasat mata kita sendiri bisa menilai seberapa besarkah kesenian Karo mendapat pengakuan baik skala nasional maupun International. Berapa banyakkah seniman-seniman Karo yang diundang ke luar negeri untuk mendemonstrasikan kesenian Karo. Atau seberapa besarkah perhatian pemda tingkat II Karo dalam mengembangkan dan melestarikan kesenian Karo.

Mungkin kita tidak tahu apa yang terjadi esok lusa. Tapi saya mengkhawatirkan bagaimanakah kesenian Karo itu 10 tahun ke depan. Apakah alat-alat musik seperti kulcapi, keteng-keteng, gendang, gung dan sebagainya itu masih ada ? Apakah masih ada orang-orang yang tahu menari tarian 5 serangkai ? Atau yang sedikit lebih menyakitkan lagi. Apakah masih ada orang yang peduli pada kesenian Karo ?

Dilematis yang terjadi ini tidak hanya terjadi di Karo. Beberapa suku di Indonesia juga mengalami nasib yang sama. Itulah sebabnya pemerintah membuat Kongres Kesenian Indonesia sebagai bentuk perhatian pemerintah akan suara-suara kesenian daerah.

Akhirnya dirumuskan undang-undang kesenian Indonesia yang mengacu pada seni dan industri dalam perspektif lokal, Nasional dan Internasional, Kajian dan pendidikan seni, fungsi kesenian di masyarakat serta hukum, profesionalisme seni dan pengelolaan kesenian.

Adapun rumusan undang-undang kesenian 2005 yang dihasilkan adalah :

1. Dinamisasi gerakan kesenian daerah dan menyiapkan infrastruktur kesenian untuk memunculkan manajemn industri seni yang fungsional.

2. Penguatan pengembangan kesenian lokal dengan dukungan pendanaan APBN dan APBD, dan dukungan perusahaan BUMN dan perusahaan swasta melalui penggalangan dana pelayanan dan biaya operasional publik (community services).

3. Menerapkan paradigma baru pendidikan seni yang berbasis kompetensi untuk memberikan pengalaman ekspresif, kreatif, estetik, dan kultural, yang mengarah pada terciptanya situasi kehidupan multikultural.

4. Optimalisasi pendidikan seni dan penguatan pendidikan seni di wilayah Timur Indonesia.

5. Sosialisasi dan advokasi terhadap hasil profesional seni dan fungsi sosial seni.

6. Kajian seni yang berorientasi pada akar sejarah seni Indonesia.

7. Membentuk balai-balai penelitian seni untuk melakukan riset-riset yang berkaitan dengan keunikan-keunikan potensi lokal dan dampak negatif dari produk-produk komersialisasi seni.

8. Menyokong peran kantung-kantung budaya untuk menumbuhkan benih-benih kesenian akar rumput (grass root) dan pengembangan jejaring antar pelaku seni sebagai wadah penyeimbang dominasi budaya populer.

9. Melibatkan peran aktif seniman dalam turut menentukan perencanaan dan pelaksanaan tata kota dan ruang publik.

10. Untuk memperkuat posisi dan fungsi kesenian dalam kebudayaan, diperlukan payung hukum berupa Peraturan Pemerintah (PP) dan Surat Keputusan bersama (SKB) untuk mengatur kejelasan fungsi pengelolaan kesenian.

11. Perlu dibentuk tim konsultasi dan advokasi hukum RUU kesenian, yang difasilitasi oleh pemerintah dan dilaksanakan oleh masyarakat kesenian dan tenaga profesional hukum.

Undang-undang kesenian ini dirumuskan dari rangkuman suara-suara kesenian daerah dan juga kesenian Karo didalamnya. Semoga undang-undang kesenian ini bisa menjadi wacana pengembangan dan pelestarian kesenian daerah terlebih kesenian Karo.

Sudah saatnya mata kita terbuka untuk melihat seberapa jauh yang telah diperbuat kesenian kita. Kesenian Karo adalah bagian dari kesenian Nasional. Pemerintah Indonesia sudah mengakuinya.

Terlebih pemerintah, tidak ada yang menyangkal jika pelestarian kesenian daerah terletak di tangan para senimannya. Mungkin orang awam (selain seniman) hanya sebatas pemerhati dan penikmat dalam mengapresiasikan karya seni daerah itu. Tapi kesenian akan mati jika sudah tidak ada apresiasi dari para orang-orang awam.

Kesenian Karo tidak akan pernah mati jika ada perhatian dari orang-orang Karo sendiri dalam mengapersiasikan karya seni para senimannya. Salam budaya !