Mengapa demikian? Suatu alasan sederhana, setiap sesuatu yang berbau Karo selalu susah laku. Terutama jika kita menjualnya pada orang Karo itu sendiri. Tapi tidak pada orang lain (diluar orang Karo). Mungkin hal ini disebabkan orang Karo sendiri menganggap sesuatu tentang Karo adalah kampungan. Atau bahkan bentuk kesadaran orang Karo pada budaya, seni dan alamnya semakin memudar.

Kalau hal ini menjadi acuan, sungguh sangat disayangkan. Untuk itu saya menarik benang merah tentang sastra Karo. Berapa buku yang telah dilahirkan penulis Karo tentang budaya Karo ? Sebenarnya cukup banyak. Kalau kita bisa menyebut beberapa nama lama yang berdedikasi tinggi seperti Sempa Sitepu, Masri Singarimbun, Payung Bangun, Darwan Prinst, Brahma Putro, Dkn P. Sinuraya, R. Tarigan Pekan dsb. Tapi apakah buku-buku yang mereka tulis laku di pasaran ? Maaf adakah pembaca yang bisa membantu untuk memberikan jawaban atas pertanyaan saya di atas ini? Karena pada waktu mereka menulis, saya masih kecil dan belum tahu apa-apa. Terlebih kesadaran akan Karo dan kekaroan itu sendiri. belum terbangun secara maksimal.

Tapi saya akan mencoba menebak. Dan mudah-mudahan tebakan saya tidak salah. Nilai Sastra dan Budaya yang mereka jual tersebut tidaklah terlalu laku. Walaupun laku, pembelinya mungkin di kalangan orang tua yang masih sadar akan budayanya dan orang-orang non Karo yang tertarik untuk mempelajari budaya Karo. Apakah mereka menarik meraih keuntungan besar dari apa yang mereka tulis ? Mereka tentu menggeleng kepala. Kesadaran akan kecintaan terhadap Karo membuat mereka menyumbangkan sebagian pikirannya tanpa pamrih.

Kita cukup bangga punya beberapa penerbit, percetakan & toko buku yang mengeluarkan sastra Karo. Seperti Kesaint Blanc, Ulih Saber, Abdi Karya, Berkat Jaya, Pustaka Soramido dan lain sebagainya. . Tapi apakah buku-buku yang mereka keluarkan habis laku terjual ? Kembali gelengan kepala harus dilakukan.

Satu momentum indah ketika tabloid Sora Mido, Karo Post, Tenah dan Sibayak Post menunjukkan tajinya atas pengembangan & kemajuan masyarakat Karo. Tapi kendala-kendala yang seputaran sirkulasi dan marketing merupakan contoh klasik mengapa “Sastra Karo tidak pernah Laku”. Dan sebagai penulis, saya tidak perlu lagi menggeleng kepala. Karena kata maklum harus segera diucapkan.

Pemilik percetakan Ulih Saber mengatakan pada saya bagaimana perjuangannya menjual tanah miliknya agar bisa memodali percetakan buku-buku budaya Karo. Bahkan dia harus menjual buku tersebut dari jambur ke jambur (baca : door to door) agar orang Karo bisa membelinya. Mendengar keluh kesahnya tersebut, saya tersenyum getir sambil berusaha menahan sembabnya kelopak mata.

Bagaimana perkembangan sastra Karo di tingkat nasional? Sedari kecil saya memang akrab dengan buku. Buku merupakan kekasih saya yang menemani kemanapun saya pergi. Ketika masih mahasiswa di Bandung, saya menghabis berjam-jam di Gramedia Merdeka. Tapi diantara sekian ribu judul buku yang ada, hanya satu penulis yang memakai merga Karo. Yakni Ita Sembiring. Nama itu sangat indah untuk disebut dan diperbincangkan sebagai penghancur tembok bata (istilah ini dari Ita Sembiring sendiri). Walau karyanya berskala nasional, tapi sang kakak tak lupa membubuhkan nama dan lokasi kejadian pada novelnya tentang Karo. Sayangnya, tak semua orang Karo yang tahu siapa Ita Sembiring.

Hampir saya menitik air mata karena haru ketika seorang Martin Perangin-angin yang tahan banting dan tidak peduli untung rugi mengeluarkan bukunya berjudul ” Orang Karo Diantara Orang Batak “. Saya melempar topi keatas (bukan saja mengangkat topi) karena keberhasilan buku essai budaya Karo itu menembus Gramedia seluruh Indonesia. Tentu saja saya tidak bermaksud mengesampingkan beberapa buku tentang Karo lainnya yang banyak beredar di Gramedia Medan.

Di jaman globalisasi ini, sudah banyak orang Karo sudah tidak peduli lagi dengan Kekaroannya. Sebagai kesimpulan, sebagai penulis Karo kita tidak perlu berpikir akan pamrih terhadap pengorbanan yang kita berikan dalam memajukan budaya Karo dalam bentuk tulisan.

Keterpurukan tentu tidak menjadi dasar untuk berhenti menulis walau tulisan itu tidak laku/ditolak. Sebagai orang Karo berpendidikan, ada baiknya kita menanamkan sikap bangga pada budaya kita sendiri, terutama dalam menghargai segala bentuk sastra Karo. Kepekaan dalam membaca sesuatu tentang Karo dapat kita jadikan acuan. . Kalau bukan kita, siapa lagi yang bangga akan sastra Karo. (*** penulis adalah seorang pekerja Sastra Karo. Pendiri sekaligus Sutradara Teater Topeng di Bandung)

– Tulisan ini pernah dimuat di Sora Mido edisi XIII –