Nande-Nande di Kompas

Sebagai perantau saya sangat terkejut ketika melihat sebuah gambar di harian Kompas terbitan Selasa, 29 Maret 2005 hal 20.Disitu terlihat gambar tanpa berita berukuran 5R Nande-Nande dan Nini-nini warga jalan Ngumban Surbakti lengkap dengan tudung masing-masing.

Tertulis dibawah gambar :

Siapkan “Senjata”- Sekitar 60 pengunjuk rasa, ibu-ibu warga jalan Ngumban Surbakti, yang Senin (28/3) kemarin menuntut realisasi ganti rugi tanah mereka, makan sirih dan mengunyah tembakau.Selain merupakan kebiasaan, mereka mempersiapkan air sirih dan tembakau untuk disemburkan kepada polisi yang menghalangi mereka masuk ke kantor Wali Kota Medan.

Gambar itu sangat menggelitik saya. Ketika zaman globalisasi dipenuhi dengan senjata canggih dan modern, para Nande malah dengan senjata tradisional terbaru, air sirih dan tembakau. Saya tidak bisa membayangkan bagaiamana para polisi yang “dihajar” dengan senjata pamungkas itu.

Perjuangan rakyat Karo memang belum berakhir. Ketika Panglima Nabung Surbakti dan para laskar simbisa bertempur dengan mengangkat bedil dan karben, perang gerilya musuh berngi melawan Belandapun berkobar. Perang Sunggal tak terelakkan dari tahun 1872-1895. Hingga Panglima Nabung Surbakti gugur di tahun 1907.

Kini Nande-Nande dan Nini-Nini berjuang dengan senjata paling tradisional yang pernah ada. Paling tidak Indonesia sudah tahu agar berhati-hati terhadapNande-Nande kalak Karo.