6301.jpg

Terkisah tiga sahabat yang tinggal di San fransisco, yaitu Alit (Adilla Dimitri), roommatenya Bima (Winky Wiryawan) dan Tasya (Dinna Olivia), mantan pacar Bima. Setelah menyelesaikan kuliahnya di San Fransisco, Alit memutuskan untuk kembali ke Indonesia untuk menemui ibunya (Jajang C Noer) yang selama 5 tahun tidak pernah bertemu.

Hal ini menghadapkan Alit pada keinginan untuk mengungkapkan isi hatinya pada Tasya sebelum dia pulang. Namun keinginan Alit terbentur pada kenyataan kalau Bima ternyata masih mencintai Tasya. Dari sinilah konflik demi konflik kemudian muncul.

Kritik

Plot yang dibangun di film ini cukup sederhana dan mudah ditebak. Pernah ada film Indonesia mengangkat tema cinta serupa beberapa waktu lalu. Pembangunan cerita sedikit kedodoran oleh dialog-dialog yang terkesan monoton dan cenderung membosankan.

Kita seolah dipaksa untuk mengerti polemik yang dialami Alit, sementara terjadi banyak kecanggungan dari sikap Alit sendiri. Misalnya ketika Alit mendengar informasi dari suara pamannya dari mesin penjawab telepon bahwa ibunya telah tewas kecelakaan. Sebagai anak yang sudah 5 tahun tidak bertemu ibunya, Alit sama sekali tidak berusaha mencek kebenaran berita dari pamannya itu. Dan itu terjadi berjam-jam, padahal fasilitas telepon ada di rumah. Yang anehnya suara pamannya yang memberikan informasi tentang kematian ibunya hanya dengan nada biasa dan malah cenderung bercanda.

San Fransisco menjadi sepi karena film ini. Bagaimana tidak, ketika Alit dan Bima menginjak-nginjak mobil yang sedang parkir dan menimbulkan suara alarm, tidak ada seorangpun muncul. Apakah pemilik mobil atau paling tidak Security. Kemana mereka?

San Fransisco seolah hanya berpenghuni mereka bertiga saja. Di banyak scene, hanya ketiga tokoh ini yang muncul. Padahal scene itu berada di jalanan dan cafe.

Mungkin bermaksud untuk memberikan planting information pada penonton, ketika cincin yang disimpan Bima di kamarnya, dilihat oleh Tasya. Kotak cincin itu jatuh dan framing menunjukkan planting information. Namun hal ini menjadi kabur karena tidak ada kontinuiti kelanjutan planting information itu.

Tata fotografi film ini bisa dikatakan di bawah standar. Selain kamera terus shakin (bergoyang) dan pengambilan angle seolah seperti sebuah eksperimen. Misalnya ada adegan di tempat parkiran, kepala Alit keluar dari frame padahal dia tidak bergerak ataupun pindah. Lighting film ini kelewat gelap. Beberapa wide frame San Fransisco justru patah-patah.

Sayang, pemain pengalaman seperti Wingky Wiryawan terlihat kaku berakting dibeberapa adegan. Terutama ketika terpengaruh oleh akting lawan mainnya Adilla Dimitri yang sangat biasa saja. Tentu kita akan berkomentar kalau akting tokoh penjaga parkir itu sangat dibawah standar dan cenderung dipaksakan.

Sound film ini gagal total. Banyak scene, suara pemain harus kalah dengan suara sekitarnya. Dialog menjadi buram. Malah ada beberapa shot, suara seorang tokoh tiba-tiba menghilang.

Secara keseluruhan film besutan Rinaldy Puspoyo ini belum bisa melepaskan dahaga kita untuk menemukan susuatu yang baru, dimana dinamika film Indonesia dikerubuti oleh genre horor.

Keemasan film 6:30 ini memang begitu menggoda, namun sayangnya lebih indah kulit daripada isi.