Baru saja aku dan teman-teman teater gabungan permata GBKP Jakarta Palembang menyelesaikan sebuah pertunjukan yang diberi label olehku “Tabas”. Bagi orang karo, judul itu mungkin sudah bisa menebak kalau sendratari Karo kontemporer ini ada hubungannya dengan dukun atau lazim disebut guru.

Sebagai sutradara/koreograf er aku tidak menyangka pertunjukan ini akan sesukses ini. Penonton terpukau dan bertepuktangan meriah untuk kami. Padahal pada saat kami pentas, suasana masih kebaktian dan dalam tata ibadah GBKP haram hukumnya jika pas kebaktian berepuktangan. Disinilah pesona salah satu karyaku, aku pikir. Thanks God!

But,

Selesai mentas, tiba-tiba seksi acara datang padaku. Dia bilang majelis gereja mengkritik pertunjukanku karena berbau mistis yang tidak layak ditampilkan di gereja. Ya Tuhan, aku pikir. Pertunjukanku sama sekali tidak ada berbau mistik. Hanya karena tarian itu diambil tari tradisi Karo maka itu dibilang mistik? Padahal dipertunjukan ini aku memerankan Jesus Christ, my Savior!

Sempat aku menanggapi emosional dan mengancam akan mengundurkan diri dari posisi sutradara untuk drama Natal di gereja itu. But, mungkin ini sebagai bentuk refleks emosionalku sebagai manusia. Tapi akhirnya aku menanggapi kritik itu dengan santai. Aku menyadari orang-orang yang mengkritikku adalah orang-orang kaku dan ortodoks yang tidak bisa mengapresiasikan karya seni. Apalagi orang itu (sipengkritik) selama ini sudah merasa jadi dewa dan merasa memiliki gereja itu. Atau memang dia iri karena aku bisa mementaskan suatu karya yang begitu indahnya…hehehe. ..(positive thinking ajalah Joey)

Tuhanpun akan tahu siapa yang salah. Buktinya di rumahNya, aku bisa mementaskan suatu karya seni tradisi dimana begu/setan tidak datang sama sekali. Mungkin karena aku memerankan tokoh Jesus Christ itu sebagai penangkalnya. . ha..ha..ha.. ..