Suatu sore di bulan Desember 2006, tepatnya di Jakarta International Film Festival (JIFFEST) tanpa sengaja saya bertemu dengan Dian Sastrowardoyo, aktris terkenal peraih piala Citra lewat aktingnya dalam film laris “Ada apa dengan Cinta”.

Kebetulan saat itu bioskop Djakarta XXI venue JIFFEST penuh sesak oleh pecinta-pecinta film yang mau menonton film-film dari berbagai penjuru dunia. Sebenarnya sosok Dian Sastro tidak begitu menonjol dibanding penonton lain. Namun feeling saya yang diciptakan sensitif pada artis cantik cepat menangkap sosok Dian. Entah kenapa, sore itu Tuhan begitu baik pada saya, hingga mengabulkan permohonan saya berada satu bioskop dan duduk di dekat Dian Sastro!

Film VOLVER asal Spanyol yang kata orang bagus dan menang di berbagai festival film, justru tidak menarik di mata saya. Malam itu tidak ada yang paling menarik dalam alam pikiran saya selain Dian Sastro yang duduk di dekat saya.

Terus terang saat itu saya tidak bisa kosentrasi lagi. Mata saya memang melotot ke widescreen. Namun hati saya sedang menikmati raga Dian Sastro. Teman saya, seorang sutradara film yang kebetulan duduk di sebelah saya nyeletuk, “Tempat kerja lo kan banyak artis. Cewek gitu aja diliatin. Norak lo!!”. Dengan suara setengah berbisik (agar tidak terdengar Dian) saya berkata, “Ini Dian Sastro, men!”.

Cekurak milik siapa

Menurut kamus besar bahasa Karo karya Darwin Prinst, tertulis pengertian Cekurak adalah menjelekkan orang lain, atau menjelek-jelekkan sifat orang lain. Cekurak bisa juga diartikan dalam bahasa Indonesia, ngomongin orang lain atau yang lebih dikenal dengan nama GOSIP.

Dalam opening words saya mencoba mengungkap masalah Dian Sastro dengan sosok keartisannya dan peranannya pada kepribadian saya. Sosok Dian Sastro tidak akan pernah lepas dari gosip. Karena gosip memang sudah bagian dari pekerjaannya, atau lebih tepat dikatakan, sebuah resiko sebagai seorang artis.

Entah siapa yang pertama kali menciptakan sebutan ACC (Anceng, Cian, Cekurak). Kalau saja saya bertemu dengan orang tersebut, saya akan merekomendasikannya untuk mendapatkan Anugerah Kebudayaan pada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, sebagai penemu problematika kultur Karo.

ACC telah ditahbiskan secara tidak resmi menjadi bagian dari kebudayaan Karo. Yang uniknya ketiga kata tersebut berkaitan. Tapi maaf, tak satupun kata-kata tersebut mencerminkan budaya positip.

Biasanya tabloid gosip dan berbagai tetek bengek infotainment digandrungi oleh ibu-ibu, yang biasa disebut bahasa kami di Porsea “Inang-inang.” Tidak heran kebudayaan Indonesia telah menyeret masyarakat pada budaya gosip. Lihatlah di gang-gang bagaimana ibu-ibu merajalela memakan korbannya hanya dengan kata-kata. Misalnya, kalau ada sifat tetangga yang ginilah, yang gitulah, akan menjadi umpan bulat-bulat bahan gosip.

Suatu sore, di sebuah kerja adat, di sebuah Jambur di Padang Bulan, saya mendengar para pernanden sibuk “mandangi” sang pengantin dengan berbagai latar belakang keluarganya. Dengan lugu dan wajah tanpa dosa, saya mencoba bertanya, “Kenapa sih bibi menggosipi yang kawin itu.” Sumpah! Jawaban bibi itu betul-betul mengagetkan saya. “Daripada bengong ngeliat kerja adat ini, bagusan cekuraki kalak.”

Suatu sore dalam gerimis dingin, saya dikagetkan jemaat gereja saya yang kebetulan komunitas Karo, asyik membicarakan bagaimana seorang jemaat menyumbangkan uangnya sekian puluh juta rupiah untuk kelangsungan gerejanya. Bukan ketulusan hati penyumbang itu yang dibicarakan, tapi malah keegoan dari penyumbang itu yang disorot dan dianggap “jago akapna banna”. Nah lho?

Cekurak itu perlu

Menjadi bagian dari masyarakat Karo serba salah. Berbuat baik salah, apalagi berbuat salah, ya jelas salah. Anehnya, tidak ada sesuatupun yang sempurna di mata orang Karo. Kai pe akapna la teng-teng.

Itulah sebabnya seorang mantan ketua Himpunan Masyarakat Karo Indonesia (HMKI) berkata pada saya, “Kalau kam berbuat untuk Karo. Siap-siaplah dikritik. Orang Karo itu tukang kritik!” Saat itu saya mau menggelar pertunjukan besar untuk Karo. Saya sudah mempersembahkan jiwa dan raga saya untuk mengangkat suku saya ke pentas Nasional. Terlaksana saja sudah sada erbage, eh ini malah dikritik pula. Kok gini, kok gitulah! (saya hanya menjawab “AMIN” dalam hati).

Kritik memang perlu, untuk mengetahui sudah sampai dimana titik kita berpijak. Namun kritik tidak membangun, dan lebih condong memojokkan, terkadang justru membuat kita enggan untuk berbuat sesuatu untuk Tanah Karo tercinta. Takut nanti sudah berbuat, dikatakan salah. Kalau tidak berbuat, dikata-katai tidak mau membangun kuta kemulihenlah. Miris bener?!

Cekurak muncul karena ketidakberdayaan seseorang akan keberhasilan orang lain. Dia lahir dari perbuatan orang lain dan berakibat pula pada perbuatan orang lain. Cekurak perlu jika sampai pada tahap kritikan membangun. Dia bisa menjadi sandaran bagi kita untuk berbuat yang lebih lagi. Jadikan cekurak menjadi motivasi bagi kita untuk terus maju. Bukan penghambat atau bahkan patah semangat.

Seperti artis yang diterpa gosip. Dia tidak akan populer lagi jika menyerah pada gosip. Justru gosip telah menjadi gaya hidupnya dalam mendulang ketenaran dan kesuksesan. “Pintar-pintarlah mengelola gosip,“ kata teman saya seorang aktor.

Namun keburukan Cekurak akan berakibat pada fitnah dan memang bermaksud menjatuhkan. Menjelek-jelekkan orang lain karena faktor iri dengki. Pepatah kuno yang saya dengar waktu masih SD mengatakan, “Fitnah lebih kejam dari pembunuhan.” Dan yang mengerikan sebuah pembunuhan yang pernah terjadi di Kabanjahe beberapa waktu telah membenarkan kata-kata itu. “Mulutmu Harimaumu” kata pepatah lain. Hati-hati!!!

Jadi apa yang kita lakukan dengan Cekurak? Jangan takut dicekuraki. Nikmatilah Cekurak, dia merupakan bagian dari budaya kita.

Parisj van Java

290107 – 21.40