Secara tutur saya memanggilnya Kila. Tetapi dia lebih senang dipanggil abang daripada dipanggil Kila. “Biar tidak terlihat tua” katanya suatu ketika. Sore itu pertemuan saya dengan abang itu di sebuah café yang menjual aneka cokelat perusahaan francise dari Paris, di Mall baru di kawasan Senayan Jakarta. Pertemuan ini membuat saya agak sedikit gugup. Maklum, abang ini termasuk 10 besar orang Karo tersukses versi buku “Orang Karo diantara orang Batak” karya Martin Perangin-angin.

Kebetulan konglomerat Karo ini meminta saya untuk membantunya mendaftar di beberapa mailinglist Karo. Alasannya sederhana, “Untuk mengetahui perkembangan Karo.” Dengan sigap pula saya membuka berbagai portal yahoogroups langsung dari laptopnya sambil menyeruput secangkir coklat panas yang segelasnya sampai Rp. 45.000!

Selama melakukan register mailinglist, sang abang terus bercerita mengenai bisnisnya dan segala keterkaitannya dengan Karo. Dia mencoba bertanya, atau lebih tepatnya mencoba meminta nasihat dari saya, bagaimana caranya bisa sukses berbisnis dengan orang Karo. “Kenapa ya kalau kita bekerjasama dengan orang Karo tidak pernah berhasil?”

Dia terus berceloteh banyak tentang bisnisnya. Dan keinginannya membangun Karo dari hasil pamrihnya. Beberapa orang Karo bahkan pernah diangkatnya di berbagai jabatan penting di perusahaannya. Namun tidak lama orang-orang kepercayaannya ini mencoba menjatuhkan posisinya sebagai President Director di perusahaannya itu. Mau ditolong eh malah menjatuhkan. Seperti musuh dalam selimut kata sebuah pepatah.

“Mungkin sifat ACC yang buat mereka begitu bang,” kata saya lugu. “Tidak hanya itu Joey,” kata abang itu, “Sifat junggut-jungut itu yang membuatku paling malas.” Abang itu menambahkan, anak buahnya itu hanya berani jungut-jungut dibelakangnya. Tidak berani di depannya. Padahal dia dengan tangan terbuka akan mendengar segala keluhan anak buahnya.

Akhirnya abang itu bercerita bagaimana dia harus mengganti beberapa orang Karo di perusahaannya. “Daripada aku tersingkir mending dia kusingkirkan lebih dulu,” kata abang itu tenang sambil menyulut sebatang rokok buatan Amerika di bibirnya.

(Saya minta maaf pada abang karena pertemuan kita menjadikan ispirasi bagi saya untuk menulis ini. Saya tahu abang pasti baca tulisan ini)

Mengapa jungut-jungut

Jungut-jungut lahir dari ketidakpuasan seseorang pada sesuatu hal. Mungkin hal tersebut bukan seperti yang diharapkannya. Jungut-jungut adalah bentuk dari kekesalan seseorang pada apa yang dialaminya. Jungut-jungut lahir jika ada seseorang (partner) yang mendengarkan atau lebih tepatnya ada teman cekurak. Jadi tidak mungkin orang jungut-jungut sendiri atau memang orang itu sudah tidak waras.

Biasanya jungut-jungut adalah dasar dari seseorang tidak pernah bersyukur dari apa telah didapatkan. Dia tidak pernah puas. Padahal apa yang sudah didapatkan sudah mencukupi segala kebutuhan. Dia ingin lebih lagi. Mungkin karena rumput tetangga lebih hijau.

Selain itu jungut-jungut dengan sendiri akan muncul pada seseorang sebagai bentuk respon perlakuan orang lain terhadapnya. Dan efeknya pada sifat dasar orang Karo, jungut-jungut akan menjadi dendam yang akan menjatuhkan. Sehingga apa yang dialami si abang di atas mungkin saja terjadi.

Jadi apa yang harus kita lakukan sehingga kita sampai tidak jungut-jungut apalagi bersungut-sungut?

Pertama, kita harus mensyukuri apa yang telah diberikan pada kita. Apalagi pemberian itu dari teman, rekan, saudara, orang tua, terlebih lagi Tuhan Sang Maha Pemberi. Hukum kehidupan berkata, jika kita tidak mensyukuri apa yang kita dapat, maka itu akan diambil lagi dari tangan kita.

Kedua, jadikan semuanya indah. Maksudnya, apa yang kita alami apakah itu baik atau buruk, tariklah benang merah sebuah pembelajaran kehidupan di dalamnya. Jika buruk, jadikanlah hal ini sebagai tahap pembelajaran arti hidup. Jika baik, jangan terlena, berpikirlah untuk lebih baik lagi.

Ketiga, nikmatilah persaingan karena dia merupakan bagian dari hidup. Kalah atau menang adalah hukum kehidupan. Jangan langsung berpikir kita rugi dan orang untung maka kita harus jungut-jungut.

Jungut-jungut adalah sikap negatif. Jangan jadikan sebagai bagian dari sifat kita. Tapi jadikan tonggak dalam hidup kita untuk terus bersyukur, dan menikmati kehidupan walau bagimanapun kehidupan yang kita alami.

Hatur Nuhun.. Parijs van Java 280207 21.17