Fiuh…!

Sebenarnya membuat suatu karya seni susah-susah gampang. Susah kalau kita tidak bisa bekerja sesuai dengan kenyataan yang kita inginkan. Mudah karena memang kita terlahir untuk membuat karya seni itu. Bukankah setiap ilham dan ispirasi berasal dari Tuhan. Tuhan yang memberikan ispirasi pada orang yang tepat untuk merealisasikannya. Sehingga tugas yang diembankan Sang Pencipta harus kita laksanakan.

Karya seni adalah proses. Begitu juga dengan pengerjaan drama kontemporer Paskah GBKP Rawamangun. Banyak pengalaman yang bisa digali. Ketemu orang-orang baru aku kenal berikut bekerjasama dengan mereka. Mungkin karena sudah sering bertemu dengan orang-orang tipe gini kadang-kadang aku sudah tidak peduli lagi. Orang-orang yang hanya bisa ngomong tapi tidak profesional di bidangnya. “Tau apa mereka tentang karyaku!” kataku dalam hati ketika orang-orang komplain denganku saat jam 12 malam padahal 5 jam lagi akan pertunjukan!

Untung saja orang-orang yang dipilih menjadi pelaksana tokoh-tokoh ciptaanku bisa memainkan peranannya. Walau memasuki hari ketiga latihan tetap saja aku belum menemukan karakter Lucifer dan Gabriel. Aku tidak puas dengan kenyataan. Sebagai pencipta cerita aku langsung memutuskan, akulah yang lebih tepat memainkan Lucifer. Sementara Gabriel aku percayakan Juanita, seorang seksi acara yang memang berbakat. Aku melihat dia berbakat karena kebetulan aku pernah melatih dia Desember lalu.

Sepertinya memegang dua peran dalam satu proses sangat melelahkan. Apalagi menjadi sutradara merangkap aktor utama. Betapa melelahkannya. Apalagi sang asisten sutradara Juanita juga jadi pemain utama. Praktis tidak ada stage manager. Hasilnya seperti Jumat lalu. 10 menit sebelum mentas aku harus merubah blocking sesuai arahan panitia padahal sewaktu berada di panggung aku baru sadar untuk apa aku merubah blocking. Yang dikhawatirkan panitia tidak menjadi kenyataan.

Sudahlah…hal yang lalu tidak perlu diperbincangkan lagi….

Fiuh…!

Aku jadi teringat next project. Orang-orang Ginting Suka itu melakukan kesalahan yang sama. Mereka tidak bisa menyediakan orang yang berperan menjadi Judas. Judas salah satu karyaku yang lain yang akan dipentaskan 20 April nanti.

Lagi-lagi aku berperan ganda. Dan sangat melelahkan. Aku tidak mau kemaruk atau disebut rakus dalam mengambil peran. Aku lebih suka pada saat pertunjukan, aku duduk di tengah penonton dan menyaksikan karyaku.

Artinya…

Aku lebih suka menjadi sutradara yang tidak berperan ganda.