w4_800.jpg

Tadi siang aku nonton film “Ayat-Ayat Cinta” di Mall Artha Gading. Sendiri, tidak ada yang menemani. Seorang teman, satu rumahku, yang kuajak, tidak mau berminat menonton film itu. “Terlalu Islami” katanya. Untuk mengajak pacar tentu saja tidak mungkin. Setelah perpisahan kami Nopember lalu, aku tidak punya seorang hawa yang bisa menemaniku kemana saja.

Ayat-ayat Cinta (AAC) udah jadi target tontonanku dari dulu. Selain karena menghargai Mas Hanung Bramantyo (kami sama-sama anggota MFI) juga menghargai teman satu angkatanku di KPU Sinematografi Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI), sahabatku Raymond Handaya yang jadi Asisten Sutradara (astrada) di film itu. Kalau buka rahasia, novel AAC baru selesai aku baca kemarin malam setelah 2 bulan yang lalu aku beli di sebuah kios di Senen.

Bayangkan dalam waktu sehari, aku bisa membaca novel itu 250 halaman. Dan untuk itu aku perlu waktu hampir 5 jam. Itupun aku sempatkan karena sedang menunggu interview pekerjaan. Aku bosan menunggu. Bayangkan, kemarin aku harus nunggu di interview dari jam 11 sampai jam 4 sore. Untung saja ada novel itu yang bisa menemaniku. Kalau tidak? Mungkin aku sudah mati kebosanan. Atau kalau tidak ada interview itu mungkin saja aku tidak selesai-selesai membaca novel itu sampai filmnya habis diputar di bioskop.

Membaca curhat Mas Hanung di blog pribadinya, aku jadi tahu suka dukanya membuat film ini. Bisa kubayangkan. Apalagi waktu proses pembuatan film ini, aku masih aktif di MD Entertainment sebagai Asisten Sutradara. Film ini juga produksi MD namun dibuat dengan slogan MD Pictures. Aku tahu betapa ribetnya di MD. Belum lagi kerja dengan India-India itu yang menganggap rasnya lebih tinggi dari kaum pribumi. Bukan apa-apa seorang India line producer sinetron yang aku kerjakan pernah memaki-maki aku gara-gara jadwal syuting melebihi dari tergetnya.

Sebetulnya kontrakku di MD sebanyak 52 episode. Tapi gara-gara aku harus membuat drama Natal di 3 event, akhirnya aku putuskan untuk beristirahat sejenak dari dunia Film. Toh nanti aku bisa kembali lagi pikirku saat itu. Dan tawaran materi dari drama ini hanya bisa kudapatkan dengan mengerjakan 4 episode dalam waktu 1 bulan. Hitung-hitungan, aku lebih untung menyutradarai drama. Tapi inilah awal kesalahanku.

Natal udah lewat. Tapi kecintaanku pada dunia Teater membuat aku punya obsesi lain. Aku sudah menekuni Teater lebih 5 tahun. Dan aku menyayanginya. Teater lebih dari Film bagiku. Karena di Teater aku mendapat kepuasan batin dalam merefleksikan diri, sementara di Film (selama aku bekerja di Multivision dan MD Entertainment) aku hanyalah buruh (baca : robot) yang bekerja 18 jam sehari tapi bergaji kerdil.

Sementara itu salah satu obsesiku dari dulu ingin pentas di gedung pertunjukan dimana dramawan-dramawan terbaik di negeri ini pernah berkarya. Taman Ismail Marzuki. Yah, tempat itu adalah obsesiku. Aku ingin teaterku nanti mentas disana. Sekali saja. Dan sesudah itu mungkin aku puas selamanya. Aku sudah merasa setingkat dengan WS Rendra, Arifin C Noer, Teguh Karya, Nano Riantiarno, Butet Kertarajasa, Putu Wijaya.

Bulan Juni aku pilih sebagai performing art. Naskah aku tulis sendiri berdasarkan riset. Aku melobi kesana-sini. Namun pertunjukan itu harus diundur sampai Oktober karena alasan kompleks. Aku berutang budi pada seseorang. Dan orang itu akan pergi ke luar negeri pada saat pementasan Juni nanti. Aku tidak mungkin menggelar pertunjukan kalau orang yang selama ini mensupportku itu tidak ada. Aku linglung. Antara ambisi dan utang budi. Aku terpuruk. Pikiranku kacau.

Ketika menonton Ayat-Ayat Cinta tadi, muncul kembali obesiku. Aku hubungi sahabatku Raymond Handaya Astrada ACC dan juga Roza Winstar Asisten Kameramen di MD. Kami sama-sama satu kelas di sekolah film dulu. Aku ingin reuni. Aku ingin kembali ke duniaku. Dunia film. Dunia yang hampir setengah tahun aku tinggalkan itu. Besok kami akan bersua kembali. Menceritakan tentang kisah pengalaman masing-masing dan obsesi ke depan. Taman Ismail Marzuki akan menjadi saksi pertemuan kami.

Aku teringat pertanyaan awal yang diucapkan bos perusahaan yang mewawancaraku kemarin, “Apa tujuan hidupmu?”

Dengan tegas aku katakan padanya, “Aku ingin menjadi Sutradara Film!”