Kucoretkan sebuah stanza
di malam sepi, telantang kupandang
betapa ajaib bersinar gemintang
di ufuk awal tahun perjuangan
teruntuk simalemnya Tanah Karo

Dalam gemulut rumputan merancah kakiku
padang-padang meliar, jerit gagak membingar
keagungan gendang Karo lima sedalinen
pemersatu harkat silima merga
melepuh hancur hampir tak bersisa

Sambutan suram ini tidak asing bagiku
begitu temaram kuta Lingga
rumah-rumah adat bertanduk kerbau
rontok terhukum tak berampun
segalanya fana dan semua berlalu

Tanah pupuk yang kudus dengan kening kucecah
di bawahnya cacing-cacing pasti mengerat
duri-duri terkutuk! semak-semak keparat!
orang-orang pasar berhati durja
api sedih luluhkan mimpi petani bersahaja

Aku dengar semangat bumi yang lena
mewangi kembali dan memesona daku
taman gaib untuk para pelancong
tuntut ingin menceraikan diri karena sudah layu
pisau-pisau para ‘tuan’ mengekang kemajuan

Satu orang, dua orang, tiga orang,
maju tanpa ragu untuk menjadi ‘tuan’
disundut, dicaci, ditampar, diremehkan,
oleh saudara yang mengaku seleluhur
jangan menyerah kawan, angkat terus wajahmu

Lihat surya bergumul dalam kabut Karo
jangan berlalu sebelum kutiti jembatan Lau Biang
untuk menuntut para korban penggelehan
kenapa sampai detik ini tanpa ada perkembangan

“nanti dulu, kau masih terlalu lugu untuk ketahui”
kata seorang ‘tuan’

Batavia. 030108 4.28
JOEY BANGUN