Kedatangan Pendeta Erick Barus ke perpulungen jabu-jabu (PJJ) sektor 1 GBKP Jakarta Pusat tadi malam mengagetkan saya. Bukan apa-apa, siang tadi wajah Pendeta Erick menghiasi berbagai macam infotainment, siaran berita di berbagai stasiun TV, dan juga siaran radio BBC. Pendeta Erick diwawancarai mewakili Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) tentang sikap film FITNA yang saat ini banyak diperdebatkan. Tentu saja kedatangan Sekretaris Eksekutif bidang Marturia PGI itu menjadi tamu spesial bagi kami PJJ Sektor 1 GBKP Jakpus malam tadi.

Tema PJJ Minggu ini yang dituliskan Ketua Moderamen GBKP Pdt Jadiaman Peranginagin mengangkat tema Nggeluh ibas kebujuren Dibata. Pt Helman Pandia yang menjadi tuan rumah membuka penggejapan. Diikuti beberapa Moria yang menanggapi tentang perkembangan saat ini yaitu tentang film Fitna, Ayat-ayat Cinta, dan dihubungkan dengan film Da Vinci Code. Terlihat dua orang Moria yang memberikan penggejapen ini paham betul tentang novel dan film itu. Tiba giliran saya mewakili permata memberikan penggejapen.

Penggejapen saya seperti ini :

Dua film yang lahir saat ini sah-sah aja. Sebuah bentuk karya seni yang memang memerlukan kebebasan berpikir dalam melahirkan ide-ide kreatif. Bagi kalangan seniman maupun kritikus seni, hal seperti ini tidak perlu diperdebatkan. Lain soal jika yang mengapresiasikannya adalah orang-orang ‘awam’.

AYAT-AYAT CINTA secara vulgar menyatakan seorang wanita Mesir beragama Kristen mau pindah agama Islam (baca : mualaf) dan rela menjadi istri kedua (poligami) dengan seorang mahasiswa Indonesia gara-gara dia hafal betul ayat-ayat Mariam di Al Quran. Adakah realita disini?

FITNA secara terang-terangan menyatakan kalau Islam adalah agama teroris dengan bukti-bukti ayat-ayat Al Quran dan rekaman-rekaman gambar sebagai bukti. Adakah realita disini?

DA VINCI CODE jelas-jelas menyatakan Yesus menikahi Maria Magdalena dan mempunyai keturunan. Dan keturunannya saat ini ada diantara kita. Adakah realita disini?

Ayat-Ayat Cinta disanjung-sanjung. Konon yang menonton sudah 3 juta orang. Fitna didemonstrasi dimana-mana. Bendera Belanda dibakar disana-sini. Da Vinci Code adem ayem saja diputar di Indonesia. Bahkan Novelnya diterbitkan oleh sebuah penerbit Islam. Adakah propaganda disini?

Yang lucunya, Presiden SBY beberapa hari yang lalu diberitakan menonton Ayat-Ayat Cinta di studio lounge XXI. Tiga hari berikutnya dia menyatakan mengutuk keras film Fitna. Adakah terlihat seorang kewibawaan seorang kepala negara yang bersifat nasionalis yang mewakili semua suku dan agama?

Dalam kotbahnya Pendeta Erick menuturkan PGI mengambil sikap antipati. Bersama PB NU, PP Muhammadiyah, KWI, PGI pernah menyurati Jan Peter Balkenende, Perdana Menteri Kerajaan Belanda, untuk menyatakan sikap penolakan terhadap film FITNA karya Geert Wilders di Indonesia. Surat itu tertanda 13 Maret 2008.

Dalam surat balasan tertanggal 20 Maret 2008, Jan Peter Balkenende menyatakan sikap hormat pemerintah Belanda terhadap komunitas umat beragama di Indonesia. Pemerintah Belanda menyatakan bahwa film Fitna adalah karya pribadi Wliders dan tidak mewakili pemerintah Belanda. Dan akan menyatakan sikap jika film itu sudah dirilis di internet dan media.

Copy kedua surat itu ada pada saya.

Terima kasih untuk keterangan Pendeta Erick Barus. Seorang pendeta yang begitu paham betul tentang Islam dan disertasi doktoralnya memang tentang itu. Berikut pengalamannya setahun tinggal di Mesir menjelaskan tentang kebenaran Ayat-Ayat Cinta itu.

Menutup penggejapen saya, saya katakan :

Bentuk-bentuk nabi palsu akan muncul dengan berbagai cara. Kaum-kaum ekstrim akan bermunculan. Propaganda agama dibalut dengan kisah-kisah dramatis. Seni menjadi media alternatif karena cepat bersinggungan dengan masyarakat. Inilah tanda-tanda akhir jaman. Hati-hati!