Kampil adalah tempat sirih pada masyarakat Karo. Biasanya isi kampil terdiri dari sirih, tagan kicik (tempat kapur), petak ranto, tutu-tutu (untuk menumbuk sirih), anak kampil, tembakau, gambir dan pinang. Biasanya juga digunakan di berbagai upacara yang disuguhkan sebagai pembuka pembicaraan misalnya dalam melamar wanita.

 

 

SEBUAH CERPEN JOEY BANGUN

Dari tadi Nini Karo1 hanya diam. Dia tidak peduli dengan suaraku. Dia larut dalam aktifitas rutinnya. Mencampur sirih, tembakau dan sedikit kapur ke wadah berbentuk tabung yang terbuat dari logam. Lalu memasukkan sedikit air dan menotoknya dengan alat panjang pipih yang juga berbentuk logam. Setelah belo2 itu jadi, ia memasukkannya ke dalam mulut dan mulai mengunyahnya.

“Ni, Santa ingin restumu,” kataku tidak sabar.

Nini Karo hanya melirik sedikit seolah tanpa peduli ia kembali melanjutkan mengunyah sirih di mulutnya. Suara kunyahannya terdengar. Serta merta gigi dan mulutnya menjadi berwarna merah kekuningan.

Aku sadar ia tidak mau diganggu kalau sudah erban belo3. Tapi aku yakin sebentar lagi dia akan berbicara. Tapi aku sudah tak sabar. Teman-temanku sudah menunggu diluar. Aku tidak mau mereka menunggu terlalu lama.

Akhirnya dengan tarikan nafas Nini Karo berdehem, “ehm…. kam mau kemana kin nakku?”. Dia melirikku liar. Aku tersenyum. Dia sudah menjawab harapanku. “Ke Brastagi, Ni. Kami mau membantu teman-teman disana,” kataku dengan penuh hormat,” Belanda berusaha merebut desa itu.”

Nini Karo memasukkan lagi sirih baru ke mulutnya. Dengan mengunyah dia berkata,“Jadi untuk apa kam kesini?”.

Pertanyaan Nini Karo adalah basa-basi. Dia sudah mengetahui maksudku. Dia hanya bertanya agar aku bisa dengan sabar menjelaskan kembali.

“Aku mohon restundu, ni.”

Sudah berulangkali aku memohon restu padanya. Dia pasti memberikan. Hanya menjadi kebiasaan Nini Karo kalau basa-basi adalah bumbu percakapan.

Dia menyadari perjuanganku. Sejak Bapa ditembak Belanda dan Nande tidak sanggup menahan derita, kehidupan menjadi berubah. Aku dirawat oleh Nini Karo. Bulang sudah lama mendahuluinya ke alam baka. Nini Karo mendidikku agar menjadi pemuda tangguh. Dia menanamkan agar suatu saat nanti aku bisa membalaskan dendam kedua orang tuaku. Didikannya berhasil mengubah hidupku.

Bapaku seorang Perlanja Sira4. Aku cukup bangga padanya. Dulu waktu aku masih kecil Bapa sering membawakan luah5 dari Medan. Kadang ia membawakan kami ikan, perhiasan, kain linen dan banyak lagi.

Aku sangat senang ketika dia memberiku sebuah buku berbahasa Belanda. Buku itu dipenuhi gambar-gambar negeri itu. Bapa tidak pernah mengatakan dari mana dia mendapatkan buku itu. Dia hanya berharap agar suatu saat nanti aku bisa membaca seperti orang-orang Belanda itu.

Adalah suatu perjuangan bagi kami orang Karo untuk membela dan melindungi hak yang kami miliki. Agar kompeni-kompeni itu tidak semena-mena merampasnya seperti yang mereka lakukan di Deli.

Konon santer terdengar Tanah Karo adalah target mereka berikutnya. Untuk itu semua orang-orang Karo Gugung6 berjaga-jaga. Tapi tidak mungkin hanya berjaga-jaga tanpa senjata di tangan. Maka kami berusaha mendapatkan bedil dan karben dari Medan. Untuk mendapatkannya tidaklah mudah. Salah satunya adalah dengan cara menyeludupkan di dalam pikulan para Perlanja Sira. Salah seorang dari Perlanja Sira itu adalah bapa.

Linangan air mata itu berawal dari Binjai. Ketika itu bapa dan teman-temannya sudah mendapatkan sejumlah bedil dari pedagang Penang. Dengan rapi mereka memasukkan bedil-bedil ke dalam pikulan dan menutupnya dengan barang-barang bawaan lain.

Ketika memasuki hutan Langkat sekelompok tentara Belanda mencegat bapa dan ketiga temannya. Mereka menggeledah pikulan para Perlanja Sira itu. Sebelum mereka menemukan bedil-bedil seludupan dalam pikulan itu, bapa dan teman-temannya berusaha lari. Tapi naas bagi bapa, sebutir peluru tertancap di jantungnya. Dua temannya yang lain juga mendapatkan nasib serupa. Hanya seorang yang berhasil melarikan diri. Dia meloncat ke sebuah jurang. Dan nasib telah menakdirkan agar dia selamat.

Teman bapa yang selamat itu membawa mayat ketiga temannya dengan kereta lembu ke Tanah Karo. Kami terpukul waktu jenazah Bapa tiba di halaman rumah kami. Nande tidak sanggup menahan derita. Berulang kali aku dan Nini Karo berusaha menghiburnya. Tapi takdir telah menentukan kalau dia tidak bisa hidup tanpa bapa. Sebulan kemudian nande menyusul bapa. Dia tidak sakit. Dia mate medem7.

Kami tidak menangisinya. Kami justru bahagia karena nande tidak lagi hidup dalam penderitaan. Dia telah bertemu Bapa.

Aku menganggap buku Belanda yang diberikan bapa dulu pembawa petaka. Kemudian aku membakar buku itu dipinggir Pancur Siwah. Ketika buku itu menjadi abu seolah ada dorongan spritual yang masuk ke dalam sukmaku. Kebencian pada Belanda berkali lipat mengusai batinku.

Dari seorang sahabat aku bergabung dengan laskar Simbisa8. Kami melakukan perang gerilya di seluruh Tanah Karo agar Belanda-Belanda itu tidak menyentuh Karo Gugung.

Setiap aku mau berangkat, aku selalu meminta restu Nini Karo. Nini Karo selalu memberi restu dan tuah-tuahnya. Sehingga tugas yang kuemban terlaksana dengan baik.

Nini Karo sangat disegani di Batukarang. Kawan maupun lawan sangat takut padanya. Kebiasaannya maba kampil dan bercengkrama sambil makan sirih dengan pernanden10 lain di Losd12. Disana dia akan makan sirih sambil bercengkrama dengan para pernanden. Candanya selalu membuat suasana menjadi hangat. Akhirnya selalu saja dia menjadi bintang dalam obrolan.

Keseganan itu berawal bulangku yang seorang Penghulu Kesain Jambur Tanduk Rumah Berneh. Batukarang sangat menyegani Bulang13. Kebijaksanaannya menjadi karisma tersendiri yang dimilikinya.

Aku sangat menyayangi Nini Karo. Aku sadar rasa sayangnya padaku sudah tidak bisa lagi tertakar. Untuk itu aku kembali kehadapannya untuk memohon doa restu.

“Anjar-anjar bas perdalinenndu, nakku. Ola kam lupa, sintapken ipen kalak Belanda ah14!” pedah Nini Karo.

Aku tersenyum mengangguk padanya. Dia mengeluarkan hasil kunyahan sirih dari mulutnya dan mengusap-usap dengan kedua telapak tangannya lalu mengusapkannya ke kepalaku. Tradisi ini menjadi ritus restu Nini Karo.

“Bujur Nini15!” kataku.

Aku memeluk tubuhnya. Dia menatap wajahku. Tidak ada linangan air yang mangaduk matanya.

Aku membalikkan tubuhku. Sesampai di pintu aku menoleh ke arahnya sekali lagi. Nini Karo tersenyum menganggukkan kepala. Aku melambaikan tangan lalu pergi. Tidak pernah aku sadari kalau hari itu terakhir kalinya aku bertemu dengan Nini Karo.

***

Kabar itu datang dari seorang saudara. Seorang senina sembuyak Bapa16. Dengan tergopoh-gopoh ia datang ke Brastagi untuk menemuiku. Ketika dia tiba kebetulan aku sedang membersihkan bedil.

“Santa, berita ceda ate man bandu…17” katanya menggantung kalimat. Aku diam memandangnya dengan penuh tanya.

Nini Karo enggo mate18!” lanjut orang itu.

Aku tersentak. Tubuhku menjadi lemas. Mendengar kabar itu teman-teman seperjuangan mencoba menghiburku. Tapi aku tidak terhibur. Mereka tidak tahu siapa Nini Karo.

Runggu adat kematen19 telah dimulai. Sangkep Nggeluh20 telah datang. Aku duduk bersila dipinggir jasad Nini Karo. Dia terbaring kaku. Pedah-pedahnya habis sudah. Gendang kematen telah dimulai.

Jakarta, 31 Maret 2005

Pk 11.26 WIB

*) Didedikasikan untuk Nini Karo yang dipanggil Tuhan pada tanggal 1 April 2005

.

1. Nini Karo : Nenek Karo.Pangggilan untuk nenek beru Karo.

2 .Belo : Sirih.

3. Erban belo : Membuat sirih.

4. Peranja Sira : Artinya pemikul garam. Pedagang yang membawa barang dagangan dengan pikulan, dibawa dari Karo dataran tinggi ke dataran rendah atau sebaliknya. Selain membawa garam biasanya mereka membawa ikan kering, linen, perhiasan, tembikar, periuk, senapang, bumbu, timah, geretan api, kelapa, sirih dll.

5. Luah : Oleh-oleh.

6. Karo Gugung : Karo dataran tinggi.

7. Mate Medem : Mati diwaktu tidur.

8. Simbisa : Laskar pejuang Karo.

9. Maba Kampil : Membawa tempat sirih.

10. Pernanden : Ibu-ibu.

11. Losd : Tempat pertemuan suku Karo. Biasanya siang hari digunakan sebagai pasar.

13. Bulang : Kakek

14. Anjar-anjar bas perdalinenndu, nakku. Ola kam lupa, sintapken ipen kalak Belanda ah : Hati-hati diperjalanan nakku. Jangan lupa, putuskan gigi orang Belanda itu.

15. Bujur Nini : Terima Kasih Nenek.

16 Senina Sembuyak Bapa : Sepupu dimana bapak kakak beradik.

17. berita ceda ate man bandu : Berita duka untukmu.

18. Nini Karo enggo mate : Nenek Karo sudah meninggal.

19. Runggu adat kematen : Musyawarah adat orang mati.

20. Sangkep Nggeluh : Tatanan hidup orang Karo yang terdiri dari Kalimbubu, Sembuyak dan Anak Beru