Setiap orang di dunia ini dianugerahi bakat. Bakat biasanya dihubungkan dengan keahliannya dalam berkesenian. Ada bakat yang dilakukan untuk sekedar hobby mengisi waktu. Ada juga bakat yang akhirnya menjadi mata pencaharian.

Begitu juga aku,

Umur 6 tahun aku sudah sadar bakatku melukis. Umur 13 tahun bakatku main drama. Umur 17 tahun bakatku main musik. Umur 20 tahun bakatku adalah fotomodel. Umur 23 tahun bakatku jadi aktor. Umur 25 tahun aku sadar bakatku menjadi sutradara.

Dan sekarang, aku putuskan bakatku menjadi pekerjaanku. Apakah aku senang?

Banyak orang kagum pada bakatnya. Begitu juga aku. Orang bilang aku penuh bakat. Multi talenta. Harusnya aku bersyukur dengan bakat-bakatku itu.

Tapi orang-orang tidak pernah menyadari pengaruh bakat-bakatku dalam hidupku. Aku tidak bisa hidup selayaknya orang-orang biasa. Aku dipenuhi orang-orang yang banyak menuntut. Menuntut eksistensi bakatku itu.

Aku dianugerahi untuk bakat mencipta. Karena dari situ aku bisa mengais rezeki dan kemudian baru memenuhi kebutuhan hidup. Oh Tuhan, kenapa aku tidak bisa hidup seperti orang banyak?!

Tuhan mengapa Kau anugerahkan bakat itu padaku? Kalau Kau memang sayang padaku, berikan daya cipta pada bakatku.

Amin!