Jujur,

Ini adalah sebuah kehormatan besar yang diberikan pihak Sembiring Brahmana kepada saya. Kehormatan untuk mencari jati diri asal muasal merga itu. Padahal saya masih muda. Paling tidak untuk menjadi seorang budayawan, usia saya masih terlalu muda. Tapi kenyataan dan kepercayaan telah menghadapkan saya pada proses untuk menjadi budayawan itu sendiri.

Pertemuan diawali di gereja GBKP Jakpus. Ketika itu beberapa tokoh gereja memanggil saya untuk sharing tentang acara Mburo Ate Tedeh Brahmana Se-Jabodetabek tanggal 13 April 2008. Dengan berani saya mengatakan saya akan membacakan cerita/monolog tentang asal usul Brahmana. Mereka kaget dan langsung tertarik. “Saya akan menyiapkan segalanya!” kata saya dengan pasti.

Data saya kumpulkan dari beberapa buku dan literatur. Terutama dari buku Sejarah Karo dari Zaman ke Zaman karya Kongsi Brahmana (Brahma Putro). Beberapa wawancara saya lakukan di Jakarta. Berhubung untuk pulang ke Tanah Karo sudah tidak ada lagi waktu.

Untung saja bapak Benar Purba mau memberikan sedikit informasi. Bapak Ganti Brahmana berulangkali merevisi hasil riset saya. Maklum, dia adalah sesepuh Brahmana Limang, putra pengulu Brahmana Limang.

Hasilnya sudah fix seperti yang saya muat di website saya. Tentu saja bukan itu yang akan saya bacakan di acara. Itu adalah kutipan copyan yang akan dibagikan pada saat acara. Saya membuat naskah sendiri. Naskah yang berbentuk monolog. Karena memang untuk membacakan ini harus dibawa dengan cara lain. Bukan dengan cara gaya berpidato. Orang pasti akan cepat ngantuk.

Tentang naskah monolog asal usul Brahmana, hanya saya yang punya. Itu rahasia seniman. Seperti biasa, saya akan tambahkan improvisasi di panggung. Tentu saja semuanya tergantung keadaan.

Seperti pesan panitia pada saya. “Jangan jadikan sejarah asal usul Brahmana ini jadi alat untuk memecah belah. Tapi untuk mempersatukan semua Brahmana.” Tentu saja hal ini menjadi visi dan misi saya di acara ini. Mempersatukan semua kalangan. Terutama yang punya hajatan. Yaitu Brahmana.

Saya jadi teringat ketika satu pertanyaan timbul saat kami rapat di satu restoran milik bapak Ganti Brahmana di Menteng, seorang anak beru Brahmana, Sahrul Sinulingga bertanya pada saya, “Setelah menulis tentang asal usul Brahmana, apa kam tahu juga tentang asal usul mergandu?”

Saya menggeleng menjawab, “Tidak!”

Mereka menatap saya dengan pandangan penuh tanya. Langsung saya jawab, “Saya bekerja tergantung orderan. Kalau besok lusa merga yang lain ingin mencari asal usulnya saya pasti mendapatkannya.”

Mereka langsung tertawa, “Dasar Seniman!”

Untuk itulah saya harus banyak belajar. Banyak belajar untuk menjadi seorang Budayawan. Setelah Natal di Pondok Gede tahun 2005 di buku acara tertulis nama saya sebagai Budayawan Karo. Besok kembali lagi akan terjadi hal yang sama.

Untuk itu saya haturkan beribu terima kasih pada Sang Paduka Maha Pencipta Budaya!