Bayangkan,

Beberapa jam sebelum pentas tiba-tiba hp saya berdering, dan pimpro drama Ginting Suka mengabarkan kalau salah seorang pemain mengundurkan diri. Suaminya tiba-tiba kena serangan jantung. Pemain itu yang memerankan Guru Sibaso. Pimpro memberikan alternatif nama baru sebagai pengganti. Langsung saja saya tolak. Bukan apa-apa, saya tidak yakin dengan pilihannya. Saya pun harus naik panggung dan memerankan peran guru itu. Cuma sedikit dirubah, namanya bukan lagi Guru Sibaso tapi Guru Mbelin.

Untung saja,

Kenapa untung? Untung saja pemain yang memerankan Guru Sibaso yang mengundurkan diri. Perannya tidak ada dialog. Hanya menari. Kalau saja ada pemain lain yang full dialog yang berhalangan. Bisa dibayangkan betapa stressnya saya. Puji Tuhan, mungkin ini merupakan terbaik.

Tawaran menangani drama ini datang bulan Januari lalu. Dari kak Prosidawaty Tarigan. Dia sering mendengar saya berkarya namun belum pernah melihatnya langsung. Itu makanya dia ingin mencoba saya. Ketika menangani GBKP Rawamangun juga karena kak Wati. Itu sebabnya saya mengucapkan beribu terima kasih padanya. Karenanya saya bisa banyak berkenalan dengan orang-orang baru dan pengalaman baru.

Cuma dari awal latihan, saya tidak pernah mendapatkan yang terbaik. Layaknya jika saya pelukis, saya tidak pernah diberikan canvas dan cat yang terbaik. Padahal angan-angan saya adalah menghadirkan terbaik. Seperti jadwal latihan yang serba kacau menjadi bumbu proses produksi ini. Pernah karena hancurnya penjadwalan latihan, saya hampir memutuskan untuk membatalkan drama ini. Bukan apa-apa, saya punya standar, dan saya harus mendapatkannya. Orang-orang dalam produksi ini sebetulnya tidak bisa memenuhinya. Tapi Tuhan telah merubah pikiran saya.

Dari dulu memang saya paling wanti-wanti kalau melatih ibu-ibu. Ada beberapa yang mengatakan, “Nanti pas hari H pasti udah bagus.” Masak di latihan tidak bagus terus pas hari H pasti bagus. Ada-ada saja. Bukankah latihan merupakan proses untuk menjadi bagus. Di lain pihak, seperti kebanyakan saya mengarahkan ibu-ibu, tiba-tiba ada ibu yang berubah jadi sutradara dadakan. Hal-hal signifikan seperti pengaturan blocking dia mengajari saya. Kadang kala saya harus maklum, ibu ini tentu saja belum tahu job des saya.

Apa yang tadi dipersembahkan sudah maksimal. Mungkin sedikit kendala adalah soundsystem yang tidak fokus. Meminjam dari kata Pak Windra Tarigan (promotor event organizar Paramata), operator soundsystem yang tidak memenuhi standar. Selain kendala soundsystem, semuanya sudah baik.

Tentu saja termasuk teman-teman saya di musik tradisional. Mereka bermain apik, apalagi di sesi gendang Guru. Sampai Junianto Meliala berkata, “Sekarang kita sudah satu paket dengan Joey, dimana Joey ada disitu kita ada.” Dua kali saya diundang mengisi acara dalam dua minggu terakhir ini, dua kali saya menyertakan mereka sebagai pengisi musik ilustrasi karya saya. Padahal ada di salah satu tempat, saya harus memaksakan seseorang membayar dengan uang pribadinya agar gendang Karo itu disertakan padahal panitia sudah menolak. Tentu saja semua alasannya adalah demi kelestarian kesenian Karo yang kita cintai. Kalau bukan kita lagi yang mencintai dan melestarikan budaya kita, siapa lagi?

Saya ucapkan juga terima kasih untuk Malvinas Pinem yang telah memberikan terbaik dalam olahan biolanya. Demikian pula di keyboard bang Arnis Ginting.

Akhir kata,

Drama ini bukan merupakan yang terbaik dari semua karya saya. Bukan karena saya tidak mampu memberikan terbaik. Namun selayaknya seorang pelukis, saya tidak diberikan canvas, kuas, dan cat yang terbaik. Lukisan tetap jadi, namun masih jauh dari harapan saya.