Jujur, ini adalah sebuah kesempatan yang harus kumanfaatkan. Kesempatan dimana aku memperoleh beasiswa untuk sebuah ilmu yang disebut Manajemen Organisasi Budaya (MOB). Apalagi yang memberikan ilmu tersebut adalah lembaga top semacam Yayasan Kelola dan Sekolah Tinggi PPM.

Semua peserta yang lolos seleksi dikumpulkan di hotel Gren Alia di Cikini tidak jauh dari kompleks Taman Ismail Marzuki. Aku check in di hotel hari minggu itu jam 7 malam karena siangnya aku masih harus menemui beberapa teman. Ternyata teman sekamarku berasal dari Semarang, seorang program director dari Importal.

Hari pertama, aku bertemu banyak teman baru. Mereka tidak hanya seniman dari teater, tari, musik, seni rupa, bahkan ada dari beberapa gallery. Yang pasti mereka semua punya jabatan di organisasi masing-masing. Untuk itu maka pihak Kelola memilih kami untuk mengikuti program ini.

Hari pertama kami digodok untuk merancang visi dan misi organisasi, bagaimana menggunakan sistem stakeholder dan analisis SWOT. Hampir tiap malam pula kami diberikan tugas untuk dikerjakan di hotel. Tugas dibagi menurut kelompok dan berdasarkan masing-masing latar belakang. Misalnya aku, bergabung dengan kelompok teater.

Kami banyak diajarkan bagaimana cara mengelola organisasi yang baik dan benar. Dan selalu berpikir untuk terus berkarya walau harus mengabdi dan pintar mengelola materi. Yang paling menarik tentu saja ketika Linda Hoemar Abidin menjadi pembicara dalam topik Fundraising dan Penulisan Proposal. Aku banyak sekali mengajukan pertanyaan dalam sesi ini. Berhubung pertunjukan Pawang Ternalem semakin dekat.

Anton Asmonodento, program director musiklasika community menjabarkan proposal pertunjukan yang pernah dipentaskannya. Teman ini banyak ditanya oleh pihak kelola dan kami tentang penulisan proposal yang dibuatnya. Tentu saja berbagai pertanyaan itu menjadi masukan bagi kami semua.

Aku langsung mengacungkan tangan untuk mempersentasikan proposal Pawang Ternalem. Di depan, aku banyak mempersentasikan tentang Pawang Ternalem, visi dan misi, teknik Fundraising, hingga promo dan marketingnya. Teman-teman dan pihak Kelola terlihat puas dengan persentasiku. “Seniman itu harus kaya. Tidak hanya dari karya tapi juga materi. Sudah tidak jamannya lagi seniman miskin,” kataku di depan mereka sambil disambut tawa setuju mereka.

Di sela-sela kesibukan kami, Rabu malam kami menonton film bisu karya Fritz Lang di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Tiketnya kuperoleh di Goethe Institut dan kubagi-bagikan gratis ke teman-teman. Mereka sangat senang. Apalagi beberapa teman daerah belum pernah ke GKJ.

Kamis malam kami jalan-jalan ke Plaza Indonesia dan ditutup dengan nongkrong di jalan Sabang. Berhubung aku dari Jakarta, aku yang jadi guide dalam setiap perjalanan ini.

Jumat malam, penutupan, pihak Kelola mengundang kami untuk makan malam bersama di sebuah restoran di Kemang. Di tempat itu pula kami diberikan wejangan-wejangan terakhir dari pihak Kelola. Pihak PPM memberikan sertifikat pada kami. Kami menutup dengan berfoto bersama.

Pesan ibu Amnan pimpinan Kelola, istri penari Sardono W. Kusumo pada saya sewaktu pulang, “Kelola akan mendukung Pawang Ternalem. Karena kami lihat teknik manajemen yang kamu buat baru pertama diterapkan di Indonesia. Ini menarik. Mungkin bisa juga diterapkan oleh seniman-seniman muda. Nanti hasil review pertunjukannya bisa diberikan pada Kelola.”

“Tentu saja,” kata saya. Saya kembali ke rumah dengan semangat baru. Pengalaman baru, ilmu baru, teman-teman baru, dan tentu saja relasi baru. Ayo Pawang Ternalem, mari kita jalan!