Tadi sore aku bertemu seorang teman yang aku pilih sebagai fundraising (penggalang dana) untuk pertunjukanku Pawang Ternalem 25 Oktober nanti. Teman itu aku pilih karena kedekatannya dengan tokoh-tokoh Karo. Kapasitasnya sangat kubutuhkan untuk menjalankan produksi ini.

Sesuai janji, kami bertemu di sebuah kede kopi milik seorang Karo di Cililitan. Sebelum sampai ke tempat itu ternyata aku dihadang massa di UKI yang sedang demo karena kenaikan BBM. Walau begitu, akhirnya aku bertemu juga dengan teman ini.

Berbicara sebentar, akhirnya aku mengeluarkan kertas perjanjian kerjasama dan akhirnya kami menandatangi surat itu diatas materai yang menegaskan keseriusan kami dalam pelaksanaan pertunjukan ini. Aku memberikan 5 buah proposal padanya. Dia katakan dalam waktu dekat dia bertemu dengan orang Karo paling tinggi jabatannya di negeri ini. Dan tentu saja aku tersenyum mendengarnya.

Kami bicara sampai jam 7 malam dengan ditemani 2 teman lain. Aku merasa aneh, teman ini banyak menerima SMS dan telepon. Sebagian seperti bentuk laporan. Aku baru tahu setelah teman itu menghidupkan speaker handphonenya agar penelepon yang berbicara dengannya terdengar juga oleh kami.

Ternyata teman itu adalah seorang Dalang. Dalang penggerak demo itu. Dia adalah seorang konseptor sejati. Bayangkan, dia memantau demo di UKI dari tempat kami duduk. Cililitan dari UKI tidak terlalu jauh. Pantas saja dia memilih tempat pertemuan kami di tempat ini.

Dalang sama saja seperti sutradara. Dia pengatur cerita. Cerita tentu saja tidak harus berjalan sesuai rencana. Ada babak-babak menentukan. Disitu juga ada negoisasi agar cerita terlihat lebih dramatis. Kalau seorang sutradara, negoisasi akan berlangsung antara produser dan penulis cerita. Kalau Dalang seperti yang saya maksud dia akan bernegoisasi dengan pejabat terkait dan kaum militan yang biasa disebut mahasiswa.

Kalau saja aku tahu dari awal tempat yang kududuki itu adalah pemantau, aku pasti cepat-cepat pindah. Bukan apa-apa, mungkin saja aku diculik karena dianggap aktifis. Tentu saja Pawang Ternalem itu tidak pernah jadi.