DBD

Terus terang, aku tidak pernah opname. Sungguh tidak pernah terrpikir olehku untuk mendekam di rumah sakit berhari-hari tanpa aktifitas. Tapi penyakit selalu datang seperti hantu. Dia bisa datang kapan saja tanpa kita mau. Siap tidak siap kita harus siap menerimanya. Seperti deman berdarah yang tiba-tiba menggerogoti tubuhku. Padahal beberapa hari sebelumnya aku merasa sehat walafiat.

 

Jumat itu aku sudah tidak kuat lagi. Bayangkan, dengan mengerang tak tertahankan aku roboh di depan pintu kamar mandi. Aku tidak kuat lagi. Teman-teman kosku memapahku. Mereka memberiku perawatan dan membawaku ke sebuah klinik.

 

Esoknya aku memutuskan untuk di rawat di rumah sakit PGI Cikini. Banyak handai taulan yang datang. Dari gereja, saudara, teman sejawat dan lain-lain. Selama sakit aku harus berjibaku dengan terombosit yang mencapai 17.000 ditambah demam hingga 40,5 derajat.

 

Aku panggil mama! Dia harus berada di sisiku dan merawatku. Dia langsung terbang dari Medan dan menemaniku. Atas perawatannya akhirnya aku berangsur-angsur pulih. 9 hari aku mendekam di kamar itu. Tidak bisa berjalan. Kerjaan hanya tidur, melamun, dengerin musik, dan menikmati aktifitas perawat-perawat yang lumayan itu.

 

DBD sudah cukuplah menggerogoti tubuhku!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s