Di sebuah kamar beberapa hari yang lalu, saya merenung, “Mungkinkah semua yang terjadi adalah bagian dari sebuah kisah dramatis Pawang Ternalem?” Hari itu tepat hari ke-5 saya dirawat di rumah sakit PGI Cikini karena penyakit demam berdarah yang saya derita. Yang uniknya, penyakit itu justru datang beberapa jam setelah saya menuliskan catatan panggung berjudul SPIRIT yang saya tuliskan di milis ini minggu lalu.

 

Saya jadi teringat fenomena sandiwara PUTRI HIJAU yang pernah dipentaskan di Medan. Tiba-tiba saja pemeran Putri Hijau dan sutradaranya mati secara misterius setelah mementaskan sandiwara itu. Mungkinkah Pawang Ternalem akan mengalami hal yang sama?

 

Tidak!!

 

Saya berani jawab itu. Penyakit yang saya derita tidak ada sedikitpun hubungannya dengan tahyul. Penyakit itu datang secara alami. Dan tentu saja saya tetap bersyukur pada Tuhan, karena penyakit itu datang tepat sebelum pertunjukan. Bagaimana jika penyakit itu datang justru pada saat pertunjukan? Bisa dibayangkan!

 

Saya berani bilang, walau santer terdengar fenomena itu disana-sini, “Hidup saya, Tuhan yang memberikan dan Tuhan juga yang berhak mengambilnya! “

 

Di rumah sakit, saya mendapat banyak inspirasi. Saya banyak memperhatikan tingkah polah orang-orang sakit, saat mereka kesakitan, atau tingkah dokter ataupun perawat. Belum lagi pengunjung orang sakit dengan berbagai gaya mereka. Mereka telah memberikan inspirasi bagi saya!

 

Saya kembali memperhatikan naskah Pawang Ternalem yang saya tulis. Lalu saya renungkan dengan inspirasi yang saya dapat. Saya kemudian mengerti, saya harus melakukan banyak lagi improvisasi pada naskah ini agar dramatisnya lebih terasa.

 

Tokoh-tokoh yang ada dalam cerita seperti Pawang Ternalem, Beru Patimar, Datuk Rubia Gande, Tulak Kelambir Gading, Dara, Pengulu Jenggi Kemawar, Kemberahen Pengulu, Nande Dara, Perlanja Sira, Guru Pak-pak Pitu Sedalanen, dan lain sebagainya telah saya bangun dengan baik.

 

Beberapa karakter memang saya bangun untuk menumbuhkan alur dramatis. Misalnya Dara. Karakter ini saya ciptakan lucu dan penuh dengan gurauan segar. Dia adalah senina sipemeren Pawang Ternalem. Dia harus bisa menghibur Pawang Ternalem di kala senang ataupun sedih. Bahkan dia berperan sebagai mak comblang antara Pawang Ternalem dan Beru Patimar.

 

Dari segi pembangunan alur cerita, tingkat-tingkat dramatis harus dibangun dengan penuh kejutan. Misalnya Datuk Rubia Gande, sosoknya tidak hanya sekedar hanya sebagai dukun sakti guru Pawang Ternalem. Kemunculannya tiba-tiba saat yang tepat membuat sosok ini lebih pada roh pembimbing ataupun malaikat kiriman Allah.

 

Naskah yang saya tulis harus banyak direvisi lagi. Berhubung latihan perdana dimulai sebulan lagi. Menurut rencana, naskah ini akan di dramaturgi/editing oleh bapak Jabatin Bangun, SSn, MSi, Etnomusikolog( Sekjen Dewan Kesenian Jakarta) dan bapak Josep Ginting, SSn, Aktor dan Sutradara (Dosen Teater Institut Kesenian Jakarta) hingga didapat sebuah model naskah yang layak dipentaskan.   

 

Pawang Ternalem harus dibangun dengan unsur-unsur dramatis namun tidak berlebihan. Sehingga penonton nanti tidak hanya mendapat sebuah hiburan segar namun juga sarat dengan pesan-pesan moral. Unsur-unsur itu dalam bahasa Latin disebut Dramatix.

 

 

Terima kasih Tuhan Yesus yang telah memulihkanku untuk melanjutkan perjuangan ini…..

 

 

Jakarta, 11 Juni 2008 23.08

 

 

Joey Bangun

Direktur Artistik Teater Aron