Menyambut pertunjukan Pawang Ternalem 25 Oktober di Taman Ismail Marzuki nanti, komunitas seni Teater Aron akan merilis sebuah novel berjudul “Pawang Ternalem”. Novel ini ditulis Joey Bangun. Novel Pawang Ternalem akan menjadi buku ke-3 karya Joey Bangun setelah buku “Puisi-Puisi Joey Bangun” (Pustaka Bangun Mulia 2004), “Kumpulan cerpen Kisah Karo Tempo Dulu” (kerjasama Pustaka Aron dan Radio Karo Access Global 2006) yang dicetak oleh Kesaint Blanc.

Buku ini bukan buku pertama yang menceritakan tentang Pawang Ternalem. Sebelumnya Pdt M. Joustra menulis buku “Beru Patimar, anak Pengulu Jenggi Kumawar” terbitan Leiden – S.C. van Doesburgh 1914. Buku karya M.Joustra ini seluruhnya menggunakan bahasa Karo lama dengan logat Sibolangit kental. Berhubung pendeta ini lama tinggal di Sibolangit bertugas untuk penginjilan.

Buku “Sembiring Mergana tergelar : Pawang Ternalem, Anak Pengulu Jenggi Kumawar Beru Patimar” karya Rumpia Bukit 1976 nyaris sama dengan buku yang ditulis M. Joustra. Cerita dan bahasanya hampir mirip. Hanya Rumpia Bukit menggunakan ejaan baru dan menambahkan beberapa puisinya dalam cerita.

Jason Perangin-angin menulis buku berjudul “Pawang Ternalem” terbitan Sari Buana Bandung 1981. Buku ini dikonsumsi anak-anak. Gaya bahasanya ditambah dengan beberapa gambar karikatur Pawang Ternalem menguatkan buku ini seperti sebuah buku seri dongeng cerita rakyat.

Dulu di era 1980an ada diterbitkan buku cergam (cerita bergambar) Pawang Ternalem. Buku ini seperti layaknya komik bergambar yang memang sedang ‘booming’ saat itu.

Bagaimana dengan novel Pawang Ternalem terbitan 2008 ini?

Saat ditemui di kamar kerjanya di rumahnya daerah Sumur Batu Jakarta Pusat, Joey Bangun menunjukkan draft novel Pawang Ternalem yang ditulisnya. Di meja kerjanya terlihat banyak sumber-sumber riset sebagai modal penulisan novel itu. Buku-buku Pawang Ternalem yang pernah ditulis oleh pengarang terdahulu terlihat bertumpuk di salah satu sisi meja. Di sisi lain meja kerjanya terlihat VCD Dokumenter “Mencari Jejak Pawang Ternalem” yang belum di edit. Ada juga beberapa foto lokasi kampung Jenggi Kemawar. Rekaman digital hasil wawancara yang sudah di convert dalam bentuk WAV dan MP3. Tumpukan kertas hasil corat-coretnya selama penelitian di Jenggi Kemawar. Termasuk hasil karyanya sebuah denah/map yang menggambarkan Jenggi Kemawar.

“Ini semua modal saya dalam menulis novel dan naskah drama Pawang Ternalem,” kata Joey Bangun tersenyum. “Sudah 6 bulan ini sumber-sumber informasi ini saya biarkan bertumpuk di meja ini. Agar semangat Pawang Ternalem tetap terjaga.”

“2 Minggu lagi novel ini akan selesai. Lalu kemudian akan diedit oleh teman-teman saya editor majalah Cosmopolitan, ” kata Joey Bangun lagi. Kebetulan di majalah Cosmopolitan- Men edisi Desember lalu Joey Bangun menjadi kontributor tamu. Dia menulis sebuah artikel lifestyle berjudul “Bercinta ala Don Juan.” Saat itu selain Joey Bangun, kontributor tamu majalah Cosmopoltan ada sederetan nama besar seperti Indra Herlambang, Hanung Bramantyo, Moammar Emka.

Novel Pawang Ternalem akan menjadi bagian dari program kerja Teater Aron menuju pertunjukan Pawang Ternalem 25 Oktober nanti. Novel ini menurut rencana akan dirilis sebelum pertunjukan. “Belum tahu apakah novel ini akan bersamaan launching dengan film dokumenter Agustus nanti. Soalnya kita masih akan melalui beberapa proses seperti editing, layout, belum lagi cetak yang akan memakan waktu lebih 2 minggu,” tambah Joey Bangun.

Menurut Joey sudah ada penerbit yang bersedia menerbitkan novel setebal 200 halaman ini. Tapi joey masih belum mau menyebutkan siapa penerbit itu. “Yang pasti,” kata Joey, “Novel Pawang Ternalem akan kembali memperkaya khazanah kesusasteran Karo yang mulai melempem dua tahun terakhir ini.”

Gaya bahasa yang dipakai Joey di novel Pawang Ternalem tetap sama seperti dengan gaya bahasa yang biasa dipakainya. Gaya bahasanya bisa disimak di cerbung (cerita bersambung) Sibayak yang pernah dimuat di Sora Mido 18 episode. Cerbung Rudang yang dimuat di Sora Sirulo sampai sekarang. Cerpen Belobat dan Tiga Panah, 9 Desember 1945 yang pernah dimuat Sora Mido. Inlander yang dimuat di berbagai milis. Begitu juga 12 cerita fiksi Karo tempo dulu dalam bukunya Kisah Karo Tempo Dulu. Hampir semua gaya bahasanya beraliran roman. Mengingatkan kita akan buku-buku roman angkatan Balai Pustaka 1920an.

Tim kreatif Teater Aron menyarankan sebelum menonton pertunjukan Pawang Ternalem agar membaca novelnya lebih dulu. Apa yang diceritakan di novel hampir sama dengan pertunjukannya. Semua tokoh, dialog, dan lokasi kejadiannya sama. Hanya di novel, pengkarakteran tokohnya akan lebih dalam. Di novel, kita akan merasa lebih dekat dengan tokohnya dibandingkan dengan di drama yang hanya berdurasi 2 jam. Kita lebih merasakan sisi psikologis tokohnya. Apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan, oleh sang tokoh akan lebih terasa di novel. Sehingga nanti saat pertunjukan, penonton yang sudah membaca dulu novelnya akan lebih mengerti dan menyelami penokohan para tokoh-tokohnya.

“Seperti kita membaca novel dan menonton filmnya. Begitu juga kita mempersiapkan konsep Pawang Ternalem ini. Membaca novel kemudian menonton dramanya,” kata sutradara pengoleksi novel, skenario film, dan film Trilogy The Godfather ini.

“Tahapan yang saya lakukan menuju pertunjukan Pawang Ternalem ini adalah menulis novelnya lebih dulu. Lalu dari novel diadaptasi menjadi naskah drama. Lalu saya akan merealisasikannya dalam bentuk drama. Tentu saja apa yang diceritakan di novel tidak bisa begitu saja bisa direalisasikan di drama. Bahasa di novel lebih luas, sedangkan di drama kita terbatas pada bahasa panggung yang disebut ruang dan waktu,” kata sutradara yang masih melajang ini.

“Yang pasti ketika saya menulis novel, naskah drama, kemudian menjadikannya sebuah drama, saya merasakan kreatifitas saya betul-betul dituntut disini. Nilai pertunjukan ini akan menjadi lebih bermakna bagi saya pribadi. Mudah-mudahan juga akan dirasakan oleh masyarakat Karo keseluruhan, ” tutur Joey Bangun penuh semangat.

Ketika ditanyakan selain novel apalagi yang sedang disiapkan oleh Teater Aron menyambut pertunjukan Pawang Ternalem.

“CD Soundtrack! Kita sedang menyiapkan CD Soundtrack juga. Ada 8 lagu baru disini. Khusus diciptakan untuk Pawang Ternalem. Para pemain yang akan menyanyikannya. Itu sebabnya saya mencari beberapa pemain utama yang juga bisa nyanyi. Lagu-lagu ini akan dinyanyikan secara live di pertunjukan nanti. Memproduksi pertunjukan Pawang Ternalem harus seperti memproduksi sebuah film layar lebar. Karena disinilah industri seni pertunjukan Karo itu akan lahir, ” kata Joey Bangun yang baru saja bekerja sebagai asisten sutradara Hanung Bramantyo untuk film layar lebarnya “Doa Mengancam” yang akan dirilis Juli nanti. Joey Bangun yang lama kerja di film bersama MD Entertainment ditarik sebagai asisten oleh sutradara Ayat-Ayat Cinta itu untuk membantu mengarahkan ratusan talent yang terlibat dalam film ini.