Sempat saya merinding saat latihan hari pertama Pawang Ternalem. Bukan apa-apa, tiba-tiba saja hujan mengguyur Jakarta tepat saat kami memulai latihan. Dan ini menjadi hujan pertama di Jakarta setelah lebih dari 2 bulan! Yang membuat saya lebih heran hujan itu berhenti setelah kami menyelesaikan latihan. Setelah itu. di hari berikutnya tidak pernah lagi turun hujan di Jakarta. Hanya saat latihan pertunjukan Pawang Ternalem itu!

Filosofi turun hujan sangat dekat dengan kebudayaan Karo. Saya jadi teringat ritus ‘Ndilo Wari Udan’ yang mempunyai muatan sakral dalam mengharapkan kedatangan hujan demi kepentingan hasil panen dan kemujuran kuta.

Di Seberaya, ritus kesenian ‘Tembut Gundala-Gundala’ jika akan dipentaskan, biasanya sehari sebelumnya akan turun hujan. Artinya alam dan segenap penjurunya akan merestui ritus ini dulu sebelum memulainya.

Seorang teman bilang pada saya, jika orang Sembiring melakukan kerja-kerja Nereh Empo dan saat di pesta adatnya turun hujan maka niscaya keluarganya kelak akan hidup bahagia. Itu tanda-tanda alam untuk melihat berkat perkawinan.

Saya jadi teringat Pawang Ternalem juga bermerga Sembiring dan keterkaitannya dengan kampung Seberaya juga ada. Tapi apakah ketika hujan itu turun maka saya akan mengkhawatirkannya? Tentu saja tidak!

Hampir setahun saya menyiapkan pertunjukan ini. Tentu saja dengan koridor-koridor yang semestinya. Mulai dari melakukan riset, menyiapkan materi, menghubungi pihak sponsor dan donatur, hingga perekrutan kru dan pemain.

Hari Minggu tanggal 20 saat Syukuran dipukul gong tanda dimulainya proses produksi. Seminggu kemudian dimulai proses produksi dengan latihan perdana di Taman Ismail Marzuki. Dan proses produksi ini akan memakan waktu 3 bulan hingga puncaknya di pertunjukan tanggal 25 Oktober nanti.

Tanggung jawab saya semakin besar. Bak seorang pelaut, saya sudah menyiapkan segalanya. Mulai perbekalan makanan, baju ganti, obat-obatan, dan lain sebagainya hingga saya siap untuk pergi melaut dengan resiko akan menentang berbagai badai yang kapan saja bisa menghabiskan saya.

Saya tidak pernah takut. Saya sudah menyiapkan perbekalan. Saya siap melaut dan mengarahkan layar menuju tujan dan perahu yang saya kemudikan bernama PAWANG TERNALEM. Kalau tiba-tiba saja suatu saat ada badai, saya siap menghadapinya dan menanggung resiko.

Start telah dimulai. Pertempuran akan terjadi. Saya sudah siap fisik, mental, dan spritual. Begitu juga teman-teman yang bekerjasama dengan saya untuk mewujudkan pertunjukan ini. Semangat mereka tetap harus dijaga agar hasil akhir yang diharapkan terwujud.

Jika Minggu kemarin tiba-tiba turun hujan, harusnya saya tidak perlu khawatir. Bukankah dalam filosofi Karo tanda turun hujan artinya kemujuran. Pasu-Pasu dari alam semesta. Pawang Ternalem sudah menunjukkan ‘pasu-pasunya’ pada perjuangan ini. Itu sebabnya saya harus menghargai pasu-pasu sang bulang dengan hasil karya saya kelak.

Jakarta, 010807 11.27

Joey Bangun

Direktur Artistik Teater Aron