Dalam hidup ada perjalanan. Ada juga perjuangan.

Pawang Ternalem adalah hidup saya kini. Didalamnya ada perjalanan. Begitu juga perjuangan. Itu sebabnya dalam perjalanan merealisasikan Pawang Ternalem, yang saya lalui adalah sebuah perjuangan. Secara pribadi, Pawang Ternalem adalah bentuk pengejawantahan artikulasi cita-cita idealisme saya sebagai seorang Karo yang telah berani atau nekat mendedikasikan hidup pada seni drama.

Saya tidak pernah melalui perjalanan Pawang Ternalem tanpa perjuangan. Pawang Ternalem tidak pernah melalui jalan tol yang bebas hambatan. Justru untuk merealisasikan idealisme saya ini saya melalui jalan seribu liku-liku. Saya jadi teringat di masa kecil saya berkali-kali muntah saat melalui sebuah jalan lintas Sumatera di dekat kota Padang yang berliku-liku. Saat itu kami sekeluarga bertamasya ke Danau Singkarak. Jujur, di Pawang Ternalem jalan berliku-berliku itu telah menyebabkan saya muntah. Sebetulnya saya tidak kuat lagi. Tapi itulah hidup, ketika kita menginginkan sesuatu maka untuk merealisasikannya kita harus memperjuangkannya walau harus muntah sekalipun.

Nekat….
Kata-kata itulah yang selalu keluar dari orang-orang sekeliling saya. Saya terlalu nekat membuat sebuah konsep yang mereka anggap sangat raksasa. “Ini proyek raksasa! Mana mungkin kam kerjakan sendirian,” kata seorang saudara saat saya di Medan kemarin.

Saya tidak sendiri, jawab saya. Saya punya orang-orang yang mendukung saya. Saya punya orang-orang yang bisa mengapresiasikan karya saya. Saya punya orang-orang yang percaya pada saya.

“Tapi apakah kam yakin semua orang Karo akan mendukung kam,” kata saudara saya itu lagi.

Saya percaya ilham berasal dari Tuhan. Begitu juga saat saya mendapat ilham untuk mementaskan cerita rakyat Karo ini. Itu makanya sebetulnya saya tidak perlu takut dengan keadaan. Toh semuanya bersumber dari Sang Khalik. Saat kita berbicara tentang Sang Penguasa Alam Semesta, manusia bisa apa? Toh Tuhan sudah memberikan saya ide untuk ini. Tentu saja Tuhan akan mendukung saya.

Sampai latihan Minggu kemarin, terus saja saya dihantam bertubi-tubi cobaan. Yang uniknya, apa yang mencoba mengekang tidak hanya berasal dari faktor eksternal tapi juga internal. Bayangkan, saya harus menghadapi sebuah kenyataan dimana semua yang saya harapkan tidak satupun mendekati harapan. Miris memang kalau saya pesimis. Tapi kepala saya harus selalu tegak. Dengan sabar saya terus mengelus dada. Saya harus dingin menghadapi kenyataan. Dan bepikir secara logika mengatasi semuanya. Dengan begitu idealisme saya pada Pawang Ternalem ini dapat diwujudkan.

Saat saya harus muntah, maka saya akan muntah. Tapi saya tidak akan berhenti. Saya terlalu cinta pada Pawang Ternalem.

Saya hanya mengucap syukur pada orang-orang yang telah mendukung saya dengan sepenuh hati.

Syukur saya juga pada para pecundang yang selalu mengintip kelemahan saya sehingga saya bisa lebih awas menghadapi segalanya.

Sebagai manusia sungguh saya tidak mampu…
Namun,
Suatu saat nanti jika anda semua kelak menyaksikan Pawang Ternalem, itu semua karena TUHAN bukan karena saya….

Jakarta, 250808 00.53

Joey Bangun
Direktur Artistik Teater Aron