Aku ingat hari itu…


Beberapa hari setelah kami masuk sekolah tingkat atas. Ketika itu di agenda pelajaran olahraga ada tambahan belajar renang. Setiap murid kelas 1 di tahun 1994 itu diwajibkan untuk mengikuti pelajaran ini. Walau aku sedikit kesal karena tidak tahu berenang, aku terpaksa mengikuti pelajaran ini. Asal tahu saja, hari pertama aku mengikuti pelajaran ini aku tenggelam dan ditolong oleh seorang teman yang esok harinya aku traktir di kantin sekolah.

Aku lihat dia pertama kali di kolam itu. Di sisi ujung dekat tangga loncat indah. Bersama teman-temannya sesama perenang. Yang aku ingat betul, ketika itu dia memakai swimsuit warna merah. Dia berenang lincah kesana kemari. Membuatku kagum memperhatikan sambil duduk di sisi kolam. Penasaran, aku tanya seorang teman didekatku, “Siapa dia?” tanyaku. Temanku tersenyum padaku sambil memalingkan wajahnya ke gadis itu, “Oh… itu? itu Serenada.”

“Serenada?” tanyaku dalam hati. Siapa dia? Betapa cantiknya dia. Kulitnya putih mulus menyilaukan kolam itu. Hingga semua laki-laki di kolam itu curi-curi pandang melihatnya. Seribu pertanyaan telah menanamkan rasa penasaran dalam hatiku. Belum pernah aku melihatnya di sekolah. Atau apakah aku sendiri tidak peka.

Esok harinya, dari lantai 3 depan kelasku, temanku menunjuk ke gadis yang berjalan di lapangan sekolah. “Itu Serenada yang kau lihat di kolam itu,” katanya sambil memukul pundakku. Aku tersenyum pada temanku, “Terima kasih,” kataku. Mataku tidak lepas memandang gadis itu. “Hm… Serenada, betapa indahnya engkau diciptakan.”

Sejujurnya aku tidak bisa terima ketika mengetahui siapa kekasih gadisku itu. Bukan pria unggulan pikirku. Namun aku mengakui keberuntungan laki-laki itu. Hanya dia yang di SMU itu yang bisa menundukkan hati gadisku. Sementara aku? Aku hanyalah punguk merindukan bulan.”Mimpi kali kau Joey.. kau dan dia seperti bumi dan langit,” canda temanku suatu hari ketika kami asyik minum kopi di warkop dekat rumah sakit depan sekolahku.

Ya memang, takabur aku jika bermimpi menjadi kekasih hatinya. Ketika kelas 3, entah kenapa aku tergila-gila pada teman sekelasnya. Seorang gadis Karo yang ketika tersenyum membuat batinku tenteram. Gadis itu kukejar mati-matian. Tidak sedikitpun aku ingat Serenada. Tiga tahun kami satu sekolah, tidak sedikitpun kami saling menyapa. Tapi pernah aku ingat, dia sempat tersenyum padaku ketika kami berpapasan di lorong sekolah. Senyum itu yang pertama dan terakhir setelah sepuluh tahun kemudian kami bertemu lagi.

Yang aku tahu dia melanjutkan studinya ke negeri Paman Sam. Negeri yang dari dulu aku idolakan. Aku selalu bermimpi untuk sampai kesana hingga kini. Semoga suatu hari aku bisa sampai ke negeri yang sering diceritakannya ketika kami menjadi sepasang kekasih dulu.

Pertemuan itu memang tidak sengaja. Di reunian satu sekolah di rumah seorang teman. Aku terkejut melihatnya datang di saat sepuluh tahun kami tidak bertemu. Betapa cantiknya dia? pikirku. Aku coba mencuri-curi pandang meliriknya. Aku curi perhatiannya dengan pengalamanku di entertainment. Dia tertarik ngobrol denganku. Semuanya akhirnya begitu mudah.

Aku tertarik padanya. Kami sepaham dalam hidup dan pekerjaan. Mungkin ini wanitaku, pikirku. Aku terus mendekatinya. Cinta tentu ada pengorbanan. Aku korbankan semuanya untuk mendekatinya. Aku tersenyum bahagia ketika kami berdua kencan pertama di sebuah Mall di dekat kosnya. Dia memilih baju hadiah untuk adik-adik perempuanku. Baju pilihannya itu membuat adik-adik perempuanku senang menerimanya.

Aku terkejut betapa dia mensupport aku ketika aku pulang ke Medan. Dia membangunkan aku. Dia terus menelpon aku ketika aku perjalanan ke bandara. Hingga dia memilihkan sebuah nama taksi yang dipercayainya selama ini. Betapa perhatiannya gadis ini, pikirku.

Selama di Medan, kami terus berhubungan melalui telepon. Aku terus menanyakan kabarnya dan apa yang dikerjakannya. Tidak lupa aku terus menceritakan perjuanganku membuat film dokumenter itu. Dan yang membuat aku makin semangat adalah, bagaimana dia terus mensupportku agar terus berkarya.

Tanggal 3 Nopember itu, entah kenapa Tuhan Maha Baik telah membuka hatinya. Dia menerimaku menjadi bagian dari hatinya. Kami menjadi kekasih melalui telepon. Dan anehnya hal ini belum pernah aku lakukan. Aku paling tidak suka mengungkapkan sesuatu melalui telepon. Selain kuanggap tidak gentleman, aku tidak bisa melihat ekspresinya. Tapi apa boleh buat, mungkin inilah saatnya, dan aku sungguh bersyukur malam itu dia menerimaku. Aku tidak bisa tidur sepanjang malam itu. Bahagia karena cinta.

Aku memeluknya ketika berjumpa. Aku menciumnya dan kuusap rambutnya. Aku sayang padanya. Aku tidak mau kehilangan dia. Aku mendekapnya hingga tidak mau kulepas. “Tuhan, jangan sampai semua berakhir!” pintaku dalam hati ketika aku memeluknya erat suatu hari dalam kamarnya.

Namun semua semu. Aku merasakan itu. Rasa sayangnya masih samar-samar. Terjadi dilema dalam hatiku. Apakah dia mencintaiku sepenuh hati? tanyaku. Suatu hari aku tumpahkan air mata untuk membuktikan hatiku padanya. Dia mendekapku dan mengatakan kalau dia mencintaiku.

Entah kenapa,
Malam 24 Nopember itu, ketika kami baru pulang dari sebuah konser. Semua masih terlihat bergembira. Aku hanya ingin memastikan apakah dia mencintaiku atau tidak Aku tumpahkan air mataku lagi padanya. Akhirnya dia mengakui kasih yang selama ini diberi padaku adalah kesemuan. Dia tidak mencintaiku sepenuh hati. Aku terpukul.

Teringat aku syair bahasa Spanyol yang dinyanyikan Il Divo. Sebuah lagu yang pernah dinyanyikan Toni Braxton “Unbreak My Heart”

No me abandones así
hablando sólo de ti.
Ven y devuelveme al fin
la sonrisa que se fue.
Una vez más tocar tu piel
el hondo suspirar.
Recuperemos lo que se ha perdido.

Regresa a mí,
quéreme otra vez,
borra el dolor
que al irte me dio
cuando te separaste de mí.
Dime que sí
Ya no quiero llorar,
regresa a mí.

Extraño el amor que se fue,
extraña la dicha también.
Quiero que vengas a mí
y me vuelvas s querer.
No puedo más si tú no estás,
tienes que llegar.
Mi vida se apaga sin ti a mi lado.

No me abandonas así,
hablando sólo de ti.
Devuelveme la pasión de tus brazos.

Aku tumpahkan air mata di Mezbah kamarku. Aku tidak sanggup menerima kenyataan ini. Mengapa TUHAN di saat aku membutuhkannya ENGKAU melepasnya? tanyaku pada SANG KHALIK. TUHAN hanya tersenyum padaku. DIA sampaikan maksudNYA padaku.

3 hari aku berpuasa untuk memulihkan keterpurukan hatiku. Aku tiba di Katedral itu untuk mengakui dosa-saku. Aku butuh ketenangan hidup. TUHAN sanggup memberikannya. Aku yakin itu. Dan DIA telah membuktikan kata-kataNYA. Aku kembali berdamai dengan sang kekasihku itu.

Sahabat,
Itulah sebutan bagi hubungan kami kini. Seorang sahabat akan mensupport sahabatnya. Itulah yang aku lakukan padanya. Ketika dia lemah dan perlu teman bicara senantiasa aku membantunya sesenang hati. Aku akan hadir untuknya kapanpun dia mau.

Semalam, ketika aku mencoba menghubunginya. Aku mencoba menghiburnya. Mencoba mensupport sahabatku. Malah dia marah padaku. Aku sempat tertegun. Apa ada yang salah denganku. Kata-katanya membuatku terhempas, “Emang berapa sih honor menulis cerpen?” Aku tidak kuasa menjawab. Kuakui, sampai saat ini aku masih makan dari royalti buku cerpenku, dan itu tidak besar. Tidak akan membuat aku kaya. Dia telah menyinggung profesiku. Aku merasa disepelekan. Mungkin saja aku kalap, dan mengatakan padanya, “Emang gaji wartawan berapa?” Namun tidak kulakukan. Karena aku masih ingat satu hal, yaitu menjaga hatinya.

Pagi ini,
Aku terima email permohonan maaf darinya. Sebenarnya dia tidak perlu minta maaf. Karena memang kondisi yang membuatnya mengucapkan segalanya. Namun, aku juga manusia. Manusia yang berperasaan. Perasaan yang dijaga berikut berbicara tentang harga diri. Aku mencoba mengerti. Namun hari ini aku begitu terpuruk. Terutama kondisi rohani dan mentalku. Aku merasa TUHAN telah jauh dariku. Sejak wisuda di Bandung itu.

Kondisi yang aku alami di Bandung telah membuatku haru biru. Aku butuh penghiburan dan peneguhan. Aku tidak kuat menahan semua asa. Aku coba mencari penghiburan. Semalam aku coba menelpon sahabatku itu. Bukannya penghiburan yang aku dapat, melainkan cemohan. Aku makin terpuruk hari ini. Aku kembali menangis di depan Mezbah. Mengapa TUHAN? Mengapa orang-orang disekelilingku tidak pernah mengerti aku? Mengapa aku harus menerima kenyataan ini TUHAN. Mengapa? Mengapa?

Aku tidak pernah menyalahkan dia. Dia juga dalam kondisi tertekan. Aku juga tertekan. Semua serba tertekan. Akhirnya dia yang lebih bisa mengungkapkan kekesalannya dibanding aku yang berjiwa mengalah. Biarlah aku menjadi korban ungkapan-ungkapan yang tidak mengenakkan itu. Walau aku sendiri dalam kondisi krisis batin. Sejak dia ungkapkan kata-kata itu tadi malam, aku malah terpuruk dalam gelimangan dosa. Betapa naasnya nasibku. O TUHAN kembalikan aku padaMU!

Seperti yang diungkapkan temanku bicara di bangku taman gereja itu tadi. Ketika aku selesai rapat panitia Natal. Orang itu begitu baik. Wajahnya sederhana. Sorot matanya pancarkan kedamaian. Tubuhnya sama tinggi denganku. Aku kenal dia sejak kecil dari orangtuaku. Ajarannya selalu menjadi penuntun bagi hidupku. Termasuk versi bahasa Inggris yang pernah aku copy dari buku sahabatku itu.

Dia katakan :
Gadis yang kau kenal di kolam renang itu pernah jadi bagian hidupmu. Dan itu pernah….pernah…pernah…….bersabarlah anakKu……

Lebih sepuluh tahun lalu dia aku kenal di kolam renang itu. TUHAN pernah mengabulkan doaku karena menjadikannya bagian hidupku. Dan aku tidak menyangka, apalagi bermimpi. Sekarang aku baru sadar betapa dahsyatnya kuasa Ilahi. Dan aku biarkan DIA terus merenda hidupku.

Aku tutup ungkapan hati ini dengan lagu symphony orchestra berjudul “Serenade” karya Frans Schubert. Judul berbahasa Italia itu menjadi ilham untukku untuk menyebut gadis pujaanku itu.

Aku sebut kekasihku :

Serenada Stanza Kehidupan

Karena sampai malam berganti, aku masih ungkapkan ya TUHAN, betapa aku masih mencintainya………


Joey Bangun

Jakarta, 191207 3.35