“Buat Karo mendunia,” kata Prof Dr Ir Firman Tambun saat saya bertemu dia Rabu pagi kemarin di sebuah hotel di kawasan Senen. Mendengar kata-kata Staff Ahli Menteri Perekonomian ini terlintas dalam pikiran saya bahwa ini adalah lecutan bagi saya. Mungkin bisa juga akan jadi lecutan bagi anda semua yang merasa diri berbudaya Karo dan bervisi menjadikan Karo mendunia sesuai bidang anda masing-masing.

Sebagai seniman, tugas saya adalah membuat kesenian Karo bisa maju. Karo harus dikenal orang. Karo harus punya eksistensi sebagai salah satu bentuk peradaban dunia. Atau lebih tepatnya, dunia harus tahu Karo memang ada. Dan tanggung jawab itu harus saya jalankan dengan penuh pengabdian penuh. Beberapa waktu lalu di sebuah kampung di Sibolangit, saya pernah bernazar untuk ini.

“Saya bukan orang seni budaya. Saya tidak akan menyumbang untuk acara-acara begitu. Kalau kam datang bawa proposal untuk acara gereja atau penanaman bibit, saya akan bantu. Bidang saya memang itu,” kata seorang tokoh Karo di Medan. Tokoh itu sangat saya kagumi sebelumnya karena eksistesinya pada masyarakat Karo. Anaknya juga pernah akrab dengan saya waktu saya masih kuliah di Bandung dulu. Saat saya berjumpa dengan bapak itu, saya sedang melakukan ‘fundraising’ di Medan.

Sempat saya tersinggung mendengar kata-kata bapak ini. Ingin saya berteriak dan katakan, “Memang budaya bapak apa? Apa bapak tidak menghargai budaya bapak?!!”. Tapi kata-kata itu urung saya katakan dihadapannya. Sebagai manusia, saya menghargai dia. Tapi sebagai mahluk berbudaya saya tidak menghargai dia. Dalam alam pikiran saya, saya tidak menghargai mahluk-mahluk yang tidak berbudaya.

Orang yang paling saya umpat saat ini adalah SUBUR SEMBIRING. Orang yang membuat masyarakat Karo malu itu memang betul-betul mahluk yang tidak berbudaya. Sekretaris panitia Pesta Mejuah-juah yang ditangkap gara-gara mengaku KPK gadungan itu adalah sampah masyarakat Karo. Saat kita akan menggelar sebuah pesta budaya terbesar dia datang tiba-tiba mencorang-coreng segalanya.

Ulah dari Subur Sembiring paling tidak merubah peta poltik di Sumatera Utara terhadap masyarakat Karo. Tapi yang pasti ulahnya telah menghambat jalannya pertunjukan Pawang Ternalem. Bukan apa-apa, menurut salah satu sumber di Gubsu, pandangan Gubernur terhadap acara Karo sedikit berubah. Yang membuat saya capek berpikir akhir-akhir ini adalah proposal Pawang Ternalem sudah sampai di tangan Gubsu. Apa yang terjadi telah mempengaruhi kebijakan untuk dukungannya terhadap pertunjukan Pawang Ternalem.

“Masya Allah!” yang telah terjadi membuat tensi saya makin tinggi. Tidur saya tidak nyenyak lagi. Semuanya menjadi hambar. Sebagai nahkoda Pawang Ternalem saya harus selamatkan pertunjukan ini.

Orang-orang tercinta yang mengaku-ngaku berbudaya ternyata tidak seperti saya harapkan. Mereka seharusnya membantu saya merealisasikan cita dan citra  masyarakat Karo untuk mendunia ternyata justru menghambat saya.

Sebagai seniman teater, saya tidak pernah takut dalam menyiapkan karya saya. Tapi kini ketakutan saya makin menjadi setelah saya tahu jumlah dana yang bisa terkumpulkan hingga detik ini. Urat nadi saya mulai berdenyut cepat. Pawang Ternalem tinggal hitungan hari.

Apakah ini akan menjadi mimpi buruk bagi saya. Di saat saya ingin mengabdi penuh pada kemajuan budaya Karo disitu saya akan dilindas hingga berkeping-keping. Saya akan terbunuh dan mungkinkah suatu saat nanti nama saya tinggal kenangan.

Dalam agama yang saya anut dikenal istilah Sang Juruslamat. SosokNya sangat dikenal dengan nama Sang Mesias. Sosok ini sangat saya hormati dan saya puja. Walau saya belum pernah bertemu denganNya namun saya yakin DIA bisa menyelematkan saya.

“O Sang Mesias, bukalah hati orang-orang berbudaya untuk memberikan sedekahnya pada pengabdian saya”

Jakarta, 110908 11.30

Joey Bangun
Direktur Artistik Teater Aron