Setelah catatan panggung saya berjudul “Sang Juruslamat” dimuat di milis ini, banyak respon yang saya terima, baik dari berbagai milis, maupun langsung ke email pribadi saya dan email Aron on Art. Respon ini datang dari anggota milis, saudara dan teman-teman, para kru dan pemain Pawang Ternalem, para donatur, dan juga para pembeli tiket.

Saya ucapkan terima kasih untuk respon yang saya terima, baik respon dukungan, pertanyaan seputar jadi tidaknya Pawang Ternalem, dan juga berbagai bentuk hujatan dan sindiran karena saya dituduh membuat janji palsu pada masyarakat Karo.

Tadi sore jam 5 saya bertemu dengan staf marketing dan humas Teater Aron di Taman Ismail Marzuki. Mereka mengabarkan bahwa mereka baru bertemu dengan Tokoh Muslim Karo Jakarta. Tokoh Muslim Karo itu mendukung Pawang Ternalem. Dalam rapat kecil di sebuah cafe di TIM tadi, staf marketing dan humas berusaha menghibur dan menguatkan saya.

Jam 7 malam selepas buka puasa, kami mulai sesi latihan di Sanggar Baru Taman Ismail Marzuki. Latihan kali ini dihadiri bapak Kol (Purn) Minteri Tarigan (Putra Jenggi Kemawar). Saya yakinkan pada beliau bahwa Pawang Ternalem dipastikan pentas tanggal 25 Oktober. Dan beliau tidak perlu khawatir akan kesuksesan pargelaran ini. Dia mengatakan masyarakat Jenggi Kemawar mendukung saya merealisasikan cerita kampung mereka itu.

Saat sesi latihan, saya terharu melihat semangat pemain. Mereka semangat berlatih bukan saja untuk saya. Yang pasti teman-teman pemain telah mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk pengembangan kebudayaan Karo. Jumlah kontrak yang akan mereka terima sebetulnya tidak seberapa dibanding perjuangan mereka selama ini.

Setelah sesi latihan selesai, saya coba lecut semangat para pemain agar dalam waktu tinggal hitungan hari, mereka lebih serius lagi berlatih. Mereka harus mempersembahkan terbaik untuk dunia. Supaya dunia tahu, masyarakat Karo bangga punya Pawang Ternalem.

Saya satukan visi. Saya utarakan segala permasalahan yang terjadi. Agar mereka juga mereka mengerti situasi dan kondisi. Yang membuat saya hampir menangis, para pemain siap membantu saya mencari jalan keluar agar bisa menyelamatkan Pawang Ternalem.Dari mereka ada berkata, Pawang Ternalem bukan hanya tanggung jawab saya tapi juga tanggung jawab bersama.

Sebetulnya Teater Aron dalam kondisi terjepit pada deadline. Seperti deadline pelunasan gedung yang tinggal hitungan hari, deadline pelunasan biaya rekaman musik soundtrack, deadline pengadaaan merchandise, deadline untuk koreogafer tari, deadline untuk pembuatan kostum, deadline untuk pengerjaan artistik dekorasi.

Sebetulnya kalau memikirkan semua deadline saya akan muntah. Di sisi lain saya bisa betul-betul bisa jadi gila. Saya tidak sanggup. Namun itulah hidup. Kalau tidak percaya diri untuk apa kita hidup.

Seorang di salah satu milis bilang, kalau Pawang Ternalem tidak bisa dilaksanakan tahun ini, bisa saja dibuat tahun depan atau dua tahun lagi.

Tidak! Saya tegaskan, Pawang Ternalem harus dilaksanakan tahun ini.

Saya sudah berjanji pada sponsor dan donatur. Saya sudah berjanji pada para pemain. Saya sudah berjanji pada Tim Kreatif. Saya sudah berjanji di depan makam ayah saya. Saya sudah berjanji dihadapan keluarga saya. Saya sudah berjanji pada masyarakat kuta Jenggi Kemawar. Saya sudah berjanji pada para pembeli tiket. Saya sudah berjanji pada semua orang.

Janji adalah utang. Dan saya harus melunasinya.

Saya tidak takut melihat yang terjadi.Semangat saya harus tetap terjaga. Semangat saya harus tetap mempengaruhi semua orang. Pawang Ternalem adalah kebutuhan masyarakat Karo dan dunia.

Semua ini adalah Stanza Pawang Ternalem. Didalamnya segudang permasalahan menjadi penyakit yang harus diobati. Tabib untuk mengobatinya bukan saya dan anda, tetapi Tuhan.

Pawang Ternalem adalah kebanggaan masyarakat Karo. Saya hanyalah sebuah mediator pelaksana cita-cita masyarakat Karo. Untuk itu yang saya butuhkan hanya, dukungan!

Joey Bangun
Sutradara Pawang Ternalem

120908 01.52