Di akhir cerita

Pawang Ternalem dan Beru Patimar
menyanyi dan menari Erdemu Bayu

Datuk Rubia Gande, sang Malaikat
perintahkan Tulak Kelambir Gading turun
dari Tualang Si Mande Angin

Dara meminta
agar Nandenya mencarikan jodoh untuknya

Layar Tertutup

Penonton bertepuk tangan meriah

Sutradara menerima karangan bunga
dari Putra Jenggi Kemawar

Terima Kasih Karo!

Inilah pengabdian kami padamu….

Pawang Ternalem usai sudah. Di dalamnya ada segudang masalah. Di dalamnya ada segudang peluh. Di dalamnya ada segudang air mata. Di dalamnya ada segudang pengorbanan. Di dalamnya ada segudang asa. Yang pasti, di dalamnya ada segudang perjuangan.

Titik itu telah saya lewati….
Saya menitikkan air mata melihat penonton tumpah ruah memenuhi gedung berkapasitas 810 penonton itu. Saya tahu mereka semua berharap sesuatu dari kami. Sesuatu persembahan terbaik. Itu sebabnya, detik-detik terakhir saya coba bangkitkan spirit bermain para aktor dengan jiwa, roh, dan menyertakan TUHAN didalamnya.

Hasilnya…
Silahkan anda menilainya. Saya tidak bisa menilai karya saya sendiri. Biarlah orang-orang menilai. Orang-orang bisa berkata apa saja. Tapi bagi kami, persembahan Sabtu kemarin adalah terbaik yang pernah kami lakukan.

Namun….
Jika anda bertanya pada saya, apakah itu karyamu terbaik? Saya jawab tidak! Itu bukan terbaik. Saya bisa membuat lebih baik. Keadaan yang saya alami dalam proses Pawang Ternalem ini membuat kami ‘hanya’ menghasilkan seperti itu. Pawang Ternalem bisa lebih baik jika diberikan sesuatu yang terbaik.

Pawang Ternalem…
Suatu saat kami semua mengenangmu. Saat orang-orang Jenggi Kemawar itu dengan ramah menyambut saya waktu riset penelitian kesana. Saat saya mengumpulkan para pemain dan tim kreatif menjadi satu tim yang solid. Saat saya menghimpun dukungan orang-orang untuk konsep saya itu.

Tersenyum…
Hanya itu yang bisa saya lakukan. Membayangkan dahulu Pawang Ternalem hanyalah konsep di kepala. Lalu saya coba cari dukungan. Dengan penuh semangat saya berhasil realisasikan semuanya. MEMANG TUHAN MAHA DAHSYAT!!!

Donatur…
Terima kasih dukungan dan kepercayaan yang telah kam berikan pada kami. Tuhan telah mengetuk hati kam semua hingga mengabulkan cita-cita kami dan KARO!

Para Penonton Budiman…
Terima kasih untuk apresiasi yang saudara-saudara berikan. Menyempatkan waktu dan mengorbankan uang untuk menyaksikan kami. Kami sadar kecintaan saudara-saudara semua pada Karo yang membuat anda semua datang ke pertunjukan itu. Maafkan kami jika anda memang tidak puas dengan apa yang kami berikan.

Para Pecundang…
Terima kasih untuk janji-janji palsu kalian. Janji akan membantu tapi tidak pernah ditepati. Termasuk para petinggi Karo yang berbudi pekerti luhur itu. Surat PEMDA KARO dan bentuk penolakannya sudah saya terima lengkap dengan tanda tangan bapak SEKDA terhormat.

Pak Menteri yang selama ini saya banggakan ternyata tidak bisa saya banggakan. Terima kasih telah menerima kami bulan juli lalu di rumah bapak. Poster Pawang Ternalem ukuran 1 meter oleh-oleh dari kami itu tidak perlu bapak menteri ganti dengan uang bapak.

Terima kasih pula untuk seseorang yang telah meneror kami saat latihan di Taman Ismail Marzuki. Hingga seorang temannya saya damprat habis-habisan karena ingin mencuri uang Pawang Ternalem.

Pawang Ternalem…
Sekali lagi terima kasih untukmu….

dalam doa kusebut namamu
dalam sanubari aku sebut terus namamu

suatu saat nanti
aku akan menangis saat mengingatmu

Joey Bangun
Direktur Artistik Teater Aron