Catatan ini menjadi catatan pertama untuk merangkai kisah dibalik proses produksi pertunjukan teater PUTRI HIJAU produksi ke-7 Teater Aron yang akan digelar 16-17 Oktober 2009 di Graha Bhakti Budaya – Taman Ismail Ismail.

Catatan ini akan menjadi pembuka sebuah perjalanan panjang dari sebuah pertunjukan monumental yang syukuran dan latihan perdananya akan digelar nanti malam di Sanggar Baru Taman Ismail Marzuki, tempat latihan resmi PUTRI HIJAU.

Syukuran nanti akan dihadiri para aktor dan kru yang terlibat. Yang pasti mereka semua siap mendedikasi hidup mereka beberapa bulan ke depan demi kesuksesan PUTRI HIJAU. Dedikasi itu kemudian kami sebut “Dedikasi untuk Budaya” demi kemajuan Karo tercinta.

BENAH

Saya telah menuliskan naskah setebal 32 halaman terdiri 5 babak dengan 29 adegan/scene berdurasi 2,5 jam. Selama 5 bulan saya mengerjakan naskah ini setelah saya melakukan riset lapangan dan data selama sebulan penuh di bulan Januari lalu. Hasilnya, saya memastikan naskah yang akan kami mainkan nanti adalah sebuah naskah teater kolosal terdahsyat yang mewakili tiga etnis, Karo, Melayu, dan Aceh.

Saya terlalu percaya diri mengatakan demikian? Atau terlihat sedikit sombong?

Yang hanya bisa saya katakan, saya harus percaya diri. Kalau saya tidak percaya diri bagaimana saya berani memulai perjuangan yang menurut sebagian seniman Karo Jakarta “Mission Impossible”. Semangat berkarya dan terus berkarya terus saya tanamkan dalam benak saya. Sesuatu pasti akan terjadi ke depan. Menang atau kalah, tidak ada yang tahu. Kalau kita tidak pernah memulainya darimana kita tahu kita akan kalah. Kalau kita fokus, percaya diri, dan berserah pada Tuhan, mungkinkah kita akan kalah?

Tentu saja kita akan berbenah. Orang akan terus mengingat karya saya Pawang Ternalem. Pertunjukan profesional Karo pertama di Pusat Kesenian Indonesia di Taman Ismail Marzuki. Pertunjukan yang berhasil mendatangkan 1100 penonton yang rela menyisihkan uangnya untuk menonton karya saya. Dan kemudian mereka semua akan terkenang. Kalau Pawang Ternalem memang sebuah fenomena dunia seni pertunjukan Karo baru. Dan yang mereka tahu, yang membuat itu adalah Joey Bangun, seorang anak muda yang telah mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan kebudayaan Karo. Walau tidak sedikit dari antara mereka ada juga mencibir dan mengkritik.

Namun, mereka tidak tahu siapa saya sebenarnya. Saya adalah anak muda gila. Anak muda yang mau begitu saja menghabiskan masa mudanya hanya untuk dedikasi. Dedikasi berarti tanpa pamrih, tanpa uang. Yang saya tahu yang saya lakukan dalam hidup ini adalah terus berkarya. Terkadang memang saya tidak mempedulikan hidup saya sendiri. Bagaimana dengan hari esok atau masa depan saya. Saya tidak peduli. Yang saya tahu, seorang seniman hanya bisa terus berkarya sementara akhlak rizky akan datang dengan sendirinya. Apakah saya akan tahan dengan hidup begini? Kalau tidak, untuk apa saya mengorbankan segalanya.

Pawang Ternalem telah menorehkan tinta emas juga tinta merah. Tinta emas seperti yang saya ceritakan tadi diatas. Tinta merah tentu saja segala harapan dan cita yang kami programkan sebelumnya tidak menemui kenyataan.

Yang saya lakukan saat ini adalah berbenah. Membenahi semua kesalahan masa lalu. Kata pepatah, orang bodohlah yang jatuh pada lubang yang sama. Dan saya tidak mau disebut orang bodoh.

Pembenahan yang paling mendasar adalah pola sistem manajemen yang baik. Kali ini saya tidak mudah mempercayai orang seperti dulu. Saya terus menyaring orang-orang yang layak dipercaya. Terutama di sektor-sektor rawan kebobolan. Masalah dana misalnya.

Sekarang semua harus bergerak cepat. Tidak ada lagi alasan menunda waktu. Lakukan terbaik demi PUTRI HIJAU. Sementara Pawang Ternalem adalah masa lalu dimana kita harus belajar banyak dari kesalahan.

Saya berharap kami bisa membenahi pola manajemen dalam menjalankan pertunjukan ini. Yang saya lakukan adalah banyak membaca buku dan bertanya. Semoga ilmu yang saya dapat bisa diterapkan di komunitas ini.

Sekali lagi, pembenahan adalah hal yang harus dilakukan agar kita tidak jatuh di lubang yang sama.

BENIH

“Apa yang kau tabur itu yang kau tuai” kata ajaran agama saya. Tentu saja yang harus saya taburkan adalah benih. Benih dedikasi untuk budaya. Jika budaya saya nanti kelak terus berkembang dan dikenal orang anggap saja itu bagian tuaian. Tapi jangan puji saya. Seperti saya katakan diatas ‘dedikasi adalah tanpa pamrih’.

Semua yang sudah dan akan terjadi tidak mungkin tanpa orang lain. Saya sadar, saya bisa berbuat apa saja karena orang lain. Paling tidak orang-orang yang tahu keinginan saya dan mau bekerjasama dengan saya.

Saya sangat bergembira karena orang-orang berkumpul karena obsesi saya. Dan semua mereka sadar bahwa mereka harus se-visi dengan saya. Kalau tidak se-visi tentu saja mereka tidak mungkin bisa bertahan.

35 aktor sudah terkumpul dari hasil proses seleksi. Mereka melalui tahapan yang penuh perjuangan. Tidak sampai setengah adalah aktor Pawang Ternalem. Sebagian aktor lama tidak bersedia lagi bergabung karena alasan waktu, pekerjaan, kesehatan, dan lain sebagainya. Sebagian lagi harus saya coret karena saya anggap sudah tidak bisa lagi bekerjasama dengan saya karena kesalahan masa lalu. Beberapa lagi saya coret karena tidak menunjukkan profesionalisme program dengan ketidakhadiran. Yang saya tahu seorang aktor lebih senior harus menunjukkan sifat profesionalisme dari aktor pendatang. Bukan malah ogah-ogahan dan sok memudahkan.

Dibalik itu semua, saat ini yang telah berkumpul adalah beragam. Dari 32 aktor Karo mereka dari latar belakang sosial dan agama yang berbeda. Saya cukup gembira saat Muda-Mudi Muslim Karo (HIMMAKA) menunjukkan eksistensi kebudayaan mereka saat bergabung dengan Teater Aron. Masalah siginifikan di Pawang Ternalem, hampir seluruh aktor adalah beragama Kristen dan Katolik yang notabene sangat dekat dengan budaya Karo dalam ritual keagamaan. (Walau begitu kami juga mempunyai beberapa kru yang memeluk agama Perbegu/Pemena).

Mereka semua benih. Benih generasi masa depan Karo. Mereka hadir karena kecintaan akan budaya. Mereka tidak hadir karena uang. Karena saya tidak pernah menjanjikan sesuatu yang membuat mereka mendapat nafkah hidup dari pertunjukan ini. Yang pasti mereka semua hadir dengan penuh semangat dan senyuman. Senyuman karena suatu saat telah berbuat sesuatu untuk budayanya.

PUTRI HIJAU akan diawali dengan senyuman. Semua orang akan tersenyum. Dan kini tugas saya sebagai nahkoda adalah menyakinkan kapal akan sampai tujuan dengan selamat. Walau badai dan guncangan menghantam, saya yakinkan semuanya tidak akan apa-apa. Kalau saja saya sempat panik maka kapal itu akan tenggelam. Kapal itu tidak boleh tenggelam. Saya yakinkan diri saya sendiri bahwa saya adalah nahkoda yang baik dan cekatan.

Semua benih yang telah terkumpul adalah aset budaya Karo. Mungkin mereka adalah sebagian kecil dari banyak generasi muda Karo. Tapi bagaimana budaya Karo suatu saat nanti terletak di tangan mereka. Benih yang punya potensi tentu saja. Sementara saya hanya pemrakarsa atau hanya wadah fasilitator.

Itu sebabnya semua benih yang telah mendedikasikan hidupnya untuk budaya mari kita dukung dalam hikmat Karo Simalem.

Bujur ras Mejuah-juah kita kerina!

Sumur Batu, 9 Juli 2009  ditulis saat pukul 2.11 dini hari.