Mahligai

Tudung khas Karo Bercerita

Exotic and Unique. That is the proper word for the traditional wedding attire of Batak Karo, North Sumatera. The Characteristic is on its headress. Besides presenting the beauty and exclusivity, this headdress made from ulos was an everyday tradition of the Karo’s society as a protection from the daylight sun shine, or from the night cold wind. For the bride’s appearance, this unique headress as tough has an abilty to tell story.

(Majalah MAHLIGAI edisi ke 5 Juli 2009)

Itulah kalimat pembuka halaman 10 majalah tradisi, pernikahan, dan gaya hidup MAHLIGAI edisi Juli yang saat ini banyak beredar di berbagai toko buku maupun agen koran dan majalah. Di kalimat pembuka itu saja saya sudah menarik kesimpulan adanya kesalahpahaman karena ketidakpahaman.

Budaya Karo tidak mengenal yang namanya Ulos. Apalagi menggunakan ulos dalam pakaian perkawinan tradisional Karo (Ose). Adapun jenis-jenis kain karo/uis terbagi oleh 19 corak : Beka Buluh, Uis Nipes Padang Rusak, Gatip Jongkit, Uis Nipes Benang Iring, Kelam-kelam, Julu, Ragi Mbacang, Jujung-jujungen, Uis Gara Jongkit, Langge-langge, Uis Teba, Uis Pementing, Uis Batu Jala, Uis Arinteneng, Gatip Cukcak, Uis Gara benang emas, Gobar Dibata, Gatip Gawang, dan Uis Perembah.

Di halaman 25, dua pose model yang menggunakan ose Karo membuat kita langsung mengeryitkan dahi. Bukan apa-apa, terutama untuk standar pakaian pengantin pria yang dikenakan oleh model perlu dicermati untuk dikritik. Beka buluh yang dikenakan di bahu dibiarkan tergerai begitu saja. Tidak dilipat seperti lazimnya pria-pria Karo menggunakan beka buluh sebagai tanda-tanda. Dan anehnya di bahu kanan model dibiarkan selembar kain beka buluh tergantung begitu saja tanpa arti. Kain penutup kaki pria dibalut oleh sebuah kain dengan corak yang tidak seharusnya. Selazimnya kain penutup kaki pengantian pria Karo adalah Gatip. Dan semakin tidak lengkap dengan tidak adanya selempang yang digunakan yang biasanya menggunakan uis pementing.

Di halaman 55 diberi tajuk The Wedding Procession of Bataks Customs (Pernikahan adat Batak). Sayangnya di tajuk ini semua sesi digunakan adalah prosesi adat Batak Toba. Sementara sepanjang halaman hampir 90 % adalah foto-foto prosesi perkawinan Karo. Dan di halaman 59 tertulis Kamus Istilah Batak dengan gambar para wanita Karo dengan menggunakan tudung yang saya bisa tebak acara itu di gedung Berlan Matraman, namun di kamus istilah Batak ini tidak ada satupun menggunakan istilah Karo yang diterjemahkan! (semuanya adalah istilah Toba).

Kehadiran majalah MAHLIGAI edisi Juli ini sangat menarik perhatian saya. Terutama saat cover depan yang menampilkan seorang wanita yang memakai pakaian tradisional Karo. Hanya saya sedikit menyayangkan literatur isi dan gambar-gambar yang ditampilkan sama sekali tidak mencerminkan filosofi keaslian adat istiadat Karo itu sendiri. Intinya tampilan majalah ini tidak mencerminkan bahwa Karo sebetulnya punya jati diri sendiri yang tidak mengikat/diikat dengan salah satu etnis Batak.

Entah apa yang ada dipikiran Merdi Sihombing, sang konsultan busana adat Batak di majalah ini. Apakah sang desainer sudah mencari masukan dari para praktisi busana Karo sebelum menampilkan karyanya? Saya pikir pasti tidak.

Kalau saya disuruh untuk menampilkan busana Tapanuli untuk konsumsi majalah sekelas MAHLIGAI yang dikonsumsi publik luar negeri, saya tidak akan berani begitu tanpa saya harus melakukan riset dan konsultasi dari budayawan Tapanuli. Pakaian adat adalah citra sebuah suku dan tidak mungkin kita tampilkan asal-asalan atau dengan alasan dasar sekedar keindahan. Dengan sendiri kita sudah menghancurkan keaslian suku itu dihadapan publik nasional maupun internasional.

Sisi lain, saya cukup bangga dengan tampilan cover majalah ini. Majalah yang dibanderol dengan harga Rp 49.500, atau diluar negeri dijual dengan harga RM 50, S$ 10, US $5 telah menampilkan sebuah keagungan traditional ethnic yang disebut Karo. Kebanggaan itu kembali menguatkan eksistensi suku Karo sebagai kekayaan budaya Nusantara.

Sumur Batu, 130709  11.28