Dalam ajaran agama saya, “Iman tanpa perbuatan berarti kesia-siaan.” Namun dalam falsafah kebudayaan dan adat istiadat, “Perbuatan tanpa dedikasi adalah kesia-siaan.”

Mungkin saja konteks ajaran agama saya dan falsafah kebudayaan bisa disatukan, yaitu “ada iman yang melahirkan suatu perbuataan untuk sebuah dedikasi.”

Terkadang kita selalu berpikir segala bentuk perbuatan yang kita lakukan sudah melahirkan sebuah dedikasi. Sungguh mengharukan pula, jika kita mengatakan setiap perbuatan yang kita lakukan untuk dedikasi itu didasarkan oleh iman yang kita anut. Dan sangat menyakitkan jika ada orang mengatakan pada kita, kalau setiap perbuatan untuk dedikasi yang didasari oleh iman yang selama ini kita lakukan tidak dianggap apa-apa.

Kesampingkan dulu pembahasan tentang iman, karena saya bukan Rohaniawan. Mari kita bicara soal perbuatan dan dedikasi.

Menarik untuk disimak syair yang ditulis oleh Eddy Surbakti yang saya kutip dari akun facebooknya. Tertulis di bait 3 s/d 5 seperti ini :

Tanah Ini Menjadi Perjuangan
Tanah Ini Menjadi Saksi
Tanah Ini Menjadi Warisan
Tanah Ini Juga Yang Akan Menjadi Simbol Harga Diri Kami

Jangan Rebut Tanah Ini Sejengkal Pun
Karena Kau, Tidak Akan Pernah Layak Mendapatkannya

Berjuanglah Para Penurus Bangsa, Karena Tanah Ini Adalah Harga Dirimu
Harga Diri Bagi Bangsa,Negara Dan Juga Sukumu…..

Kata-kata yang ditulis Eddy diatas menyiratkan sebuah rasa nasionalisme yang dibalutkan oleh sebuah harga diri dan patriotisme perjuangan. Syair yang ditulis diatas bisa untuk siapa saja, suku mana saja, yang bertekad membela hak dan harga dirinya dalam perjuangan mempertahankan tanah kelahirannya.

Tapi akan lebih menarik jika kita mempersempit ruang pembahasan kita yaitu tentang syair Eddy dan Tanah Karo Simalem.

Jika saya dan anda sebagai orang Karo mencoba membaca dengan lantang syair-syair diatas niscaya akan timbul sifat patriotisme dalam diri kita masing-masing. Sebelum bait 3 s/d 5 diatas Eddy memaparkan syairnya di bait 1 s/d 2 seperti ini :

Ku Cium Tanah Ini,
Tanah Yang Berbicara Akan Isyarat Perjuangan,
Keringat, Darah Dan Harta Benda Dikorbankan Untuk Sebuah Harga Diri,
Sebuah Harga Yang Tidak Dapat Ditawar, Merkipun Akan Menelan Korban

Kami Ingin Ada Dan Terus Merdeka, Mempertahankan Tanah ini
Tanah Yang Telah Memberikan Kehidupan, Bagi Anak Cucu Kami
Berteriaklah Ucapkan Kata Merdeka bagi Negeri

Kemerdekaan untuk Karo, pernahkan anda merasakannya? Seperti apa anda merasakannya? Mungkin saja kemerdekaan Karo yang anda rasakan berbeda dengan saya rasakan? Setiap manusia mempunyai arti dan rasa kemerdekaan berbeda-beda.

Namun pernahkah terpikir oleh kita masing-masing, setiap perbuatan kita sebagai insan-insan Karo bisa melahirkan kemerdekaan “Tanah Karo Simalem” yang menjadi “Tanah Harga Diri Kita.”

Di Tanah Karo Simalem, perbuatan saja tidak cukup. Parbuatan haruslah melahirkan dedikasi. Dedikasi lahir dari perbuatan yang dilandaskan oleh rasa keterbebanan untuk membangun tanpa dasar keinginan pribadi dan golongan. Artinya dedikasi dan perbuatanlah haruslah tanpa pamrih.

Haru biru menjadi warna di Tanah Karo beberapa waktu belakangan ini. Gunung Sinabung meletus dan terjadi uraian mata, namun kita harus bersyukur gunung Sinabung tidak sedahsyat Merapi. Suhu politik memanas dan terjadi persengketaan juga pertumpahan darah, namun kita harus bersyukur tidak terjadi korban jiwa.

Semua yang terjadi mungkin mengecewakan kita. Secara pribadi saya juga kecewa. Namun setiap keputusan pasti ada resiko. Resiko untuk Tanah Karo Simalem.

Perbuatan dan dedikasi tidaklah harus menjadi pemimpin. Cipratkan dalam semangat kita akan perbuatan dan dedikasi. Niscaya Karo akan merdeka.

Merdeka dari perbuatan yang menyimpang.
Merdeka dari kemiskinan.
Merdeka dari kebodohan.

Tanah Karo haruslah menjadi tempat kita untuk berbuat dan berdedikasi tanpa pamrih.

Melita Meliala

Di tengah gejolak alam dan politik di Tanah Karo Simalem, muncullah seorang dara hitam manis bersuara malaikat. Dia bukan malaikat penolong. Tapi malaikat penghibur.

Melita Meliala seolah ditakdirkan hadir ditengah-tengah gejolak. Karo butuh penghiburan disitulah pula gadis beru Sembiring itu menyuarakan suara emasnya. Namanya telah membahana di saentero negeri ini.

Gadis ini sungguh mengharukan sekaligus membanggakan. Di setiap penampilannya di layar kaca dia selalu mengatakan dengan lantang kata “Mejuah-juah!”

Tidak itu saja dia juga menghadirkan lagu “Mejuah-juah” mengumandang ke hampir 10 juta pesawat televisi seluruh Indonesia.

Di penampilannya Minggu lalu, dia bahkan mengatakan penampilannya didekasikannya untuk Tanah Karo Simalem, kampung kelahirannya. Dedikasi Melita untuk Tanah Karo Simalem yang bergejolak dan menangis.

Melita sudah berbuat dan berdedikasi untuk Tanah Karo Simalem. Bukan saja namanya yang harum tapi juga Tanah Karo Simalem. Finalis “Indonesia Got Talent” itu tengah berjuang untuk membanggakan sukunya.

Talenta Melita Meliala adalah Talenta Tanah Karo Simalem!

Mari kita dukung Melita Meliala dalam perbuatannya untuk dedikasi dan sebuah harga diri….. Harga diri Tanah Karo Simalem!

Pancur Siwah, 091210 2.18

*) Penulis adalah praktisi seni budaya Karo