Beberapa waktu terakhir ini banyak teman-teman ataupun handai taulan bertanya pada saya, sudah jadi fotografer nih? Bukan jadi sutradara lagi ya? Berulangkali pula saya menjawab, profesi saya tetap sutradara, berkarya untuk orang banyak, yang memberikan inspirasi dalam merubah peradaban manusia terutama suku saya. Sementara fotografer, adalah hobi saya dalam mengeksporasi gambar ketika hobi ini saya jalankan saat saya masih tinggal di Jakarta dulu.

Suatu hari almarhum saya memberikan sebuah kamera SLR pada saya. Kamera analog itu bernama Canon FTB, kamera itu juga diwariskan Bulang (kakek) padanya dulu. Kamera tahun 1971 saya ingat diberikan tahun 2006, beberapa bulan sebelum bapak meninggalkan kami. Saya pakai kamera itu saat saya penelitian di Batukarang dan beberapa tempat di Tanah Karo. Padahal saat itu lagi hangat-hangatnya fotografer memakai kamera Digital SLR terbaru seperti Nikon D70S dan Canon EOS 350D.

Saya bawa kamera itu ke Jakarta, di beberapa kesempatan saya pakai kamera itu mengabadikan Jakarta dan berbagai event pertunjukan. Saya belajar semuanya dari kamera analog warisan ayah saya!

Selama di Jakarta, kondisi ekonomi menghukum saya untuk tidak memiliki DSLR. Mahal sekali ketika itu untuk ukuran pemasukan saya. Saya hanya bisa melihat reviewnya di majalah-majalah kamera yang saya beli termasuk berbagai situs fotografi termasuk fotografer.net dimana saya sudah mendaftar ketika itu. Di Fotografer.net juga saya upload foto-foto karya saya dan mendapat apresiasi. Saya semangat untuk berkarya di fotografi. Tapi apa daya hanya semangat yang ada, tidak finansial yang harusnya mendukung semangat itu.

Kepindahan saya ke Medan untuk menekuni profesi sebagai Sutradara produksi lokal sejenak melupakan segalanya. Saya fokus pada profesi saya itu. Namun suatu hari saat saya harus dipercaya oleh turang (adik perempuan) saya untuk mengambil sesi foto Pre-wedding kemudian mata saya terbuka lagi untuk fotografi. Saya hanya bisa meminjam kamera. Termasuk di 2 sesi Pre-wedding yang dipercaya untuk saya kerjakan, saya harus meminjam bahkan harus menyewa kamera teman saya!

Kemudian saya berpikir untuk memiliki kamera. Karena saya anggap ini bisa jadi pekerjaan saya. Dengan berbagai pengorbanan saya akhirnya bisa memiliki dana untuk membeli kamera bekas. Kamera itu saya beli di sebuah toko yang khusus menjual kamera bekas di Medan. Saya beli kamera yang saya impikan di tahun 2006 lalu, NIKON D70S!

Saya bangga memiliki kamera itu. Kamera yang saya idam-idamkan sejak dulu. Langsung saya mengeksplorasi segalanya dengan kamera itu. Termasuk keindahan kampung halaman, kecantikan kekasih saya, juga berbagai kesempatan event di tanah kelahiran saya.

Hanya karena keterbatasan kondisi kamera, juga karena perkembangan zaman di era digital, saya menjadi iri melihat teman-teman saya yang memakai kamera yang lebih baru. Saya harus mencari uang untuk memiliki yang lebih baru.

Dari berbagai situs dan juga dari pendapat teman-teman saya, Canon 60D menjadi kamera midclass terbaik. Warna yang dihasilkan indah. Harganya juga masih terjangkau. Saya kepincut dengan kamera itu. Saya harus memilikinya!

Hingga di satu kesempatan saya punya uang. Akhirnya dengan jantung berdebar saya melangkah ke sebuah mall yang ada toko penjualan kamera. Dan baru pertamanya saya menjajakan uang diatas 10 juta untuk sebuah kamera!

Ya Tuhan, saya memiliki Canon EOS 60D, kamera yang saya impikan sejak setahun ini. Akhirnya saya menggunakan kamera itu untuk menyalurkan hobi saya terutama memotret fashion dan landscape.

Kembali ke pertanyaan, apakah saya sutradara atau fotografer? Saya jawab sekarang, saya adalah keduanya. Keduanya adalah wadah saya mengais rezeki kini.

 

Pancur Siwah, 240912 22.00