Kebudayaan berikut ritus tradisi Karo semakin surut sejak masuknya agama Kristen Protestan (dibawa NZG melalui Pdt H.C Kruyt, 1890), Katolik (dibawa Pastor Elpedius van Duynhoven,1939) & Islam (terutama Karo dataran rendah yang bergabung dengan Melayu). Sebelum masuknya ketiga agama tersebut ke Tanah Karo, agama Pemena/Perbegu (agama tradisional Karo) sangat mendukung ritus tradisi ini.

Agama Pemena/Perbegu erat kaitannya dengan agama Hindu dalam pemahaman ritus tradisi. Cikal bakal agama Hindu sendiri berasal dari imigran India yang masuk ke Tanah Karo.

Ada apa hubungan ritus tradisi dan agama ?

Saya ambil contoh Tarian. Pemahaman yang saya ambil disini adalah perbandingan budaya dan seni Karo dengan Bali. Mengapa Bali ?

Sebagai mayoritas pemeluk Hindu, Bali tetap memegang ritus tradisi. Kebetulan saya memahami betul budaya dan seni Bali.

Karo memiliki tari yang dipenuhi ritus tradisi sebagai contoh Tari Mulih-mulih, Tari Tungkat, Tari Erpangir ku lau, Tari Baka, Tari Begu Deleng, Tari Muncang. Karo boleh bangga mempunyai Tari Ndikkar(Mayan) yang dibawakan oleh Pendikkar(Pesilat). Tari ini hampir mirip dengan Tari Capoera  Brazil(Kalau saya tidak salah menulis).

Tari ini juga penuh dengan muatan ritus tradisi biasanya diiringi dengan kulcapi. Dan yang lebih menarik lagi, Karo juga memiliki tari Topeng Gundala-gundala yang biasa dibawakan di kampung Seberaya dan Lingga. Ritus Tradisi tarian ini mengharuskan penari topengnya adalah orang khusus.

Tapi semua ritus tradisi berangsur punah disebabkan kedatangan ketiga agama yang disebutkan diatas. Apa yang benar oleh adat  bertentangan dengan agama.

Konon Sibayak Pa Mbelgah Purba yang memiliki 17 orang istri dibaptis tahun 1911 oleh Pdt E.J van den Berg keluar dari kepercayaan Kristaninya karena adanya ritus tradisi yang harus dilakukannya sebagai raja. Tetap saja, sampai saat ini ritus tradisi bertentangan dengan agama.

Bali (baca:Hindu) adalah agama yang mengenal Brahmana, Waiysa dan Syiwa. Ada kecendrungan di Bali segala sesuatu dikeramatkan. Terkadang pohon dan kera/monyet bisa dikeramatkan. Ritus tradisi mereka tidak bertentangan dengan agama. Sebagai contoh saya ambil tari Topeng Bali. Kebetulan saya mendalami tari Topeng Bali. Terkadang saya harus keluar masuk Pura di Bandung dan acara-acara Bali untuk menyaksikan Tari Topeng dan mempelajarinya. Setelah mahir menari Topeng, saya merasakan sendiri ritus tradisinya pada topeng yang saya kenakan.

Orang Bali mengatakan topeng itu dipenuhi oleh kuasa dewa tari. Saya tidak percaya, karena bertentangan dengan agama yang saya anut. Sebelum melakukan ritus tradisi itu saya berdoa pada Sang Penebus Dosa saya. Hasilnya justru karena kekuatan yang diberikanNya, saya menjadi menari dengan bagus.Dan sekali lagi Bali terkenal dan berkembang pesat pariwisatanya bukan karena alamnya tapi dari ritus tradisi seni dan budayanya.

Dalam teater, saya juga melakukan ritus tradisi. Beberapa drama monolog saya juga memakai topeng. Salah satunya “Karo dibalik Topeng” yang beberapa waktu lalu dipentaskan di Jakarta. Saya memakai empat topeng. Tiga topeng wajah Karo dengan karakter berbeda, Satu wajah tua dibuat khusus dari Bali. Sebelum memainkannya saya melakukan ritus Topeng agar karakter penokohannya masuk. Hasilnya saya memainkan keempat tokoh dengan sempurna. Sebagai seorang sutradara, saya juga mewajibkan aktor-aktor saya untuk melakukan ritus akting. Yaitu dengan mengolah sukma

dengan spiritual akting. Dan hasilnya? Tidak usah ditanyakan. Saya dan teman Teater tidak pernah lupa untuk mengawali dan mengakhiri pementasan dengan doa. Doa pada Sang Khalik menurut agama kami masing-masing.

Yang menarik untuk diperbincangkan, sampai kapan ritus tradisi Karo bisa dipertahankan. Apakah semakin lama akan semakin punah? Kita tidak boleh menyalahkan agama. Jika kita menyalahkan agama berarti kita menyalahkan Tuhan.

Disamping tari-tarian seperti yang saya sebutkan diatas, masih banyak ritus tradisi yang dipunyai Karo. Tapi sampai kapankah bisa bertahan?