Saya tertawa kecil melihat tingkah teman saya yang berulangkali mengusap keringatnya dengan saputangan. Maklum, teman saya itu menjadi bintang di pesta siang itu. Dia mengundang saya di hari pernikahannya yang diadakan di sebuah gedung wilayah Ragunan Jakarta Selatan.

Setiap acara demi acara diikutinya dengan penuh semangat. Dari pemberkatan di gereja sampai kerja adat. Namun kerja adat ini merupakan puncak kelelahan dari teman saya ini. Selain di sepanjang acara dia harus mengenakan ose pakaian adat yang konon sangat berat dan membuat kita kaku untuk bergerak, dia harus mengikuti proses adat Karo yang penuh dengan tata aturan turun-temurun.

Nyaris satu jam dia berdiri dengan pasangannya sambil mendengar pedah-pedah dari Kalimbubu. Semua pihak Kalimbubu berganti bicara. Seolah corong Mic yang dipegang oleh pihak Anak Beru yang didaulat sebagai MC tidak boleh dibiarkan kering. Tentu saja semuanya harus didengarkan dengan baik oleh pihak Sukut, terutama teman saya yang punya hajatan ini. Kalau tidak mendengar, atau paling tidak duduk sambil mendengar, tentu saja akan dianggap tidak menghargai pihak Kalimbubu yang berjuluk Dibata Ni Idah itu. Dan secara adat Karo, itu haram hukumnya.

“Hhhh, betul-betul adat Karo ini penuh dengan bicara. Kau lihat itu tadi Joey, semuanya mau bicara. Padahal yang mereka bilang itu-itu aja. Terlalu bertele-tele aku lihat. Kenapa enggak satu orang aja yang bicara mewakili satu Sangkep Nggeluh,” kata teman saya itu ketika menghampiri saya yang sedang asyik merokok di pojok ruangan.

“Itu namanya adat Karo, teman. Kalau tidak banyak bicara bukan adat Karo namanya. Justru dengan banyak bicara itulah ciri khas adat kita,” jawab saya enteng sambil mematikan rokok di tong sampah dekat saya berdiri.

“Kau enak saja ngomong. Kau belum kawin. Coba kau kawin nanti, kau pasti mengeluh juga ngikutin adat bertele-tele gitu.” kata teman saya itu lagi.

“Ah masa sih?” kata saya tertawa sambil menepuk-nepuk pundaknya,”Temani gadismu itu. Jangan kau lama-lama disini. Disangkanya nanti kau tidak lagi sayang padanya. Kau harus menjadikannya seorang putri malam ini. Jangan kau banyak mengeluh, hilang pula moodnya nanti.”

Teman saya tertawa mengangguk pada saya. Saya hanya memandang kepergiannya sambil berpikiran bagaimana dengan saya nanti. Mungkin tahun depan saya akan mengalami hal sama seperti teman saya. Mungkinkah saya akan mengeluh sama seperti teman saya tadi. Dan menyalahkan adat Karo dengan budaya banyak bicaranya. Dan kalau saya tidak menggunakan adat dalam menikah, tentu saja saya akan dicap sebagai anak tidak tahu adat dan tidak beradat!

 

Budaya Pet Ngerana    

Budaya pet ngerana atau suka berbicara sudah menjadi tradisi pada masyarakat Karo. Dia hadir karena merupakan kebutuhan adat. Dan memang berbicara merupakan bagian dari adat Karo itu sendiri. Semua pedah-pedah dari Sangkep Nggeluh harus didengarkan dengan baik. Konon kalau tidak ada Sangkep Nggeluh berbicara (baca : berikan pedah) dianggap belum ada pasu-pasu dari Sangkep Nggeluh.

Namun sayangnya budaya berbicara ini untuk sebagian orang dianggap terlalu berlebihan. Terkadang terlalu over untuk kondisi tertentu. Misalnya seperti yang dialami saudara saya ketika ayahnya meninggal.

Mulai dari pagi keesokan harinya dilaksanakan upacara adat kematen di sebuah Jambur di daerah Padang Bulan. Mulai dari pagi pula teman saya itu dan segenap anggota keluarganya mengikuti upacara adat ini. Mulai dari pagi pula teman saya itu harus menari sambil diiringi gendang lima sedalinen. Mulai dari pagi pula teman saya itu harus mendengarkan pedah-pedah sangkep nggeluh, sambil menari dan diiringi gendang tradisional Karo itu. Dan hebatnya, ini mulai berlangsung dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore! Dan hanya diselingi 1 jam untuk makan siang. Dalam posisi yang berduka cita, dia harus mengikuti semua sesi tari adat kematen. Dan setiap sesi tari bisa memakan waktu minimal setengah jam.

Tentu saja yang lama disini bukan proses menarinya. Namun pada saat momen berbicara dari Sangkep Nggeluh. Saya bisa menghitung rata-rata satu sesi Sangkep Nggeluh yang berbicara bisa 5 sampai 10 orang. Padahal yang berdiri ada 20 orang. Kalau sampai 20 orang yang berbicara dengan rata-rata berbicara 5 menit, mungkin saja saudara saya itu dan anggota keluarganya akan pingsan!

“Orang sudah berdukacita begini, malah dipaksa menari capek-capek sambil mendengar ocehan mereka. Apa mereka tidak punya hati dan kasihan?!!” kata saudara saya dengan kesal pada saya. Saya maklum padanya karena saya pernah mengalami hal yang sama saat ayah tercinta meninggalkan kami tahun lalu.

Sebenarnya adat berbicara ini bisa dipermudah. Misalnya setiap sesi Sangkep Nggeluh yang berbicara mewakili hanya satu orang, yang mewakili dari yang paling senior atau dituakan. Dan cukup hanya satu orang.

Tapi adat Karo berbeda. Seseorang tidak puas kalau dia tidak berbicara. Padahal yang diucapkannya, isi dan pedah sama persis dengan yang diucapkan orang-orang sebelumnya. Hanya untuk menghormati dan menghargai dia sebagai sesepuh adat. Tidak lengkap rasanya kalau seseorang itu belum bicara.

Lucunya pernah saudara saya menari dengan saya pada saat kami didaulat pihak Anak Beru untuk ke depan. Sambil mendengar pedah-pedah orang-orang yang posisi Sangkep Nggeluhnya sama dengan kami, saudara saya menggerutu, “Ngeranai je lalap. E lalap katakenna. La tehna kita enggo latih cinder jenda.”

Yang membuat lucu ketika giliran saudara saya itu didaulat untuk berbicara, malah dengan senang hati dia menerima Mic yang disodorkan padanya dan berbicara dengan gamblang tanpa pengertian pada kami yang sudah merasa kecapekan.

Satu kesimpulan kecil yang bisa ditarik disini. Orang Karo akan senang bila didaulat untuk berbicara. Justru dia tidak senang jika melihat orang terlalu banyak bicara.   

Pemaparan tulisan ini tentu saja harus ditarik sebuah kesimpulan matang untuk pelestarian budaya ke depan. Budaya berbicara tetap tidak bisa dipisahkan dari khazanah budaya Karo. Namun budaya bicara harus disesuaikan oleh individu-individu yang terlibat dalam menyikapi situasi dan kondisi tertentu.

Misalnya pada saat mengadakan upacara adat kematen, kita harus pengertian dengan yang sedang berdukacita. Staminanya pasti sudah menurun pada saat musibah menimpa dia. Sekarang malah kita paksa dia berdiri, menari, sambil mendengar kita berbicara dengan tingkah sok bijaksana. Betapa kasihannya dia.

Mungkin perlu dibuat penyederhanaan adat berbicara ini. Misalnya setiap sesi mewakili Sangkep Nggeluh hanya satu orang yang mewakili untuk berbicara. Apakah itu tokoh senior, sesepuh dalam posisi di Sangkep Nggeluh, atau siapapun itu. Ini cukup mewakili semua pihak yang berdiri bersamanya. Kalau ini terjadi, mungkin tidak akan menyita waktu atau tidak membuat bosan dan capek pihak Sukut atau pihak-pihak lain yang terlibat.

Penyederhanaan adat menjadi kesimpulan kita sebagai pelaku-pelaku adat dalam menyikapi kekayaan yang dimiliki kebudayaan Karo. Di zaman yang berkembang ini, kita tidak bisa terpaku dengan pola adat yang memang bukan hidup di zamannya lagi. Disinilah pentingnya kita dalam memilah-memilah.

 

Bujur ras Mejuah-juah kita kerina

 

Batavia, 180907 11.50