Inlander

Deli 1931, Kediaman Herman Janssen
Er is iets niets in orde in de Kebon verhoudingen” kata Herman Janssen dalam hati sembari menyeruput kopi panas di meja kerjanya. Kopi itu kopi kesukaannya. Kopi asli Sidikalang yang seminggu sekali dititipkan seorang sahabat melalui sebuah bus dari Tanah Karo. Empat gelas cangkir tanpa henti tidak akan terasa baginya jikalau dia sedang berpikir keras. Saat ini dia sedang berpikir keras, mungkin terlalu keras hingga 5 gelas kopi sudah diteguk tanpa henti. Bahasanya yang diucapkannya tadi lazim diucapkan dalam bahasa kaum Inlander sebagai, ada sesuatu yang tidak beres di perkebunan-perkebunan.

Perlahan dia mengambil kotak cerutu dari laci meja. “Forza Italia” tertulis di label depan kotak cerutu itu. Sebuah merek yang menjanjikan akan memberikan ketenangan pada otaknya detik ini. Dengan sebuah geretan dia menyalakan moncong cerutu itu. Sekejap saja asapnya membumbung ke seluruh ruangan.
“Kuli-kuli itu kembali menyerang? Ada apa dengan mereka? Apa upah yang mereka terima tidak cukup?” serentetan pertanyaan menghujani lubuk hatinya.
Herman Janssen adalah seorang Tuan. Begitulah orang-orang Inlander itu memanggilnya. Dia adalah Tuan Kebun di daerah ini dan sangat berpengaruh hingga semua orang menghormatinya. Herman adalah pemilik kebun tembakau Deli Mij yang konon harum tembakaunya diakui oleh para bangsawan di saentero Eropa.
Perkebunan Deli Mij dia wariskan dari ayahnya Erick Janssen yang memang pembuka ladang tembakau Deli bersama Nienhuys pada tahun 1864. Ketika ayahnya menghembuskan nafasnya terakhir kali tahun 1921 serta merta Herman mewariskan harta papanya satu-satunya itu. Dua tahun setelah papanya meninggal, mama yang amat disayanginya juga menyusul. Jadilah Herman menjadi anak sebatang kara, karena memang dia seorang anak tunggal.
Namun Herman tidak merasa dilahirkan tunggal. Dia merasa seseorang telah dilahirkan untuknya. Menemaninya dan membimbingnya sejak kecil. Mengajarkannya tentang arti kehidupan dan bagaimana menghadapinya. Ia menghormati orang itu. Tanpa orang itu dia mungkin tidak akan bisa seperti ini. Dan mungkin saja dia tidak akan tahan menerima kenyataan. Namun orang itu telah menguatkannya. Mungkin hanya orang itulah Inlander yang dia anggap bisa sejajar bahkan melebih kaum kulit putih. Walau dibandingkan seorang Sultan dan kaum para priyai sekalipun.
“Ruminah!!!” panggilnya.
Seorang wanita setengah baya berjalan tergopoh-gopoh mendatanginya. Wanita itu seorang Jawa dengan tutur santun khas ningrat. Tapi wanita itu bukan ningrat, sedikitpun tidak terpercik darah ningrat dalam darahnya. Wanita itu menatap wajah Herman tajam. Herman tidak kuasa menatap wajah itu. Karena wanita yang dihadapannya sekarang adalah sosok yang dihormatinya itu.
***
Mulai dari Herman Janssen masuk ke ruangannya dan menghirup kopi gelas pertamanya, Rudang sudah berdiri di sisi jendela. Pandangannya tidak lepas dari sosok Herman.
Dia sudah besar sekarang,” haru biru hatinya memandang pria Belanda di balik jendela itu. Ingin rasanya dia menangis. Menumpahkan air matanya tuk lepas kerinduannya. Dia menggenggam kain panjang yang dijaganya sejak dulu. Kain panjang itu biasa dipakai untuk menggendong bayi. Dielusnya kain panjang itu.
Bujur Dibata,” serunya dalam bahasa Karo. Wanita berusia 60 tahun itu memang seorang Karo. Wajahnya yang tua tampak letih. Seolah dia sudah berjalan berkilo-kilometer jauhnya. Dan memang itu sudah dilakukannya hanya untuk menemui tambatan hatinya. Bertahun-tahun dia berharap kejadian ini terjadi. Bertahun-tahun pula dia berdoa pada Sang Khalik agar mengabulkan permohonannya. Hari ini pula doanya terkabulkan. Dia sangat bersyukur.
Bertahun-tahun dia tidak bertemu dengan kekasih hatinya ini. Sekarang sang kekasih sudah berada dihadapannya.
Aku harus menjelaskan semuanya,” serunya dalam hati. Dia harus membuka tabir yang tertutup selama bertahun-tahun ini. Kebenaran harus segera diungkapkan. Dan sekaranglah saatnya. Sang kekasihnya, orang dibalik jendela itu harus mengetahui semuanya.
***
Ruminah, kau jaga rumah. Aku ke perkebunan dulu. Kuli-kuli itu harus kubereskan. Mereka membuat keonaran di sana-sini. Apa mereka pikir mereka bisa melangkahiku dengan cara-cara memalukan ini,” kata Herman dengan suara tinggi.
“Ja, de Jongen!” kata Ruminah. Segera wanita itu mengambil mantel yang tergantung di dinding ruangan. Herman memakai mantel dan meraih topi bundar Jerman kesayangannya.
“Tutup semua pintu! Siapa tahu para bangsat itu masuk ke rumahku,” pesan Herman sambil bergegas menuju pintu.
Ja, de Jongen!” Ruminah menghantarkan tuannya keluar lalu segera menutup pintu dan menguncinya. Bergegas dia menuju meja kerja Herman dan membereskan kertas-kertas yang berserakan di meja itu.
“Ruminah!”
Sebuah suara berbisik memanggilnya. Ruminah mulai awas.
“Ruminah!”
Suara itu kembali mamanggil. Tapi entah dari mana. Dengan perlahan Ruminah mencari asal suara.
Ruminah! Disini aku disini!”
Ruminah mulai menyadari suara itu berasal dari jendela. Dengan gerakan tidak kentara dia mengambil sebuah parang yang tergeletak tak jauh dari meja kerja Herman. Dia mengeluarkan parang itu dari sarungnya. Dengan langkah-langkah mengendap dia menuju jendela.
“Siapa?” kata Ruminah bersiap dengan parang di tangan.
“Ini aku Ruminah. Aku.”
Ruminah mendekati jendela, “Siapa?”
“Aku Rudang, Ruminah. Rudang!”
Rudang?” nama itu menghentikan gerak Ruminah. Sebersit dia teringat sesuatu.
“Ya, Ruminah. Ini Rudang.”
Ruminah mengingat nama itu. Serta merta Ruminah membuka Jendela. Seorang wanita lusuh berdiri letih dihadapannya.
“Sedang apa kau disini Rudang?” kata Ruminah terkejut.
“Aku haus Ruminah. Bolehkah aku masuk?” sahut Rudang dengan suara serak.
Ruminah melihat ke sekeliling, “Masuklah Rudang. Masuklah. Tidak ada orang disini.” Ruminah beranjak membuka pintu depan. Dengan langkah terseok-seok Rudang menuju pintu depan.
“Masuklah!”
Rudang memasuki ruangan itu. Dia tampak letih amat sangat. Dia mengusap peluhnya dengan kain panjang yang melilit pundaknya.
“Duduklah Rudang. Aku akan menyiapkan minummu!”
“Terima kasih Ruminah.”
Rudang duduk di sebuah bangku dalam ruangan. Ruminah meninggalkan tempat itu. Rudang memandang sekeliling ruangan dengan takjub. Tak lama kemudian Ruminah kembali dengan segelas teh manis hangat.
“Minumlah, Rudang,” Ruminah memberikan teh masnis itu lalu duduk diseberang Rudang.
“Terima kasih, Ruminah. Terima kasih.”
Rudang menghirup teh manis itu dengan cepat. Dalam sekejap teh dalam cangkir itu habis.
“Mau tambah lagi?” tanya Ruminah.
“Tidak Ruminah. Terima kasih. Ini sudah cukup.”
Lama mereka diam. Hingga akhirnya Rudang memecahkan keheningan, “Kau tidak berubah Ruminah.”
“Kau juga Rudang.”
Mereka diam lagi.
“Kau mau menemui dia?” ucap Ruminah menatap wajah Rudang dengan haru.
Ya Ruminah, sudah bertahun-tahun aku menantikan saat ini.”
“Dia memang perlu tahu. Dan seperti kau bilang, mungkin sekaranglah saatnya.”
“Aku pikir setelah Erick pergi dan istrinya mengikutinya. Tidak ada yang bisa menghalangiku lagi,” suara Rudang bergetar.
“Memang.”
“Terima kasih Ruminah. Kau telah menjaga dan merawatnya. Hingga tadi ketika aku melihatnya, aku yakin dia tidak kekurangan apa-apa.”
Aku harus membalas budimu, Rudang. Kalau bukan karenamu aku tidak akan mungkin bisa meninggalkan perkebunan itu.”
“Kau yang paling baik diantara mereka, Ruminah. Dan kau dekat denganku. Itulah sebabnya aku memilihmu.”
“Untuk itu aku ucapkan sekali lagi terima kasih padamu Rudang.”
Mereka diam lagi.
“Maukah kau menolongku?” harap Rudang.
“Aku akan mengaturnya untukmu,” kata Ruminah pasti.
“Terima kasih Ruminah, terima kasih,” Rudang menghambur haru memeluk Ruminah.
Dia adalah hakmu Ruminah. Kau layak mendapatkannya, ” kata Ruminah mengusap bahu Rudang.
“Dengan apa aku membalasnya. Aku tidak punya apa-apa lagi,” sahut Rudang setengah menangis haru.
“Tidak perlu. Apa yang telah kau perbuat padaku sudah lebih dari cukup. Tidurlah di gudang belakang selagi aku menghanturkan semuanya untukmu Rudang,” kata Ruminah membimbing Rudang bangkit.
“Dibata simasu-masu kam Ruminah.”
Mereka meninggalkan tempat itu.
***
Herman Janssen duduk dibalik mejanya. Beberapa laporan yang datang pagi ini merisaukannya. Pemerintah pusat telah memutuskan untuk mempercepat rancangan “Koelie Ordonantie 1931” untuk seluruh Hindia Belanda.
“de Jongen.”
Herman mengangkat kepalanya. Ruminah berdiri dihadapannya.
“Ja?”
“Seseorang ingin menemuimu.”
Siapa?”
“Seorang wanita. Dia datang dari Kabanjahe.”
Herman menghela nafas dan pandangannya kembali pada kertas yang dipegangnya, “Katakan aku sedang sibuk. Aku tidak punya waktu untuknya.”
“Tapi de Jongen?”
Tidak ada tapi tapi Ruminah,” jawab Herman tidak menghiraukan perkataan Ruminah.
“de Jongen!!” nada suara Ruminah menaik.
Herman mengangkat kepalanya. Dia terkejut. Belum pernah Ruminah menaikkan intonasi suaranya kepadanya. Tapi suara Ruminah membuat darahnya naik.
“Apa kau tidak lihat aku sibuk! Pagi ini aku tidak bisa diganggu!”
“Aku ingin kau mengabulkan permintaanku ini de Jongen. Temui wanita Karo itu,” suara Ruminah balas menaik.
“Kalau aku katakan tidak padamu?”
Mungkin kita tidak akan bertemu lagi,” Ruminah berbalik meninggalkan Herman. Tapi belum sempat wanita itu meninggalkan ruangan, “Tunggu!!!”.
Ruminah menghentikan langkahnya. Herman panik. Ancaman Ruminah pasti bukan main-main. Wanita itu tidak pernah mengancam. Baru kali ini keluar ancaman dari mulut wanita itu. Berarti ini bukan sekedar basa-basi. Kalau sempat dia kehilangan wanita itu, maka tamatlah riwayat hidupnya. Dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini.
“Suruh wanita itu masuk!”
Ruminah pergi tanpa suara. Tidak lama kemudian dia masuk lagi bersama seorang wanita bertampang lusuh.
“de Jongen, wanita ini bernama Rudang,” kata Ruminah memperkenalkan Rudang.
Baiklah Mevrow Rudang. Aku tidak punya waktu banyak untukmu. Katakan apa yang kau inginkan dan segera pergi dari sini?” sahut Herman sambil mengambil cerutunya kemudian membakarnya.
Rudang diam. Dia terus menatap Herman. Perlahan air mata jatuh dari pelupuk matanya.
Herman jengkel, “Cepatlah perempuan, aku tidak punya waktu lagi!”
Rudang membuka mulutnya, suaranya bergetar, “Kam seperti…Bapandu. “
Herman terkejut. Tapi perkataan Rudang membuat dia makin jengkel, “Apa kau bilang? Tahu apa kau tentang papaku!”
Air mata mulai berderai membasahi pipi Rudang. Tubuhnya bergetar hebat, “Anakku….”
Apa yang kau katakan perempuan?!” kata Herman marah.
“Anakku…Kam anakku sikukelengi. ..” Rudang mendekati Herman dan berusaha memeluknya. Dengan cepat Herman mengelak hingga Rudang terjatuh tersungkur. Dia menangis.
Dengan cepat Ruminah membantunya bangkit, “de Jongen, dia ibumu!”
Apa…? Omong kosong apa yang kau katakan ini Ruminah…? Pergi kau perempuan… !!!” kemarahan Herman meluap.
“Herman dengarkan! Semua harus kau ketahui. Dia ibumu sebenarnya. Darah pribumimu berasal dari dia!” kata Ruminah sambil memeluk Rudang yang terus menangis.
Herman menghela nafas dan tertawa, “Hei, kau berdusta padaku Ruminah. Mama selalu mengatakan padaku, darah pribumiku berasal dari mamanya yang seorang Jawa keturunan Kraton,”
Ruminah mendekati Herman, “Mamamu telah berbohong padamu. Wanita itu adalah mamamu. Dialah yang telah melahirkanmu. Wanita itu dulu bekerja di perkebunan papamu. Papamu telah berhubungan gelap dengannya tanpa sepengetahuan istrinya. Wanita itu hamil dan akhirnya melahirkanmu. Karena papamu takut malu dia tidak sudi mengakui anak kuli itu anaknya. Akhirnya wanita itu menyuruh aku menghantar anaknya pada papamu untuk dipelihara sebagai anak angkat. Papamu setuju menerimanya dan menyuruhku untuk merawatmu. Mamamu setuju karena mereka tidak mempunyai anak, dan anak yang baru datang ini berkulit putih. Kau tahu? Papamu kecewa karena mamamu mandul dan tidak bisa memberikan keturunan padanya.”
PLAK!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Ruminah. Herman menatapnya marah. Wajahnya merah dan matanya menyala. Ruminah menatap Herman menantang. Dia tidak sedikitpun takut dengan laki-laki itu. Kebenaran harus diungkapkan. Utang harus dilunasi. Walau mati sekalipun dia telah bisa berdamai dengan takdir.
Herman mendekati Rudang. Dia tertawa terkekeh mengejek, “Jadi wanita ini ibuku. Untuk apa kau mengarang cerita ini perempuan? Kau perlu uang? Aku akan berikan padamu. Tapi kau harus pergi sini dan tidak pernah kulihat lagi.”
Rudang menangis amat sangat, suaranya bergetar, “Aku nandendu, nakku. Percayalah padaku. Kamlah darahku,” Rudang menunjukkan kain gendong yang digenggamnya, “Aku selalu membawa kain gendong yang kupakai untuk menggendongmu. ” Herman melihat sekilas. “Bapandu selalu mengumbar janji padaku. tapi dia tidak pernah menepatinya. Hingga terjadilah seperti ini. Kam harus percaya.”
Apa? Kenapa aku harus percaya padamu perempuan busuk,” Herman menjambak rambut wanita itu dan menghujamnya ke tanah. Rudang meraung kesakitan. Tangisnya terus berderai.
“Kau tidak boleh berbuat seperti pada ibumu, Herman!” Ruminah memegang lengan Herman, namun dengan cepat Herman menghela tangannya hingga wanita tua itu jatuh tersungkur.
Rudang merangkak mendekati Herman. Dia memeluk kaki lelaki itu, “Anakku, maafkan nandendu… maafkanlah bapandu….. “
Dengan cepat kaki Herman yang besar menendang wajah Rudang hingga wanita itu terpelanting. Rudang berusaha bangkit.
Herman melesat ke mejanya. Dari laci meja itu diambilnya sepucuk pistol yang memang selalu dipersiapkannya untuk berjaga-jaga. Dia menghampiri Rudang, lalu menjambak rambut wanita itu. Dengan tangan kanannya dia menodongkan pistolnya ke kepala wanita itu.
“Perempuan iblis kau penipu. Kau tidak bisa menipuku. Apa kau pikir aku punya darah Inlandermu. Aku tidak sudi punya ibu Inlander sepertimu!”
“Herman, kau memang anak kurang ajar!!!” Ruminah melompat mencengkram Herman. Namun belum sempat dia menyentuh tubuh lelaki itu, serta merta lelaki itu mengarahkan pistolnya dan menarik pelatuknya.
Ruminah terjengkang. Dia tertembak. Wanita itu memegang luka tembakan yang mengenai dadanya, dengan nafas terengah-engah dia berkata, “Kau.. memang…. anak durhaka….Herman!”
Ruminah menghembuskan nafasnya terakhir kali.
Hei perempuan, dia mengatakan aku anak durhaka. Wanita itu sangat kukagumi, kohormati. Dia merawatku sejak kecil. Dia mengajarkanku tentang arti kehidupan. Sekarang dia telah mati gara-garamu. Kau harus membayarnya dengan nyawamu, Inlander!”
DOR!!!
Sebutir timah panas hinggap di kepala Rudang. Dia sudah tidak bernyawa sebelum sempat berkata-kata.
Herman bangkit. Tubuhnya berkeringat. Pistol itu masih dalam gengaman tangan kanannya. Dia memperhatikan kedua tubuh wanita tua yang telah menjadi mayat itu, “Hahahaha… mereka telah mati! Dasar Inlander! Apa kau pikir aku bisa diperdaya olehmu. Tidak akan perempuan!”
Sudut mata Herman melihat jenazah Ruminah. Dia menghampiri jenazah itu. Dia jatuh berlutut di sisi jenazah itu. Tubuhnya bergetar menangis, “Ruminah mengapa kau pergi meninggalkan aku di saat aku memerlukanmu. Kenapa kau percaya wanita Karo itu Ruminah. Kenapa kau mengorbankan kepercayaanmu? Kenapa Ruminah?”
Dia menghela nafas, “Inlander adalah tetap inlander. Semua sama saja. Aku bukan Inlander. Tapi mereka bilang aku berdarah Inlander. Sekarang gara-gara Inlander aku tidak punya siapa-siapa. Bangsat kau Inlander!”
Dor!!!
Herman jatuh terjerembab tanpa nyawa. Darah mengalir dari pelipisnya. Hujan rintik yang mulai mengguyur Deli pagi itu seolah turut ikut hantarkan duka. Semua tidak akan bisa menerima karena takdir memang kejam.
 

Batavia, 220507 14.53
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s