Memories of Gundala Gundala

Tepat 6 tahun yang lalu kami terpilih mewakili Sumatera Utara untuk membawa tari topeng Karo Gundala Gundala di event Solo International Performing Arts (SIPA) tanggal 1-3 Juli 2011 di Pamedan Istana Mangkunegaran Surakarta. Saat itu SIPA mengundang 9 delegasi dalam negeri yang mewakili propinsi dan 9 delegasi luar negeri yang berasal dari USA, Belanda, Rumania, Korea Selatan, India, Meksiko, dan Malaysia. Perhelatan dengan tema TOPENG itu pula yang membuat kami Teater Aron diundang untuk membawa tari topeng dari suku yang satu-satunya yang punya kesenian tari topeng di Sumatera Utara.

Sebagai Sutradara, repertoar asli Tari Gundala Gundala saya modifikasi secara kontemporer untuk membawakan tari topeng ini layak dinikmati secara internasional. 5 tokoh Gundala Gundala dimainkan oleh Krisnaya Perangin-angin, Ellia Rony Sitepu, Gintar Ginting, Adi Ginting, dan Suaris Sembiring. Untuk tokoh wanita dimainkan oleh Rita Srimana Bukit yang topengnya diciptakan oleh Seniman Winarto Kartupat. Sementara saya sendiri memainkan tokoh Guru Mbelin. Pimpinan Produksi pertunjukan ini Yoe Anto Ginting. Untuk musik direcording di Studio Jack’s One dengan pemain musik tradisional Karo Alm Mail Bangun, Brevin Tarigan dan Pauzi Ginting.

Kami berangkat dari Medan menuju Jakarta. Dari Jakarta kami menuju Solo dengan bus Lorena yang menjadi ‘Sponsor Tim’ kami ketika itu. Di Solo kami disambut hangat oleh panitia dan menginap di satu hotel sendiri, private, tidak bersama dengan kontingen lain. Kami dijadwalkan pentas di malam kedua. Pagi hari di hari kedua kami melakukan gladi resik di pentas Istana Mangkunegaran. Mungkin karena musik tradisional Karo 5 sedalanen membahana ke sekitar tempat itu seorang laki-laki menghampiri kami. Dia memperkenalkan dirinya orang Karo. Dia terkejut karena mendengar musik itu lalu datang kepada kami. Lalu dia mengatakan malam ini dia akan mengajak komunitas Karo di Solo untuk datang pementasan dan mendukung kami.

Malam itu kami tidak menyangka ribuan orang datang ke Pamedan Istana Mangkunegaran untuk menyaksikan 6 delegasi yang akan pentas malam itu. Konon bapak Joko Widodo yang masih menjadi Walikota Solo ketika itu turut hadir untuk menyaksikan pertunjukan.

Kami memainkan Gundala Gundala dengan hati dan penuh penghayatan. Pertunjukan kami telah menunjukkan kepada dunia bagaimana kearifan lokal Karo mempunyai ciri khas jati diri dalam kekayaan budayanya. Selesai pentas beberapa media cetak dan elektronik datang kepada saya untuk wawancara. Saya jelaskan bagaimana Gundala Gundala sejarah dan pelaksanaannya sebagai ritual masyarakat Karo.

Esok harinya kami berkeliling Solo. Kami sempat dijamu oleh Pak Sinulingga seorang tokoh komunitas Karo di Solo. Dia mengatakan sangat bangga karena kami telah membawa nama Karo dan Sumut di SIPA.

Terima kasih SIPA, bapak Joko Widodo (Walikota Solo) dan seluruh masyarakat Solo yang telah menghadirkan kami untuk mengukir sejarah di kota itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s