Puisi Solidaritas untuk Sinabung

Akan kuceritakan sebuah kisah

kisah  penghantar kesunyian

dibalik tawa yang semakin surut

kisah dari kampung di kaki Sinabung

*

Dia adalah Janda dengan dua orang anak

bapak dari anak-anak itu sudah lama pergi

karena Tuhan memanggilnya tanpa tinggalkan alasan

walau begitu Nande Atan, nama Janda itu biasa dipanggil

tidak pernah sekalipun menyalahkan Tuhan

karena dia tahu, semuanya telah menjadi takdirnya

 

Kedua anaknya masih kecil, butuh perhatian dan pendidikan

dia kuras keringat, dan habiskan tenaga untuk hidupi keluarga

sepetak ladang peninggalan Bapa Atan di kampung itu, menjadi modal

dia tanam apa saja asalkan menghasilkan

 

Dua tahun sepeninggal Bapa Atan semua berjalan semestinya

tidak terbersit sedikitpun dalam pikiran ada firasat

dua tahun itu pula dia bisa menyekolahkan anaknya

kebutuhan di rumah pun jauh dari kekurangan

 

Saat tiba malam itu

saat mereka semua tertidur lelap

saat tidak ada satupun yang melintas di jalanan kampung

selain anjing-anjing kelaparan yang mencari sisa makanan di depan rumah

 

Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh

orang-orang terbangun dan membuka pintu rumah

 

Suara gemuruh keras kembali membahana

anak-anak kampung berhamburan mencari asal suara

Sinabung mulai memancarkan cahaya di kegelapan malam

semua ketakutan, anak-anak mulai keluarkan tangisan

ibu mereka berusaha menenangkan, walau mereka juga ketakutan

 

Saat itu pula dari mulut orang-orang beragama tersebutlah nama “Tuhan”

 

Tuhan, kenapa ini terjadi!

 

Awan panas dan lahar dingin datang begitu menakutkan

porak-porandakan kampung itu dalam sekejap

untung saja bantuan datang dengan sigap

semua terselamatkan termasuk Nande Atan dan anak-anaknya

 

Mereka mengungsi di satu tempat di Kabanjahe

tempat pengungsian yang dikelola oleh GBKP

ditempat itu pula mereka diajak untuk tetap bersyukur

walau setiap hari mereka tidur berhimpitan di tikar yang sama

belum lagi tiupan angin dingin menusuk tulang

 

Hancur sudah harapan pada hasil ladang

yang bisa dilihat hanya hamparan abu

tidak ada lagi yang bisa dijadikan uang

 

Janji-janji para penguasa tidak lebih seperti awan panas

datang dan terasa lalu pergi begitu saja

sekali dua kali bantuan berdatangan

tapi ganti rugi lahan dan sewa rumah tak kunjung datang

 

Terkadang bantuan datang namun ada potongan

seolah mereka tidak sadar penderitaan ini bukan luka berkepanjangan

sebagai anak kampung mereka hanya bisa diam

 

Malam itu Nande Atan merenung sendirian

sudah lima tahun dia di pengungsian

bersama dua anak yang tersayang

sampai kapan semuanya berakhir

 

Aku tulis sajak ini untuk menghibur dukamu Nande Atan

kau tidak sendiri terasing oleh nasibmu

hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh

anggaplah semua ujian kehidupan

 

Sudah banyak kulihat dan kudengar

erangan ketakutan membahana malam

isak tangis menyayatkan sanubari

lelehan air mata tidak terusap lagi

 

Lalu kau berjalan gontai

hidup ditengah penantian

diantara mereka-mereka yang tak kau kenal

namun saudara senasib sepenanggungan

 

Ingin kubuka hatimu serta alam pikiranmu

kalau semuanya memang ada maksud dan tujuan

antara kehendak, keinginan, dan ujian Tuhan

 

Ditengah siraman hujan di kala malam

mereka tengadahkan wajah ke langit

dan berkata dengan nada putus asa

 

Tuhan berapa lama lagi Engkau palingkan wajahMu

kasihanilah kami Tuhan, sebab kami sangat menderita

jangan hukum kami dalam murkaMu

dan jangan menghajar kami dalam amarahMu

 

Mengapa Engkau berdiri jauh ya Tuhan

dan menyembunyikan diri dalam waktu-waktu kesesakan

berapa lama lagi kau lupakan kami terus menerus

berapa lama lagi Kau sembunyikan wajahMu terhadap kami

berapa lama lagi kami harus menaruh kukuatiran dalam diri kami

dan bersedih hati sepanjang hari

 

Lalu aku menjawab mereka

Tuhan tahu berkehendak

Tuhan tidak pernah terlelap

 

Separuh bintang

kutanam di bukit-bukit awan

kusiram dengan cahaya Bulan

janganlah pernah kau takut

apa yang kelak terjadi di hari esok

 

Jika kau masih menyimpan pagi

yang kau katakan tidak bening lagi

janganlah pernah kau katakan lagi

Tuhan tidak mengasihmu

Tuhan tidak mengasihi Tanah Karo Simalem

 

Suatu saat akan tersirat dalam kebanggaan

kalau kau pernah hidup dalam kegetiran

dan sanggup menjalankan dengan kekuatan

yang asalnya dari Tuhan

 

Ujian ini akan berakhir kalau kau tetap percaya

tetaplah tersenyum dan bersyukur

Tuhan mengasihi Tanah Karo Simalem

 

 

Pancur Siwah 151017 11.55

Joey Bangun

 

Advertisements

One thought on “Puisi Solidaritas untuk Sinabung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s