Biografi

Lahir di Rumah Sakit Herna Medan tepat hari Minggu 9 September 1979. Joey Bangun lahir bukan dari keluarga seniman. Putra tertua dari Alm. Drs E.S Bangun dan Dkn. N. Br Sitepu. Sejak kecil Joey tidak pernah bercita-cita jadi seniman. “Tuhanlah yang berkehendak hingga saya seperti ini kini,” sebutnya.

Bakat seni dalam diri yang lain terlihat saat duduk di bangku SD dimana dia menyukai melukis. Sering kali dia ditugaskan oleh Kepala Sekolah dan Guru-gurunya ketika itu untuk melukis di acara peringatan hari besar di sekolahnya. Saat di SMP-SMA dia memperdalam seni musik terutama keyboard dan gitar. Di masa itu pula dia juga mendalami seni tari modern dance terutama Michael Jackson dance yang lain hangat-hangatnya ketika itu.

Joey mengenal drama sejak dia duduk di bangku SMP. Saat itu di tahun 1992 dia bermain dalam drama “Enggo Turah Sinisuan Ndube” (Tentang Sejarah GBKP) di GBKP Km. 8 Medan, karya sutradara Mando S. Brahmana. Dalam drama itu dia berperan sebagai Tala Barus salah satu orang Karo pertama yang dibaptis. Lalu berturut-turut dia memainkan Raja Herodes di Natal KA/KR se GBKP di Jambur Retreat Center Sukamakmur 1994. Tahun 1995 di tempat yang sama dia berperan sebagai YESUS KRISTUS dalam drama “Penghakiman Terakhir” di PIARA KA/KR 1995. Kesemua drama itu disutradarai oleh Mando S. Brahmana. “Mungkin di masa itu bang Mando sudah menemukan talenta saya. Itu sebabnya saya sangat berterima kasih padanya,” jelas Joey Bangun suatu ketika.

Saat kuliah di Teknik Elektro UK Maranatha Bandung, Joey menjadi Model Catwalk dan iklan. Beberapa kali dia mengikuti peragaan busana Fashion show salah satunya di acara Gebyar BCA. Dia juga terpilih menjadi model iklan Jarum Coklat. Dan menjadi Brand untuk Harlye Jeans, Rifle, dan Cardinal. Dia juga terpilih menjadi Wajah Remaja REVLON Indonesia. Karir modelnya mencapai puncak saat terpilih menjadi “Sang Lelaki Indosiar” ajang pemilihan lelaki berbakat Se-Indoenesia 2004 lalu.

Dari Model Joey banting setir ke dunia Teater. Dia memperdalam ilmu akting dan penyutradaraan di Studiklub Teater Bandung (STB) sebuah grup teater profesional dan tertua di Bandung. Bersama STB Joey bermain sebagai Leonardo dalam drama “Merchant of Venice”. Dari STB Joey Bangun mengenyam karir profesionalnya sebagai Aktor Teater bersama Main Teater sebuah komunitas teater persahabatan Indonesia – Melbourne. Bersama kelompok ini dia bermain drama “Serat Sarwa Satwa”.

Di kampusnya UK Maranatha Bandung, Sarjana Teknik Elektro ini membentuk komunitas Teater yang diberi nama Teater Topeng. Bersama kelompok yang baru dibentuknya itu dia langsung berkarya menjadi seorang sutradara. Karya-karya Joey Bangun bersama Teater Topeng tersebutlah “San Pek Eng Tay” (legenda Tiongkok – Adaptasi Joey Bangun menjadi Cina – Karo). Saat itu Teater Topeng dibawah kepemimpinannya terpilih mewakili Jawa Barat untuk mengikuti Festival Teater Mahasiswa di Bali. Maka terpilihlah drama ‘Cleopatra’ karya Willian Shakespeare yang dipentaskan Pekan Performing Art IV Bali 2004. Saat itu dia terpilih menjadi salah satu sutradara terbaik.

Kemudian dia memainkan lakon “A Midsummer Night’s Dream” (karya William Shakespeare) bersama Teater Topeng tahun 2004. Di tahun yang sama dia dipercaya oleh DPP PARTAI DAMAI SEJAHTERA (PDS) mengisi acara drama Natal berjudul “Pilar “Roma” di Natal DPP PDS 2004.

Tahun 2005 Joey hijrah ke Jakarta. Dia memperdalam ilmu Sinematografi di Yayasan Citra Pusat Perfilman Usmar Ismail dan juga workshop di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Setelah lulus dia menjadi Asisten Sutradara di sinetron “Bawang Merah Bawang Putih” dan “Putri Cahaya” produksi MD Entertainment. Kemudian dia dikontrak 52 episode menjadi Asisten Sutradara di MD Entertainment. Karya-karyanya bersama MD Entertainment adalah sinetron “Kangen” dan “Dunia Kecil”. Bersama Multivision Plus dia menggarap “Kado Indah Kebaikan”. Dia juga bermain sebagai aktor di FTV “Bukit Cinta” (sutradara Dedi Mizwar), Sinetron “Elang” (Magma Entertainment). Akhirnya sutradara Hanung Bramantyo mengajaknya bergabung menjadi asisten talent dalam film layar lebar “Doa yang Mengancam”.

Dalam film, Joey bertindak sebagai sutradara dalam film “Esensi” (Maranatha Worship), Film Dokumenter “Mencari Jejak Pawang Ternalem” (Aron Arts Production), “Buluh Awar Desa Zending Terpilih” (Yayasan Saluran Berkat).Salah satu karya terbaiknya dalam sinema adalah saat menulis cerita “Nande Rudang” dan diproduksi oleh TVRI Nasional dan sudah disiarkan Nasional tahun 2009 lalu.

Tahun 2006 dia membentuk komunitas seni Teater Aron yang kemudian dia sebut kelompok ini sebagai “Komunitas seni Karo Kontemporer”. Kelompok ini pertama kali mementaskan “Gertak Lau Biang” yang akhirnya meraih rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) dalam festival drama 7 bahasa 36 jam nonstop.

Bersama kelompok ini kemudian dia memetaskan drama monolog “Karo Dibalik Topeng” sebuah drama adaptasi ritus topeng Pajegan Bali ke Karo. Lalu dia melahirkan karya “Inlander” drama noir yang menceritakan sisi kelam perkawinan Karo – Belanda. Tahun 2008 menjadi puncak dari karir Joey Bangun sebagai Sutradara Teater. Dia mementaskan legenda Karo “Pawang Ternalem” di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Di bulan Desembernya komunitas seni ini diundang untuk mengisi acara Perayaan Natal Nasional Jakarta Convention Center.  Joey mempersembahkan karyanya “Sibayak Si Mesias” di acara yang diliput Stasiun TV Nasional itu yang juga yang dihadiri Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Tahun 2009 Joey menggarap legenda Sumatera Utara “Putri Hijau”. Pertunjukan ini kerjasama Teater Aron dan Pusat Kesenian Jakarta. Kemudian 2010, dengan dipercaya Moderamen GBKP akhirnya dia mengerjakan karya terbarunya “Zending”.

Joey juga pernah mendapat beasiswa pendidikan “Manajemen Organisasi Budaya” dari Yayasan Kelola dan PPM 2008 lalu.

Selain di dunia teater dan film, dalam tulis menulis Joey Bangun sudah banyak melahirkan karya. Dia pernah menjadi kontributor majalah Cosmopolitan dalam tulisan “Bercinta ala Don Juan.” Dia juga menulis banyak karya dan kajian tentang kebudayaan Karo di Koran Sinar Indonesia Baru (SIB), Analisa, Harian bersama, Sora Mido, Sora Sirulo, Geluh klasis Jakarta – Palembang, Buletin Maranatha GBKP, dll.

Beberapa bukunya antara lain “Kisah Karo Tempo Doeloe” dan “Pawang Ternalem”. Tahun 2010 dia memutuskan hijrah ke kota kelahirannya untuk mengabdi membuat film-film Karo dan juga Sumatera Utara yang mengangkat pesan moral untuk masyarakat Karo. Di tahun itu dia mendirikan Production House yang dipimpinnya hingga kini dengan nama ARON ARTS PRODUCTION.

21 thoughts on “Biografi”

  1. salam kenal

  2. lina said:

    salam kenal.ingin sekali saya ikut bermain teater dengan anda.saya menyukai seni peran tapi belum mendapatkan kesempatan untuk membuktikan kemampuan saya. saya biasa bermain untuk ftv dan serial lepas sbg extras dan talen. terima kasih atas kesempatan yg anda berikan saya menunggu respon melalui email

  3. dian kota said:

    salam kenal.saya berminat untuk bergabung dlm pementasan teater bersama anda.saya sangat menyukai seni peran tapi blm mendapat kesempakan untuk membuktikan kemampuan saya.saya biasa menjadi ektras untuk serial ftv,mc.beri saya kesempatan untuk membuktikan kemampuan saya. terima kasih

  4. Selamat berjuang untuk Karo !

  5. sastroy bangun said:

    bujur senina ibas pengabdianndu untuk mengangkat budaya, kususna budaya Kita Karo.
    Kuyakin, arah talentandu banci jelma i belang-belang doni banci i tandaina ugakan etnis karo situhuna.
    maju terus dan suksus alu pengarak-ngarak sang juru selamat.GBU

  6. Marlita said:

    syalom…!!!!

    aku salut melihat bakat seni kamu, sukses terus buat kamu.
    satu hal yang perlu saya ingatkan bahwa apabila sudah sukses jangan pernah lupa dengan tanah karo.

    semoga kariernya tambah sukses seiring bertambahnya tahun.

    salam,

    Marlita

  7. DeB_Sinulingga said:

    Wow………
    Luar biasa…..

    Jadi inspirasi bagi kalak karo tentunya…

    Maju….Hidup Kreatifitas…..

  8. dharma said:

    hai,joe,,!

    kenalan dunk,,!

    g ga sengaja ketemu blog ini, tadinya pengen cari tau ttg st.antonius / medan yg di km.11.

    tau tau gw ngeliat ada cowok yg lagi nge-rokok dgn gaya coollleer gt,, pesan sponsor ya,,ngerokoknya gt.

    warm rgd’s
    dharma

  9. zulfikar tarigan said:

    salam si tandan bang
    mari terus kita lestaRIKAN BUDAYA KARO
    sampai di dunia internasional
    dan meyalur kan ke pada generasi penerus orang karo
    dan sama2 kita dukungdan sama kita2 perjuang kan nama bandara kuala namo jadi nama orang karo kt banyak memiliki pahalawan salah satunay garamata dan guru patimpus sembiring dan itu masih daera karo jg
    jangan biar khan orang alen yg berkuasa pal
    maju terus tanah karo
    mejuah juah

  10. Mejuah juah…Cia You and good luck..dari seninandu i Batam-Kepri

  11. Mejuah-juah bang…

    saya suka semua tulisan dan karya abang…bagus, menarik, dan tentunya juga ada pesan moral dan education untuk generasi muda karo saat ini…

    saya sangat panatik sebagai orang karo…

    melihat jaman sekarang ini, budaya karo sangat menyedihkan dan memperihatinkan dimana sudah mulai terkikis oleh jaman…begitu banyak budaya barat yg telah bercampur dengan budaya karo, hingga budaya karo yg aslinya telah tertutpi oleh budaya asing…maaf sebelunya tanpa ijin ke pada abang…saya juga telah menyebarkan ke seluruh komunitas karo tulisan abang tentang ‘bahasa kao…oh bahasa karo’ itu sangat pas pada jaman sekarang ini…banyak genersai pemuda/i karo saat ini merasa tidak pentingg lagi akan ‘SENI DAN BUDAYA KARO SIMALEM’jangankan untuk mempertahankan, untuk memeplajarinya saja pada males semua…

    mari si pesikap kuta kemulihenta…adi la kita ise nari me la munggkin kalak asing…

  12. krissantono soerbakti said:

    mejuah-juah bang….
    salam kenal…..aku banyak dengar tentang kam dari endang….(waktu dia masih kerja di jakarta) kebetulan kami satu kantor..

    kebetulan saya seneng banget dengan budaya, terutama budaya karo…sangat disayangkan memang kita orang karo jarang sekali yang bisa membawa budaya kita ketengah-tengah peradapan kehidupan bermasyarakat umum.hanya bisa berekspresi ketika di internal aja….

    contohnya sangat jarang kita jumpai penulis-penulis karo yang menulis tentang budaya nya sendiri..

    tetap semangat bang….

  13. Mejuah-juah, Turang/impal….
    Udah lama denger namanya, tapi baru skrg lihat sosoknya. Bener2 tipikal face fotografer:p (its a compliment ya…). Keep ur creatifity…

  14. vio figurandi said:

    ingin sekali rasanya, saya menjadi seorang pemain teater terkenal seperti Anda, mempunyai imajinasi yang tinggi, membuat buku, dll.
    aku ingin sekali seperti anda !!

  15. J_u_s said:

    salam kenal bang, semoga semakin banyak muda-mudi karo yang mengikuti jejak anda bang…dan mari kita lestarikan budaya-budaya karo dan budaya-budaya lainya yang ada di negeri ini

    mejuah-juah

  16. salam kenal🙂

  17. aq la bnci bagi kam ena bg?.

    #bujur

  18. agos langkat said:

    flim batak pun banyak kam sutradai bang salut

  19. agos langkat said:

    bukan plim karo aja abang sutradarai tapi flim batak juga … aku salut sama abang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s