merga

SEMBIRING BRAHMANA

sembiring brahmana

Brahmana adalah salah satu merga suku Karo dari golongan Sembiring. Diduga berasal dari India. Merga ini digolongkan dengan Sembiring Singombak yaitu Sembiring yang melakukan ritual pembakaran mayat yang kemudian abunya dihanyutkan ke sungai Lau Biang yang dipercaya akan bertemu dengan sungai Gangga di India.

Merga Sembiring Brahmana berasal dari kuta Rumah Kabanjahe, Perbesi, Limang, Bekawar, Singa, dan Deli Tua.

Sembuyak merga Brahmana dalam golongan Sembiring adalah Gurukinayan, Pandia, Colia, dan Muham. Sembuyak disini artinya keturunannya tidak boleh saling kawin mengawini.

JOEY BANGUN

Advertisements

Cekurak

Suatu sore di bulan Desember 2006, tepatnya di Jakarta International Film Festival (JIFFEST) tanpa sengaja saya bertemu dengan Dian Sastrowardoyo, aktris terkenal peraih piala Citra lewat aktingnya dalam film laris “Ada apa dengan Cinta”.

Kebetulan saat itu bioskop Djakarta XXI venue JIFFEST penuh sesak oleh pecinta-pecinta film yang mau menonton film-film dari berbagai penjuru dunia. Sebenarnya sosok Dian Sastro tidak begitu menonjol dibanding penonton lain. Namun feeling saya yang diciptakan sensitif pada artis cantik cepat menangkap sosok Dian. Entah kenapa, sore itu Tuhan begitu baik pada saya, hingga mengabulkan permohonan saya berada satu bioskop dan duduk di dekat Dian Sastro!

Film VOLVER asal Spanyol yang kata orang bagus dan menang di berbagai festival film, justru tidak menarik di mata saya. Malam itu tidak ada yang paling menarik dalam alam pikiran saya selain Dian Sastro yang duduk di dekat saya.

Terus terang saat itu saya tidak bisa kosentrasi lagi. Mata saya memang melotot ke widescreen. Namun hati saya sedang menikmati raga Dian Sastro. Teman saya, seorang sutradara film yang kebetulan duduk di sebelah saya nyeletuk, “Tempat kerja lo kan banyak artis. Cewek gitu aja diliatin. Norak lo!!”. Dengan suara setengah berbisik (agar tidak terdengar Dian) saya berkata, “Ini Dian Sastro, men!”.

Cekurak milik siapa

Menurut kamus besar bahasa Karo karya Darwin Prinst, tertulis pengertian Cekurak adalah menjelekkan orang lain, atau menjelek-jelekkan sifat orang lain. Cekurak bisa juga diartikan dalam bahasa Indonesia, ngomongin orang lain atau yang lebih dikenal dengan nama GOSIP. Continue reading “Cekurak”

Jungut – Jungut

Secara tutur saya memanggilnya Kila. Tetapi dia lebih senang dipanggil abang daripada dipanggil Kila. “Biar tidak terlihat tua” katanya suatu ketika. Sore itu pertemuan saya dengan abang itu di sebuah café yang menjual aneka cokelat perusahaan francise dari Paris, di Mall baru di kawasan Senayan Jakarta. Pertemuan ini membuat saya agak sedikit gugup. Maklum, abang ini termasuk 10 besar orang Karo tersukses versi buku “Orang Karo diantara orang Batak” karya Martin Perangin-angin.

Kebetulan konglomerat Karo ini meminta saya untuk membantunya mendaftar di beberapa mailinglist Karo. Alasannya sederhana, “Untuk mengetahui perkembangan Karo.” Dengan sigap pula saya membuka berbagai portal yahoogroups langsung dari laptopnya sambil menyeruput secangkir coklat panas yang segelasnya sampai Rp. 45.000!

Selama melakukan register mailinglist, sang abang terus bercerita mengenai bisnisnya dan segala keterkaitannya dengan Karo. Dia mencoba bertanya, atau lebih tepatnya mencoba meminta nasihat dari saya, bagaimana caranya bisa sukses berbisnis dengan orang Karo. “Kenapa ya kalau kita bekerjasama dengan orang Karo tidak pernah berhasil?” Continue reading “Jungut – Jungut”

Gertak Lau Biang

gertak-kecil.jpg

Rasanya tidak orang yang lahir, besar, atau paling tidak pernah tinggal di Tanah Karo tidak mengenal Gertak Lau Biang (baca : Jembatan Lau Biang). Jika ditanyakan apa pendapat mereka tentang Gertak Lau Biang dengan perasaan bergidik dan dibumbui cerita-cerita seram mereka akan menjelaskan tentang jembatan angker tersebut.

Konon penamaan Lau Biang itu sendiri diambil dari cerita dimana salah seorang nenek moyang merga Sembiring pernah dikejar musuhnya kemudian menyelamatkan diri dengan menceburkan diri ke sebuah sungai dan hampir tenggelam. Seekor anjing kemudian menyelamatkan orang itu dan membawanya ke seberang. Mulai dari situ sungai tersebut dinamakan Lau Biang dan Merga Sembiring Singombak berjanji untuk pantang makan daging anjing.

Sembiring Singombak yang dalam bahasa Budayawan Karo Brahma Putro disebut Sembiring Hindu Tamil menganggap Lau Biang adalah sungai suci. Dulu Seberaya (sebelumnya disebut Sicapah) yang menjadi pusat dari Sembiring Singombak diadakan perayaan besar “Kerja Mbelin Paka Waluh” seremai sekali atau 32 tahun sekali. Menurut peneletian Kerja Mbelin Paka Waluh terakhir terjadi antara tahun 1850-1880. Continue reading “Gertak Lau Biang”

Senjata Nande-Nande di Koran Kompas

Nande-Nande di Kompas

Sebagai perantau saya sangat terkejut ketika melihat sebuah gambar di harian Kompas terbitan Selasa, 29 Maret 2005 hal 20.Disitu terlihat gambar tanpa berita berukuran 5R Nande-Nande dan Nini-nini warga jalan Ngumban Surbakti lengkap dengan tudung masing-masing.

Tertulis dibawah gambar :

Siapkan “Senjata”- Sekitar 60 pengunjuk rasa, ibu-ibu warga jalan Ngumban Surbakti, yang Senin (28/3) kemarin menuntut realisasi ganti rugi tanah mereka, makan sirih dan mengunyah tembakau.Selain merupakan kebiasaan, mereka mempersiapkan air sirih dan tembakau untuk disemburkan kepada polisi yang menghalangi mereka masuk ke kantor Wali Kota Medan. Continue reading “Senjata Nande-Nande di Koran Kompas”

Karo dan Perfilman Nasional

Suatu kemajuan pesat yang diberikan oleh orang-orang Karo yang telah mendedikasikan hidupnya untuk perfilman nasional. Kenapa saya bilang pesat ? Karena saat ini Karo sudah mempunyai aktor yang paling senior dari segi umur dan pengalaman sampai yang paling junior. Untuk itu saya sedikit memberikan turi-turin tentang sepak terjang orang Karo dalam kancah perfilman nasional. Karena mungkin film merupakan sudah menjadi bagian dari hidup saya saat ini. Continue reading “Karo dan Perfilman Nasional”

Hari gini belum…Karo

Karo dan Kekaroan semakin luntur. Kesimpulan penting untuk disingkapkan. Sebuah motivasi akan saya jabarkan sedikit untuk menanggulangi semakin lunturnya Karo dan kekaroan kita.

Sebuah iklan yang sedang beredar dipercaturan televisi Indonesia. Saya tidak bermaksud mempromosikan iklan itu. Tidak sedikitpun keterkaitan saya dengan produk yang ditawarkan. Tapi saya tertarik untuk mengangkat “keyword” yang dimiliki iklan tersebut. Continue reading “Hari gini belum…Karo”

Karo dan Olahraga

Sebuah tambahan kecil atas tulisan bang Juara di Soramido XIII “Karo Baru dan Marco Van Basten”. Sebuah pertandingan special memang ketika saya menyaksikan pertandingan itu di layar kaca televisi tanah air. Belanda menang 2-0 atas Rumania. Tentu menarik disimak karena saya juga penggemar sepak bola sama seperti penulis. Hanya berbeda tim favorit saja. Saya lebih menyukai Italia, untuk urusan klub dari dulu saya memang tifosi Internazionale Milano sejati. Dalam negeri? Tentu PSMS Medan menjadi klub yang telah mendarah daging turun temurun keluarga saya. Konon tokoh utama saya dalam Cerita “Sibayak” Hana de Jong diilhami dari seorang pemain muda Belanda keturunan Suriname beroperasi di sektor sayap yang memperkuat Ajax Amsterdam, Nigel de Jong.

Untuk itu saya tertarik untuk membahas tentang “Karo dan Olahraga”. Seberapa banyak orang Karo yang mengharumkan nama bangsa atau Karo sendiri dalam bidang olahraga ? Jari tangan cukup untuk menghitung semuanya. Continue reading “Karo dan Olahraga”

BAHASA KARO…OH…BAHASA KARO

Jangan katakan dirimu Karo

Kalau kau tidak bisa berbahasa Karo

Buka saja topeng kekaroanmu

Karena aku benci Karo Dibalik Topeng

(Joey Bangun, KARO DIBALIK TOPENG)

Berapa diantara kita yang membaca tulisan ini yang mengerti, atau bisa/fasih/pasif menuturkan bahasa Karo? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab kepada saya. Tapi cukup dijawab di hati saudara. Coba sekali lagi renungkan penggalan monolog yang saya tuliskan di atas dan coba raba-raba dimanakah kedudukan anda sekarang. Selagi anda masih meraba-raba, saya sudah menyimpulkan “kebudayaan Karo diambang krisis identitas”.

Dalam ilmu antropologi bahasa/language dikenal dengan sistem perlambang yang secara arbitrer dibentuk atas unsur-unsur bunyi ucapan manusia, dan yang digunakan sebagai sarana interaksi antar manusia. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 3 yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, bahasa berarti sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Di sisi lain dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan sebuah identitas suku/bangsa. Continue reading “BAHASA KARO…OH…BAHASA KARO”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑