Sinetron Nande Rudang

Genap sudah 10 tahun lalu kami menorehkan sejarah, membuat sinetron Karo pertama dengan para aktornya hampir semuanya orang Karo, mengambil lokasi hampir seluruhnya di Tanah Karo, ditayangkan secara nasional melalui TVRI, sinetron itu kemudian dikenal dengan judul NANDE RUDANG.Suatu sore di bulan Nopember 2008 sebulan setelah saya mementaskan drama Karo “Pawang Ternalem” di Taman Ismail Marzuki Jakarta saya mendapat telepon dari Petrus Barus (Pepeng) yang juga pemain saya di Pawang Ternalem. Petrus yang secara tutur adat Karo saya panggil Kila itu mengabarkan saya kalau seorang Produser TVRI ingin bertemu dengan saya. Lalu kami jadwalkan waktu untuk bertemu.

Sore itu disaat cuaca Jakarta sedang cerah kami mengobrol di satu sudut ruangan di kantor TVRI di kawasan Senayan. Petrus mengenalkan saya dengan Produser TVRI itu. Namanya Simson Tarigan seorang Karo berasal dari desa Tanjung Merawa Tiganderket. Secara tutur sepantasnya saya panggil dia Bengkila karena dia bebere Singarimbun dan kakak di rumah juga Beru Perangin-angin. “Panggil saja abang,” katanya ketika itu. Mungkin untuk memperdekat jarak kami mengobrol sebagai teman bukan secara adat yang harus saling menghormati.

“Saya ingin membuat Sinetron Karo,” ucap sang Produser.
Kata-katanya membuat saya setengah tidak percaya. Saya terkejut bercampur senang, “Apa yang bisa dibantu bang?”.

Lalu dia ungkapkan keinginannya untuk mengangkat Karo secara visualisasi ke tingkat nasional. Dia ingin membuat Sinetron bersetting Karo pertama dengan pemainnya semuanya orang Karo namun bisa ditonton seluruh penjuru negeri. Sang Produser tidak sendiri dia tepat memilih saya karena saya juga punya cita-cita sama sepertinya.

“Apa judul sinetron ini?” tanya saya ingin tahu.
“Nande Butet!” jawabnya tegas.

Judul awal yang diungkapkan sang Produser langsung membuat saya gelisah. Bukankah kata ‘Butet’ sangat erat dengan suku tetangga pikir saya saat itu. Seolah tahu isi pikiran saya sang Produser langsung menambahkan, “Butet juga ada di Karo. Dulu anak perempuan Karo banyak disebut Butet.”

Pertemuan tidak sampai disitu saja. Beberapa hari kemudian kami bertemu lagi. Ditemani cangkir kopi dan rokok pembicaraan kami makin hangat. “Abang rasa judulnya kita ganti saja Joey. Bagaimana menurutndu kalau kita kasih judul Nande Rudang. Rudang artinya Kembang. Karena sinetron ini menceritakan tentang kisah kembang kampung.”

“Nah itu baru cocok bang,” saya langsung menimpalinya.

Dengan sangat bersemangat kami berdiskusi tentang konsep cerita Nande Rudang. Nande Rudang berkisah tentang seorang perempuan cantik di kampung yang menikah dengan lelaki yang tidak bertanggung jawab. Padahal ada impalnya yang baik dan setia menungguinya. Namun dia memilih lelaki itu yang kemudian mengecewakannya.

Setelah pembahasan tentang sinopsis cerita selesai sang Produser kemudian menantang saya untuk menulis skenario sinetron itu. Dia katakan sinetron ini akan ditayangkan sebanyak 13 episode dengan durasi 30 menit per episodenya.

“Berapa lama kam bisa kerjakan?” tanyanya.
“Beri aku waktu 1 bulan bang,” jawabku pasti.
“Oke abang tunggu.”

Selama sebulan saya berkutat menulis skenario itu. Hampir sekalipun saya tidak pernah keluar dari kamar kos saya di kawasan Sumur Batu Jakarta Pusat. Keluar kamar hanya untuk makan dan menghirup udara segar agar tidak terlalu stress. Saya bergumul menciptakan karakter tokoh-tokoh Nande Rudang. Setelah skenario itu selesai beberapa episode saya bawa lagi ke Produser. Dia membaca tulisan saya, beberapa direvisi setelah diberi masukan kemudian saya lanjutkan menulis.

Tepat sebulan saya selesai mengerjakan skenario itu. Kami berdiskusi dengan Tim Produksi di ruang produser. Untuk karakter dan tokoh yang sudah saya ciptakan dalam skenario segera dicari pemainnya. Maka dilakukan audisi dan casting. Beberapa calon pemain kami panggil. Maka terpilihlah Lita Laurenchia Ginting sebagai Nande Rudang, Fredy Putra Ginting sebagai Bp Rudang, Petrus Barus sebagai Bapa Kezia. Untuk peran antagonis terpilihlah Chrismas Ginting Ginting sebagai Andi, dan saya sebagai Tanta. Hanya berlima dari kami yang terpilih dari Jakarta.

Sementara dari Medan terpilihlah Markus Nggara Jayana Tarigan sebagai Aswin, Sely Pinem Pinem sebagai Rudang, Febby Stephanie Ginting sebagai Kezia, Nanny Tarigan sebagai Nande Kezia, Warison Singarimbun sebagai Bapa Rasta, Adriani Tarigan sebagai Nande Rasta, Rina Sembiring sebagai Nande Kone, Freidalita Tarigan sebagai Nande Mburak dan Irene Hutabarat sebagai Eva.

Penjadwalan sudah final. Kami berlima bersama tim produksi dari Jakarta ada Produser Simson Tarigan, Unit Manager Napoleon Tarigan dan Produser Pelaksana Alfriadi berangkat ke Medan. Sesampai di Medan kami disambut oleh Tim Produksi TVRI Medan. Di kantor TVRI Medan di jalan Putri Hijau kami melakukan technical meeting pertama. Kami berkenalan dengan calon aktor-aktor dari Medan termasuk dengan para kru yang akan terlibat. Tampe Malem Tarigan dari TVRI dipercaya sebagai Pengarah Teknik.

Tanpa menunggu lama lagi selesai meeting hari itu juga kami menuju kampung Tanjung Merawa Tanah Karo yang terpilih menjadi set lokasi. Perjalanan kami tempuh sekitar 2,5 jam menuju kampung itu. Kami memakai rumah penduduk untuk tempat tinggalsementara. Malamnya kami langsung mengaudisi anak-anak kampung untuk dilibatkan untuk menjadi pemain. Terpilihlah Renaldi Bangun berperan sebagai Marno, Ariston Ginting sebagai Anto, Berlin Tarigan sebagai Bapa Mburak dan Rizky Pratama Bangun sebagai Lias.

Selama sebulan kami tinggal di Tanjung Merawa memproduksi Sinetron Nande Rudang sebanyak 13 episode itu. Hampir 50 orang kru dan pemain yang terlibat dalam produksi ini. Belum lagi pemain-pemain lokal yang diminta jadi figuran. Pagi siang malam tanpa lelah kami bekerja.

Selain di Tanjung Merawa kami juga syuting di seputaran Tiganderket seperti di pasar, jalanan, dan juga sekolah. Di Kabanjahe kami mengambil lokasi di terminal Kabanjahe karena dalam adegan Bapa Rudang juga berperan sebagai Supir Sinabung Jaya. Di Medan kami mengambil lokasi di rumah orang tua Petrus Barus di jalan Pasar Baru Padang Bulan.

Untuk soundtrack sinetron diangkat kembali lagu legenda ‘Ngarep Gestung Api Bas Lau’ ciptaan (Alm) Lamindo Sihaloho yang diaransemen ulang oleh Saulus Pinem dan dinyanyikan oleh putrinya Sely Pinem.

Sebulan kami dalam kebersamaan banyak cerita suka dan duka yang kemudian akan dikenang. Ada cerita asmara akibat cinta lokasi, ada menggosipkan teman, ada juga saling menjatuhkan. Bahkan peran posisi sebagai Sutradara dibuat bergantian. Tapi perjuangan kemudian tidak sia-sia setelah melihat hasil sinetron itu ditayangkan di TV. Walau masih banyak kekurangan namun kami bangga karena telah menjadi pelaku yang memperkenalkan suku Karo di Republik ini melalui karya film. Kami telah torehkan sejarah yang akan dikenang sepanjang masa. Nande Rudang ada untuk Karo dan Indonesia.

Karena cerita itu kemudian dicoretkan dalam mengenang masa lalu 10 tahun lalu kami berkarya, mungkin anda belum pernah menonton sinetron itu dan penasaran. Silahkan anda buka Youtube dan membuka link ini : https://www.youtube.com/playlist…
Saat ini juga anda bisa menonton Nande Rudang dimana saja anda berada.

Kami terharu saat sinetron Nande Rudang juga pernah dipakai Taman Budaya Medan untuk diputar menghibur saudara-saudara korban Sinabung dengan tontonan Layar Tancap. Tuhan sudah bekerja baik dalam proses agar Sinetron ini kemudian bisa menghibur orang banyak.

Nande Rudang adalah kenangan indah perjuangan masa lalu dimana kami pernah berkarya mengharumkan Karo.

Joey Bangun
Medan 21.03.19 22.47

Advertisements

Dialek Coach

Tahun 2014 lalu saya dipercaya untuk menjadi ‘Dialek Coach’ bahasa Karo untuk Vino Bastian sebagai Jamin Ginting di film “3 Nafas Likas.”

Tahun 2016 kembali dipercayakan menjadi ‘Dialek Coach” bahasa Karo dan Toba untuk Yuki Kato sebagai Marsila Silalahi di film “Cahaya Cinta Pesantren.”

 

Semoga Sumatara Utara dengan keragaman budayanya tetap dilirik dan memberi sumbangsih untuk eksistensi Perfilman Nasional. Welcome “Cahaya Cinta Pesantren!”

With Yuki Kato

In the new Indonesia Movie “Cahaya Cinta Pesantren” actress Yuki Kato role as Marshila Silalahi, Her father from Toba Marga Silalahi and her mother from Karo Beru Tarigan.

Bersama Vino Bastian

 

With Vino Bastian

 

Bersama aktor Vino Bastian di sebuah restoran di kawasan Salemba Jakarta. Vino Bastian terpilih memerankan tokoh pahlawan asal Karo Letjen Jamin Ginting di film layar lebar “3 Nafas Likas” yang disutradarai oleh Rako Prijanto produksi Oreima Films.

Saya terpilih khusus untuk melatih dan menghidupkan karakter Djamin Ginting dalam diri Vino Bastian. Juga mengajarinya secara khusus tentang karakter pria Karo, bahasa tubuh, dan juga dialek Karo Tempo Doeloe. Agar sosok Karo yang dihidupkan dalam diri Vino Bastian memang asli dan tidak terkontaminasi serta digeneralisasi dengan karakter suku-suku lain di Sumatera Utara. Secara khusus saya salut pada sosok Vino Bastian yang begitu semangat, serius, dan sangat profesional melakukan riset tentang suku Karo terkhusus karakter Bapak Djamin Ginting.

Dalam film “3 Nafas Likas” Vino Bastian akan beradu akting dengan Atiqah Hasiholan yang akan berperan menjadi Likas Tarigan istri dari Djamin Ginting. Proses pengambilan gambar akan dilakukan di Sumatera Utara, Jakarta, dan Kanada. Menurut rencana film ini akan dirilis September 2014 nanti.

 

Info :

http://id.wikipedia.org/wiki/3_Nafas_Likas

Film “ULIH PERBAHANEN”

1471125_10152409798557067_265832072_n

Sabtu, tgl 30 November 2013 Pk. 14.00 – Selesai di GBKP Rg. Kemenangan Tani

Minggu, tgl 1 Desember 2013 Pk. 14.00 – Selesai di GBKP Rg. Kabanjahe Kota

Film ini menceritakan kehidupan bebas seorang supir lintas yang mengakibatkan terjangkitnya penyakitnya AIDS. Penyakit itu juga tertular ke istrinya yang tidak berdosa. Akibat penyakit itu pula mereka diusir dari kampung halaman. Moderamen GBKP melalui Komisi HIV-AIDS dan NAPZA akhirnya membantu mereka dan memberikan mereka tempat tinggal di Rumah Singgah. Penyesalan dan dosa mengakibatkan pertobatan.

Setelah Pemutararan Perdana, film ini akan dijual secara bebas, untuk memilikinya silahkan menghubungi Marketing 081370370271

Album Rohani “Kusembah Dia” Ourel Queen Sinuhaji (Idola Cilik)

Ourel

Telah dirilis Album Rohani “Kusembah Dia” Ourel Queen Sinuhaji (Idola Cilik). Keseluruhan video klip ini digarap oleh Sutradara Joey Bangun dan Kameramen Jumpa Podinta Bangun. Aransemen Musik dikerjakan oleh Dico Wakkary.

Album dengan 9 lagu ini bisa didapatkan di Toko Buku Rohani terdekat atau menghubungi Marketing 081265725990 atau PIN BB 2633CC9E

Denias, Potensi Terlupakan dari Papua

denias_senandung_di_atas_awan.jpg

Ketika kita menikmati film Denias, Senandung di atas Awan, kita akan menyaksikan keindahan alam dan segala potensi papua yang selama ini terlupakan. Baik potensi itu menyangkut sumber daya manusia dan sumber daya alamnya.

Film ini mencoba mengulas lebih dalam potensi adat di tanah Papua berikut tata kramanya. Maka akan terjadilah seperti yang dialami Denias ( ) seorang putra Papua yang amat merindukan untuk bersekolah. Continue reading “Denias, Potensi Terlupakan dari Papua”

6:30, Kisah Cinta di San Francisco Nan Sepi

6301.jpg

Terkisah tiga sahabat yang tinggal di San fransisco, yaitu Alit (Adilla Dimitri), roommatenya Bima (Winky Wiryawan) dan Tasya (Dinna Olivia), mantan pacar Bima. Setelah menyelesaikan kuliahnya di San Fransisco, Alit memutuskan untuk kembali ke Indonesia untuk menemui ibunya (Jajang C Noer) yang selama 5 tahun tidak pernah bertemu.

Hal ini menghadapkan Alit pada keinginan untuk mengungkapkan isi hatinya pada Tasya sebelum dia pulang. Namun keinginan Alit terbentur pada kenyataan kalau Bima ternyata masih mencintai Tasya. Dari sinilah konflik demi konflik kemudian muncul.

Kritik

Plot yang dibangun di film ini cukup sederhana dan mudah ditebak. Pernah ada film Indonesia mengangkat tema cinta serupa beberapa waktu lalu. Pembangunan cerita sedikit kedodoran oleh dialog-dialog yang terkesan monoton dan cenderung membosankan. Continue reading “6:30, Kisah Cinta di San Francisco Nan Sepi”

Blog at WordPress.com.

Up ↑