With Harley Davidson

DSC_7437

Thanks bang Rudy Girsang untuk pinjaman sepeda motornya. Saya terlihat sangat gagah mengendarainya. Kelak bila jadi Bupati saya wajib memilikinya untuk blusukan…. Hehehe…

Advertisements

Ziarah

Berfoto dulu di kampung halaman Bunda di desa Beganding, Tanah Karo. Secara tradisi tahunan melakukan ziarah di makam Bulang dan Biring, kakek dan nenek saya di kampung ini.

 

DSC_0021

 

 

Biar waktu menjawab

Biar waktu yang menjawab tentang kehidupan ini. Bagaimana kau merasakan kesendirian sekian tahun lamanya dengan kepedihan yang berbekas. Kucoba aku guratkan cinta kembali. Apakah mungkin dia suatu saat akan mendengarkanku? Hanya dia yang bisa menjawabnya. Bere Karo mungkin suatu saat kita meniti ke depan dan merasakan kebahagian dalam adat istiadat. Aku ingin membangun impian bersamamu.

 

Pancur Siwah, 27 10 2014

Pk. 2.16

Joey Bangun

Menjadi 1x Crew

431570_10151114596917210_731066873_n

 

Terima kasih 1X yang telah mengangkat saya menjadi bagian dari Tim Kreatif website foto terbaik di dunia itu. Saya ditempatkan di bagian Tutorial Editors Team. Secara pribadi ini menjadi kebanggaan dari karir fotografi saya bisa menjadi bagian dari Industri fotografi dunia. Semoga fotografi Indonesia semakin maju!

http://1x.com/members/crew

Penawaran Foto

Dikarenakan Bencana Sinabung yang sangat mendukakan semua pihak termasuk saya. Dengan perasaan mendalam dan segala hormat kepada saudara-saudara sekalian, secara pribadi saya akan melakukan sesuatu untuk meringankan beban saudara-saudara kita di Pengungsian. Untuk itu saya akan menawarkan foto-foto eksklusif karya saya tentang Tanah Karo. Rencananya 50% seluruh dana dari foto-foto ini akan disumbangkan untuk para Pengungsi. Seluruh pengelolaan dan distribusi foto berikut semua sumbangan akan di kelola oleh saya dan perusahaan saya Aron Arts Production.

Untuk daftar foto bisa dilihat di blog saya :

https://joeybangun.wordpress.com/karya-foto/

Disini juga tertera cara penawaran, proses pengiriman, dan laporan sumbangan kepada Para Donatur dan Kolektor.

Untuk perhatiannya saya ucapkan banyak terima kasih. Mejuah-juah..!

Antara Sutradara dan Fotografer

 

Beberapa waktu terakhir ini banyak teman-teman ataupun handai taulan bertanya pada saya, sudah jadi fotografer nih? Bukan jadi sutradara lagi ya? Berulangkali pula saya menjawab, profesi saya tetap sutradara, berkarya untuk orang banyak, yang memberikan inspirasi dalam merubah peradaban manusia terutama suku saya. Sementara fotografer, adalah hobi saya dalam mengeksporasi gambar ketika hobi ini saya jalankan saat saya masih tinggal di Jakarta dulu.

Suatu hari almarhum saya memberikan sebuah kamera SLR pada saya. Kamera analog itu bernama Canon FTB, kamera itu juga diwariskan Bulang (kakek) padanya dulu. Kamera tahun 1971 saya ingat diberikan tahun 2006, beberapa bulan sebelum bapak meninggalkan kami. Saya pakai kamera itu saat saya penelitian di Batukarang dan beberapa tempat di Tanah Karo. Padahal saat itu lagi hangat-hangatnya fotografer memakai kamera Digital SLR terbaru seperti Nikon D70S dan Canon EOS 350D.

Saya bawa kamera itu ke Jakarta, di beberapa kesempatan saya pakai kamera itu mengabadikan Jakarta dan berbagai event pertunjukan. Saya belajar semuanya dari kamera analog warisan ayah saya!

Selama di Jakarta, kondisi ekonomi menghukum saya untuk tidak memiliki DSLR. Mahal sekali ketika itu untuk ukuran pemasukan saya. Saya hanya bisa melihat reviewnya di majalah-majalah kamera yang saya beli termasuk berbagai situs fotografi termasuk fotografer.net dimana saya sudah mendaftar ketika itu. Di Fotografer.net juga saya upload foto-foto karya saya dan mendapat apresiasi. Saya semangat untuk berkarya di fotografi. Tapi apa daya hanya semangat yang ada, tidak finansial yang harusnya mendukung semangat itu.

Kepindahan saya ke Medan untuk menekuni profesi sebagai Sutradara produksi lokal sejenak melupakan segalanya. Saya fokus pada profesi saya itu. Namun suatu hari saat saya harus dipercaya oleh turang (adik perempuan) saya untuk mengambil sesi foto Pre-wedding kemudian mata saya terbuka lagi untuk fotografi. Saya hanya bisa meminjam kamera. Termasuk di 2 sesi Pre-wedding yang dipercaya untuk saya kerjakan, saya harus meminjam bahkan harus menyewa kamera teman saya! Continue reading “Antara Sutradara dan Fotografer”

Nelangsa Kehidupan

Sebetulnya apa yang kau cari dalam hidup? Kepuasan dirimu atau kepuasan hidupmu. Tentu kau akan sulit menjawabnya. Tapi itulah kini. Hidup ini memang semakin membingungkan. Saat aku sendiri semakin tidak memahaminya.

Tidak mungkin aku ceritakan semuanya dalam stanza ini. Karena aku masih membutuhkan tempat dalam kesendirian yang harusnya tidak diketahui orang lain. Selain itu aku memang membutuhkan kesendirian. Dimana kepenatan membahan nelangsa isak lolongan hati.

Kenapa? Kenapa semua ini terjadi? Kau tanyakan pertanyaan itu padaku?

Aku tidak bisa menjawabnya karena aku memang tidak memahaminya. Yang terpahami aku hanyalah kini berada ditengah lautan luas dimana setiap saat ombak bisa menenggelamkan aku pada kematian. Continue reading “Nelangsa Kehidupan”

Selamat Jalan Pahlawan!

senibudaya_rendra

Secara pribadi saya turut berduka mendalam atas kepergian si “Burung Merak”. Saya adalah pengagum Wilibrodus Surendra Rendra. Kumpulan buku puisinya tersusun di rak buku saya, dan poster wajahnya tergantung di dinding kamar saya.

Saya teringat saat saya bernazar untuk menonton Rendra baca puisi sebelum dia dipanggil Tuhan. Waktu itu tanggal 6 April 2006, saya akhirnya menonton sang maestro teater itu baca puisi di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Padahal saat itu tiketnya sangat mahal untuk ukuran orang baca puisi. Uang saya yang pas-pasan coba saya korbankan untuk mengabulkan nazar itu.

Semangat Rendra mengembangkan seni teater di tanah air memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk terus bersemangat mengabdi di kesenian ini. Termasuk saya!

Selamat jalan Rendra! Selamat jalan Pahlawan!

Aku mendengar suara
jerit hewan terluka

Ada orang memanah rembulan
ada anak burung berjatuh di sarangnya

Orang-orang harus dibangunkan
kesaksian harus diberikan
agar kehidupan bisa terjaga

(W.S Rendra, PPR, 1992 : 21)

Joey Bangun

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑