~Mutiara Dewata~

Deru ombak mengguncang butiran pasir

sinar sunset membelah birunya pantai

kibaran angin hantarkan petang

burung camar nyanyikan kehidupan

`

Dibawah rindang pohon kelapa

Dinda ayu rebahkan tubuhnya di hamparan pasir

tergolek, mata memandang lurus ke atas

ungkap arti hidup pada cakrawala

`

Mutiara Dewata mendesahkan harapan

tuk berpaut pada Ma Nangin

berpelukan, menari dalam kobaran ombak asmara

cahaya mata berpadu pancarkan ketulusan

senyuman mengulum ungkapkan kasih

tawa berkumandang gelorakan jiwa

tuk nyatakan cinta

`

Mutiara Dewata berpulang pada Parahyangan

mewujudkan impian meraih cita dan cinta

tautkan diri pada jantung hati

bersatu pada alam

`

Tuk katakan

Dialah mutiara

di tengah pasir Kuta

`

= Kupersembahkan Untuk Mutiara Dewataku =

`

Camp David, 8 April 2004

Pk 23.46 WIB

Joey Bangun

Rona Asa

Di sudut keujungan malam

tergambar rupa keagungan surgawi

di hati fana seorang sahabat

`

Wajah itu aku ingat kembali

saat sukma kembali ronakan duka

jiwa hati terpurukkan asa

`

Oh dimanakah sahabat

mengapa dia hanya diam

tak bergeming tak juga ucapkan kata

`

Mengapa tidak lagi terlihat sungging senyumnya

mungkin saja patah hati senada

sahabat ampunkan aku akan kasihmu

ingin aku memelukmu

dan ucapkan di telingamu yang maha suci

`

Selamatkan sahabatmu yang sedang berduka

kalau suatu saat kau melihatnya duduk sendiri

di lorong gelap, menggigil bersedih

lelehkan air mata di pipinya yang berkerut

`

Sebutlah sahabatmu itu

dengan untaian nama indah

nama yang kelak semua orang mengingatnya

nama itu

PAWANG TERNALEM

`

Jakarta, 250908 01.03

JOEY BANGUN

Dawai Senjakala

Kupersembahkan puisi ini untuk gadis di Semanggi tadi, yang tidak lagi aku hantar pulang….

`

Gadis itu terlihat sendiri

namun,

aku tidak bisa menghantarnya ke peraduan

kekecewaan terlukis di wajahnya

`

Aku memang salah

entah kenapa terkait antara

karya dan cinta

`

Aku renungkan sosoknya di temaram malam

tercoreng sebuah nama indah untuknya

aku sebut dia kini

Dawai Senjakala

`

Jakarta, 170908 23.58

JOEY BANGUN

`

Irama Kehidupan

 

Aku sudah lelah berlari tanpa henti

Tanpa tujuan pasti yang menyadarkankan aku akan kepastian

Aku hanya ingin terus berlari, berlari, berlari, dan terus berlari

Untuk kepastian yang ingin aku pastikan

 

Aku berhenti sejenak melepas nafas yang terus memburu

Kupegang kedua lututku untuk menahan gelombang nafas ini

Kupandang sekelilingku, gelap, tak ada terang yang menemani

Kupalingkan wajahku ke kiri, juga gelap

Kupalingkan wajahku ke kanan, juga gelap

Kupalingkan wajahku ke belakang, gelap

Kutatap ke depan dengan sentakan nafas aku berlari

  Continue reading “Irama Kehidupan”

Terima Kasih Mama

Mama,

Terima kasih setelah tadi aku mendengar suaramu kembali

Mama,

Terima kasih engkau mengijinkan anakmu menjadi seniman

walau,

Aku tahu ada keraguan di hatimu

Mama,

Aku tidak pernah ragu pada pilihanku

Anakmu yang selalu mengasihimu

Joey Bangun

Rudang Berastepu

Ingin kurengkuh Rudang Berastepu

lalu coba bisikkan asa di wajahnya

adat istiadat tidak pernah salah

`

Aku ada dan dia ada

bukti maha karya

keagungan adat istiadat

`

Semasa di waktu lalu

ingin kutautkan puisi padanya

untuk ungkapkan ketulusan hasratku

`

Namun melihat gelagatnya

bukan adat yang menyatukan hati

tapi takdir justru menjauhkan

`

Puisi ini kutorehkan pada

Rudang Berastepu

kembang yang pernah datang

lalu aku antar pulang

`

Agar satu waktu kelak

sang kembang tidak lagi menyalahkan

adat istiadat yang melahirkannya

hingga waktu membuat kami berpisah

`

Jakarta, 2 Mei 2008 2.57

Joey Bangun

Cinta…

Cinta…

Sudah lama kunanti ketulusanmu

Kekosongan selalu menghiasi hari-hariku

Tanpa dorongan kekuatan yang dinamakan

Cinta…

Kuharap kau selalu ada

Hingga ku tak sendiri lagi meratap kesepian

Mengulum keremangan malam kesendirian karena tidak ada

Cinta…

Kurasakan hadirmu malam ini

Kutatap warna warni menghias dinding kamarku

Karena kubias harapan dengan

Cinta…

Lekukanmu indah menari dalam gairah

Api sorgawi meyulut kebekuan hati

Kukerling pandangan untuk

Cinta…

Aku bersyukur memilikimu

Mengembara dalam aliran darahku

Menggelegar tak sadar hanya karena

Cinta…

Kuharap kau tidak berlari meninggalkanku

Terhenyak sendiri meratap tangisan

Sebatang kara menjelajah mencari yang namanya

Cinta…

Kau buat aku tak sendiri lagi

Dan kuharap inikan abadi

Hingga akhir hayatku aku hanya mengatakan

Cinta…


Stanza Karo Simalem

Kucoretkan sebuah stanza
di malam sepi, telantang kupandang
betapa ajaib bersinar gemintang
di ufuk awal tahun perjuangan
teruntuk simalemnya Tanah Karo

Dalam gemulut rumputan merancah kakiku
padang-padang meliar, jerit gagak membingar
keagungan gendang Karo lima sedalinen
pemersatu harkat silima merga
melepuh hancur hampir tak bersisa

Sambutan suram ini tidak asing bagiku
begitu temaram kuta Lingga
rumah-rumah adat bertanduk kerbau
rontok terhukum tak berampun
segalanya fana dan semua berlalu

Tanah pupuk yang kudus dengan kening kucecah
di bawahnya cacing-cacing pasti mengerat
duri-duri terkutuk! semak-semak keparat!
orang-orang pasar berhati durja
api sedih luluhkan mimpi petani bersahaja

Aku dengar semangat bumi yang lena
mewangi kembali dan memesona daku
taman gaib untuk para pelancong
tuntut ingin menceraikan diri karena sudah layu
pisau-pisau para ‘tuan’ mengekang kemajuan

Satu orang, dua orang, tiga orang,
maju tanpa ragu untuk menjadi ‘tuan’
disundut, dicaci, ditampar, diremehkan,
oleh saudara yang mengaku seleluhur
jangan menyerah kawan, angkat terus wajahmu

Lihat surya bergumul dalam kabut Karo
jangan berlalu sebelum kutiti jembatan Lau Biang
untuk menuntut para korban penggelehan
kenapa sampai detik ini tanpa ada perkembangan

“nanti dulu, kau masih terlalu lugu untuk ketahui”
kata seorang ‘tuan’

Batavia. 030108 4.28
JOEY BANGUN

Blog at WordPress.com.

Up ↑