Cinta…

Cinta…

Sudah lama kunanti ketulusanmu

Kekosongan selalu menghiasi hari-hariku

Tanpa dorongan kekuatan yang dinamakan

Cinta…

Kuharap kau selalu ada

Hingga ku tak sendiri lagi meratap kesepian

Mengulum keremangan malam kesendirian karena tidak ada

Cinta…

Kurasakan hadirmu malam ini

Kutatap warna warni menghias dinding kamarku

Karena kubias harapan dengan

Cinta…

Lekukanmu indah menari dalam gairah

Api sorgawi meyulut kebekuan hati

Kukerling pandangan untuk

Cinta…

Aku bersyukur memilikimu

Mengembara dalam aliran darahku

Menggelegar tak sadar hanya karena

Cinta…

Kuharap kau tidak berlari meninggalkanku

Terhenyak sendiri meratap tangisan

Sebatang kara menjelajah mencari yang namanya

Cinta…

Kau buat aku tak sendiri lagi

Dan kuharap inikan abadi

Hingga akhir hayatku aku hanya mengatakan

Cinta…


Advertisements

Stanza Karo Simalem

Kucoretkan sebuah stanza
di malam sepi, telantang kupandang
betapa ajaib bersinar gemintang
di ufuk awal tahun perjuangan
teruntuk simalemnya Tanah Karo

Dalam gemulut rumputan merancah kakiku
padang-padang meliar, jerit gagak membingar
keagungan gendang Karo lima sedalinen
pemersatu harkat silima merga
melepuh hancur hampir tak bersisa

Sambutan suram ini tidak asing bagiku
begitu temaram kuta Lingga
rumah-rumah adat bertanduk kerbau
rontok terhukum tak berampun
segalanya fana dan semua berlalu

Tanah pupuk yang kudus dengan kening kucecah
di bawahnya cacing-cacing pasti mengerat
duri-duri terkutuk! semak-semak keparat!
orang-orang pasar berhati durja
api sedih luluhkan mimpi petani bersahaja

Aku dengar semangat bumi yang lena
mewangi kembali dan memesona daku
taman gaib untuk para pelancong
tuntut ingin menceraikan diri karena sudah layu
pisau-pisau para ‘tuan’ mengekang kemajuan

Satu orang, dua orang, tiga orang,
maju tanpa ragu untuk menjadi ‘tuan’
disundut, dicaci, ditampar, diremehkan,
oleh saudara yang mengaku seleluhur
jangan menyerah kawan, angkat terus wajahmu

Lihat surya bergumul dalam kabut Karo
jangan berlalu sebelum kutiti jembatan Lau Biang
untuk menuntut para korban penggelehan
kenapa sampai detik ini tanpa ada perkembangan

“nanti dulu, kau masih terlalu lugu untuk ketahui”
kata seorang ‘tuan’

Batavia. 030108 4.28
JOEY BANGUN