Memories of Gundala Gundala

Tepat 6 tahun yang lalu kami terpilih mewakili Sumatera Utara untuk membawa tari topeng Karo Gundala Gundala di event Solo International Performing Arts (SIPA) tanggal 1-3 Juli 2011 di Pamedan Istana Mangkunegaran Surakarta. Saat itu SIPA mengundang 9 delegasi dalam negeri yang mewakili propinsi dan 9 delegasi luar negeri yang berasal dari USA, Belanda, Rumania, Korea Selatan, India, Meksiko, dan Malaysia. Perhelatan dengan tema TOPENG itu pula yang membuat kami Teater Aron diundang untuk membawa tari topeng dari suku yang satu-satunya yang punya kesenian tari topeng di Sumatera Utara. Continue reading “Memories of Gundala Gundala”

Advertisements

Brutus

brutus

Dalam legenda Kaisar Roma, Julius Caesar mati bersimbah darah di tangan orang kepercayaannya bernama Brutus. Brutus bersekongkol dengan para senator Roma untuk membunuh Sang Kaisar. Padahal orang itu sangat dikasihi Julius Caesar. Bahkan Sang Kaisar suatu kali pernah menyelamatkan hidupnya.

Di Pawang Ternalem, dia ternyata seorang Brutus.

Dia adalah orang yang saya percayai selama ini. Saya sangat mengasihinya. Saya telah membantunya. Saya telah mengangkat namanya.

Namun,

Dia telah bersekongkol dengan orang-orang luar sana untuk menghajar saya. Saya ditusuk dari belakang tanpa ampun olehnya. Oleh orang yang saya kasihi itu. Kepercayaan selama ini hanyalah sebuah dusta. Hingga raungan kesakitan dan simbahan darah telah memendam saya pada keheningan.

ist2_407872-blood-splatter

Dialah orang yang saya kasihi di Pawang Ternalem itu

Usai

Di akhir cerita

Pawang Ternalem dan Beru Patimar
menyanyi dan menari Erdemu Bayu

Datuk Rubia Gande, sang Malaikat
perintahkan Tulak Kelambir Gading turun
dari Tualang Si Mande Angin

Dara meminta
agar Nandenya mencarikan jodoh untuknya

Layar Tertutup

Penonton bertepuk tangan meriah

Sutradara menerima karangan bunga
dari Putra Jenggi Kemawar

Terima Kasih Karo!

Inilah pengabdian kami padamu….

Pawang Ternalem usai sudah. Di dalamnya ada segudang masalah. Di dalamnya ada segudang peluh. Di dalamnya ada segudang air mata. Di dalamnya ada segudang pengorbanan. Di dalamnya ada segudang asa. Yang pasti, di dalamnya ada segudang perjuangan.

Titik itu telah saya lewati….
Saya menitikkan air mata melihat penonton tumpah ruah memenuhi gedung berkapasitas 810 penonton itu. Saya tahu mereka semua berharap sesuatu dari kami. Sesuatu persembahan terbaik. Itu sebabnya, detik-detik terakhir saya coba bangkitkan spirit bermain para aktor dengan jiwa, roh, dan menyertakan TUHAN didalamnya.

Hasilnya… Continue reading “Usai”

>>STANZA<<

Setelah catatan panggung saya berjudul “Sang Juruslamat” dimuat di milis ini, banyak respon yang saya terima, baik dari berbagai milis, maupun langsung ke email pribadi saya dan email Aron on Art. Respon ini datang dari anggota milis, saudara dan teman-teman, para kru dan pemain Pawang Ternalem, para donatur, dan juga para pembeli tiket.

Saya ucapkan terima kasih untuk respon yang saya terima, baik respon dukungan, pertanyaan seputar jadi tidaknya Pawang Ternalem, dan juga berbagai bentuk hujatan dan sindiran karena saya dituduh membuat janji palsu pada masyarakat Karo. Continue reading “>>STANZA<<“

Sang Juruslamat

“Buat Karo mendunia,” kata Prof Dr Ir Firman Tambun saat saya bertemu dia Rabu pagi kemarin di sebuah hotel di kawasan Senen. Mendengar kata-kata Staff Ahli Menteri Perekonomian ini terlintas dalam pikiran saya bahwa ini adalah lecutan bagi saya. Mungkin bisa juga akan jadi lecutan bagi anda semua yang merasa diri berbudaya Karo dan bervisi menjadikan Karo mendunia sesuai bidang anda masing-masing.

Sebagai seniman, tugas saya adalah membuat kesenian Karo bisa maju. Karo harus dikenal orang. Karo harus punya eksistensi sebagai salah satu bentuk peradaban dunia. Atau lebih tepatnya, dunia harus tahu Karo memang ada. Dan tanggung jawab itu harus saya jalankan dengan penuh pengabdian penuh. Beberapa waktu lalu di sebuah kampung di Sibolangit, saya pernah bernazar untuk ini. Continue reading “Sang Juruslamat”

Perjalanan

Dalam hidup ada perjalanan. Ada juga perjuangan.

Pawang Ternalem adalah hidup saya kini. Didalamnya ada perjalanan. Begitu juga perjuangan. Itu sebabnya dalam perjalanan merealisasikan Pawang Ternalem, yang saya lalui adalah sebuah perjuangan. Secara pribadi, Pawang Ternalem adalah bentuk pengejawantahan artikulasi cita-cita idealisme saya sebagai seorang Karo yang telah berani atau nekat mendedikasikan hidup pada seni drama.

Saya tidak pernah melalui perjalanan Pawang Ternalem tanpa perjuangan. Pawang Ternalem tidak pernah melalui jalan tol yang bebas hambatan. Justru untuk merealisasikan idealisme saya ini saya melalui jalan seribu liku-liku. Saya jadi teringat di masa kecil saya berkali-kali muntah saat melalui sebuah jalan lintas Sumatera di dekat kota Padang yang berliku-liku. Saat itu kami sekeluarga bertamasya ke Danau Singkarak. Jujur, di Pawang Ternalem jalan berliku-berliku itu telah menyebabkan saya muntah. Sebetulnya saya tidak kuat lagi. Tapi itulah hidup, ketika kita menginginkan sesuatu maka untuk merealisasikannya kita harus memperjuangkannya walau harus muntah sekalipun. Continue reading “Perjalanan”