Start

Sempat saya merinding saat latihan hari pertama Pawang Ternalem. Bukan apa-apa, tiba-tiba saja hujan mengguyur Jakarta tepat saat kami memulai latihan. Dan ini menjadi hujan pertama di Jakarta setelah lebih dari 2 bulan! Yang membuat saya lebih heran hujan itu berhenti setelah kami menyelesaikan latihan. Setelah itu. di hari berikutnya tidak pernah lagi turun hujan di Jakarta. Hanya saat latihan pertunjukan Pawang Ternalem itu!

Filosofi turun hujan sangat dekat dengan kebudayaan Karo. Saya jadi teringat ritus ‘Ndilo Wari Udan’ yang mempunyai muatan sakral dalam mengharapkan kedatangan hujan demi kepentingan hasil panen dan kemujuran kuta.

Continue reading “Start”

Advertisements

Proses

Tadi sore, tiba-tiba saja darah mengalir keluar dari hidung saya. Ketika saya sedang berdiskusi konsep kostum dengan bibi Rosida br Barus. Sore tadi saya datang ke rumahnya di Cempaka Baru untuk membicarakan tentang konsep kostum yang akan dipergunakan di Pawang Ternalem. Wanita yang sangat dikenal sebagai pembuat tudung dan ose pengantian Karo terbaik di Jakarta itu menjadi alternatif saya untuk bertanggung jawab di bidang kostum. Selain dia paham tentang pakaian tradisional Karo, dia juga pernah bekerja di dunia film. Dia sangat paham dengan make up karakter. Itulah makanya saya membutuhkan talenta yang dimiliki Bibi Rosida di pertunjukan ini. Sebagai penata kostum sekaligus penata make up.

Darah itu mengalir begitu saja dari hidung saya. Bibi Rosida memberikan tissue pada saya. Langsung saya terbujur terlentang di lantai untuk menahan aliran darah itu. Perbulangan Bibi Rosida minta ijin untuk mengurut sekitar wajah saya. Saya menganggguk. Dia mengoleskan ‘minyak pengalun’ ke wajah saya. Seketika itu saya merasakan aliran darah itu berhenti.

Continue reading “Proses”

Novel Pawang Ternalem

Menyambut pertunjukan Pawang Ternalem 25 Oktober di Taman Ismail Marzuki nanti, komunitas seni Teater Aron akan merilis sebuah novel berjudul “Pawang Ternalem”. Novel ini ditulis Joey Bangun. Novel Pawang Ternalem akan menjadi buku ke-3 karya Joey Bangun setelah buku “Puisi-Puisi Joey Bangun” (Pustaka Bangun Mulia 2004), “Kumpulan cerpen Kisah Karo Tempo Dulu” (kerjasama Pustaka Aron dan Radio Karo Access Global 2006) yang dicetak oleh Kesaint Blanc.

Buku ini bukan buku pertama yang menceritakan tentang Pawang Ternalem. Sebelumnya Pdt M. Joustra menulis buku “Beru Patimar, anak Pengulu Jenggi Kumawar” terbitan Leiden – S.C. van Doesburgh 1914. Buku karya M.Joustra ini seluruhnya menggunakan bahasa Karo lama dengan logat Sibolangit kental. Berhubung pendeta ini lama tinggal di Sibolangit bertugas untuk penginjilan. Continue reading “Novel Pawang Ternalem”

Siapa jadi Pawang Ternalem?

Dua pemuda Karo yang sehari-hari berprofesi sebagai pemain sinetron menyatakan kesediaannya untuk memerankan tokoh Pawang Ternalem. Seorang bermerga Ginting, dan yang lain bermerga Sembiring Depari. Yang Ginting tinggal di Depok, sementara Sembiring tinggal di Kelapa Gading. Kedua-keduanya mempunyai fisik di atas rata-rata. Dua-duanya dalam bahasa karo mempunyai fisik mbestang dan merupa. Keduanya dinilai sangat tepat memerankan tokoh Pawang Ternalem.

 

Saya sudah mendapat konfirmasi kesediaan dari keduanya. Yang Ginting sudah saya dapat konfirmasi via telepon. Sementara yang Sembiring kami sudah bertemu langsung,” kata Joey Bangun saat ditemui di rumahnya di daerah Sumur Batu yang masih dalam proses pemulihan kesehatan pasca sakit demam berdarah.

  Continue reading “Siapa jadi Pawang Ternalem?”

Dramatix

Di sebuah kamar beberapa hari yang lalu, saya merenung, “Mungkinkah semua yang terjadi adalah bagian dari sebuah kisah dramatis Pawang Ternalem?” Hari itu tepat hari ke-5 saya dirawat di rumah sakit PGI Cikini karena penyakit demam berdarah yang saya derita. Yang uniknya, penyakit itu justru datang beberapa jam setelah saya menuliskan catatan panggung berjudul SPIRIT yang saya tuliskan di milis ini minggu lalu.

 

Saya jadi teringat fenomena sandiwara PUTRI HIJAU yang pernah dipentaskan di Medan. Tiba-tiba saja pemeran Putri Hijau dan sutradaranya mati secara misterius setelah mementaskan sandiwara itu. Mungkinkah Pawang Ternalem akan mengalami hal yang sama?

 

Tidak!!

 

Saya berani jawab itu. Penyakit yang saya derita tidak ada sedikitpun hubungannya dengan tahyul. Penyakit itu datang secara alami. Dan tentu saja saya tetap bersyukur pada Tuhan, karena penyakit itu datang tepat sebelum pertunjukan. Bagaimana jika penyakit itu datang justru pada saat pertunjukan? Bisa dibayangkan! Continue reading “Dramatix”

Spirit

Saat itu Juni 2006, sebulan setelah kami meraih rekor MURI untuk dua pertunjukan di Bandung yaitu Gertak Lau Biang (Joey Bangun) dan Waiting for Godot (Samuel Beckett) dalam festival drama 7 bahasa 36 jam nonstop. Siang itu kami bertemu di sebuah rumah di daerah Cempaka Putih Utara milik seorang Sebayang salah satu direktur BUMN di Sumut saat ini. Kami itu adalah saya sendiri, Sion Junita br Sembiring, dan Anita br Pinem (kakak dari pemain sinetron Ana Pinem alias Mbok Tum). Yang kami bicarakan adalah konsep. Konsep untuk sebuah program ke depan. Saya menyarankan untuk mementaskan Pawang Ternalem. Karena cerita ini unik dan punya kekuatan sendiri. Akhirnya setelah berdiskusi kami menetapkan untuk mementaskan drama itu tanggal 13 Oktober 2006 di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Saya menjadi sutradaranya, Sion Junita menjadi Pimpinan Produksinya, dan Anita br Pinem di bagian artistik. Kami kemudian sepakat visi dan misi pertunjukan ini adalah untuk pengembangan dan pelestarian kebudayaan Karo. Continue reading “Spirit”