Pawang Ternalem

Pawang Ternalem adalah cerita rakyat Karo yang bermula dari satu kuta/kampung di Liang Melas, Tanah Karo. Suatu hari seorang bayi lahir di hari yang dianggap sial. Bapa dan Ibu bayi itu tiba-tiba saja meninggal. Menurut kepercayaan Karo waktu itu, bayi itu dianggap sebagai anak pembawa sial. Orang-orang berusaha menyingkirkan bayi itu namun tetap saja bayi itu tidak mati. Kemudian bayi itu tumbuh dan dibesarkan oleh babi-babi di kolong rumah adat. Tetapi tetap saja anak itu dikucilkan oleh penduduk kampung itu. Merasa dia tidak bisa lagi hidup di kampung itu, lalu dia menemui rombongan pedagang yang disebut Perlanja Sira.

Bersama romobongan Perlanja Sira itu kemudian dia pergi ke daerah Langkat.  Di salah satu hutan di daerah Batang Serangan anak itu ditinggalkan oleh para Perlanja Sira karena mereka menganggap sebagai anak pembawa sial perjalanan mereka. Di hutan itu anak tersebut akhirnya bertemu dengan seorang dukun sakti bernama Datuk Rubia Gande. Kemudian Datuk Rubia Gande mengenalkan putrinya Tulak Kelambir Gading kepada anak itu. Datuk Rubia Gande mengajak anak itu tinggal di rumahnya dan lalu mengangkatnya menjadi muridnya. Kemudian anak itu diberi nama Pawang Ternalem.

Satu hari di sebuah kampung bernama Jenggi Kemawar diadakan sayembara. Putri pengulu Jenggi Kemawar bernama Beru Patimar yang konon cantiknya luar biasa itu sedang sakit keras. Obatnya hanya madu lebah yang ada di pokok pohon Tualang Simande Angin. Pengulu mengumumkan siapa laki-laki yang bisa memanjat pohon angker itu dan mengambil madu lebahnya, bisa mengawini Beru Patimar.

Continue reading “Pawang Ternalem”

Advertisements