Dawai

Dalam keheningan malam aku kembali memikirkanmu kekasih. Saat aku tinggalkan diriku sendiri di kamar ini tanpa siapa pun yang mencoba menemaniku. Aku hanya ingin merenung bagaimana perjuangan untuk mendapatkanmu kembali. Aku mencoba membuka jendela dan bertanya pada angin malam dimanakah kini engkau berada. Aku berbisik pada nurani hatiku, apakah engkau masih ada? Apakah engkau masih akrab menyapaku seperti dulu.

Kubuka lembar demi lembar buku kehidupan di masa lalu. Setiap lembar itu pula namamu kusebut dan tak satu lembarmu kau tidak memanggil namaku. Kita pernah tertawa bersama, kita pernah bercanda dalam keriangan tanpa beban.

Dalam bebanku engkau mengangkatku. Kau selalu tersenyum saat hatiku gundah gulana. Kata-kata dan suaramu selalu penuh penghiburan. Tanpa terhitung akulah selalu yang mengucap syukur padamu.

Continue reading “Dawai”

Advertisements

Secercah Harapan dari kaki Sinabung

Foto ini saya ambil dari SD Naman Teran, Tanah Karo. “Tetaplah semangat belajar adik-adiku. Jadilah generasi penerus bangsa yang cerdas. Tuhan tidak pernah memberikan cobaan yang melebihi kekuatan kita. Percayalah, Badai pasti berlalu.”

Fenomena Biang

Biang (Bahasa Indonesia : Anjing) adalah binatang berkaki empat yang suka menggonggong. Bagi orang Karo non Muslim daging biang yang dimakan biasa disebut B1. Sedang untuk daging Babi disebut B2. Mungkin pengertian B1 dan B2 yang muncul pada makanan khas suku Karo ini diambil dari jumlah B pada kosa kata dalam namanya.

.
Tidak semua merga suku diperbolehkan makan daging biang. Merga Sembiring contohnya. Namun tidak semua sub merga Sembiring tidak boleh makan biang. Merga Sembiring golongan Singombak (menghanyutkan perabuan) menjadi golongan la tengka man biang (pantang makan daging anjing). Merga Sembiring yang digolongkan Singombak ini adalah Brahmana, Pandia, Colia, Guru Kinayan, Keling, Depari, Pelawi, Bunuh Aji, Busuk, Muham, Meliala, Pande Bayang, Maha, Tekang dan Kapur. Sementara golongan Sembiring yang tengka man biang (boleh makan daging anjing) adalah Kembaren, Keloko, Sipayung, Sinulaki.

.
Istilah Singombak lahir dari fenomena penghanyutan abu pembakaran mayat yang dilakukan ke sungai Lau Biang pada Kerja Mbelin Paka Waluh di kuta Seberaya yang dilakukan Seremai Sekali atau 32 tahun sekali. Sembiring Hindu Tamil itulah istilah yang dipakai budayawan Karo K.S. Brahmana yang terkenal dengan nama samaran Brahma Putro. Kesimpulan Brahma Putro ini lahir dari penyelidikannya kalau golongan Sembiring ini berasal dari India. Kerja Mbelin Paka Waluh terakhir terjadi antara tahun 1850-1880, upacara suci pembakaran mayat (ngaben) dan menghanyutkan perabuan mayat itu ke sungai Lau Biang konon dipercaya di lautan luas akan bertemu dengan sungai Gangga India yang dianggap suci itu. Tentang Hindu, Seorang Antropolog Karo Juara R. Ginting membenarkan dalam tulisannya THE POSITION OF HINDUISM IN KARO SOCIETY (NORTH SUMATRA) dalam buku berjudul ‘Hinduism’ in Modern Indonesia: A Minority Religion Between Local, National and Global Interests, Martin Ramstedt (editor), Routledge Curzon, 2003: halaman 226-241.

Continue reading “Fenomena Biang”