Kapal Bernama Karo

Menurut catatan sejarah, ada 3 kapal yang bernama Karo.

Kapal bernama Karo pertama adalah Kapal “Sibayak”. Kapal itu membawa Gouverneur Generaal Nederlandsch Indie Jhr. Mr.B.C. de Jonge dari Tanjung Priok ke Belanda setelah digantikan Gouverneur Generaal yang baru Jhr. Mr.A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer pada tahun 1936.

Kapal ‘Sibayak’ ini pernah saya angkat dalam Cerbung berjudul ‘Sibayak” karya saya yang dimuat di Tabloid Sora Mido beberapa waktu lalu.

Pada tanggal 6 Maret 1937, diluncurkan kapal bernama “Berastagi” oleh pabrik kapal De Scholde milik Rotterdams Loyd.

Terakhir kapal bernama “Sinabung.” Kapal tersebut buatan Jerman. Dulunya kapal itu mengambil rute pelayaran Tanjung Priok ke Belawan. Tapi kini sudah dialihkan ke wilayah timur Indonesia.

 

Advertisements

Erkiker

Erkiker berasal dari kata kiker yang berarti gergaji. Jadi Erkiker adalah tradisi memotong gigi dan meratakannya yang dilakukan pada anak perempuan dan anak laki-laki ketika berumur 10-15 tahun. Pada zaman dulu tradisi memotong gigi dan meratakannya merupakan kebanggaan dan menunjukkan kemampuan sebuah keluarga. Selain itu erkiker juga bertujuan untuk memperindah bentuk gigi.

Pakaian laki-laki ketika erkiker adalah bulang-bulang, baju, gonje, dan pementing (ikat pinggang) sedangkan pakaian perempuan adalah tudung, baju, gonje, cincin dan kalung. Biasanya erkiker dilaksanakan di sungai secara ritus tradisi. Menurut penelitian, erkiker banyak dilaksanakan tahun 1936 ke bawah walaupun di atas tahun tersebut beberapa kuta masih menjalankan ritus tersebut. Continue reading “Erkiker”

Fenomena Biang

Biang (Bahasa Indonesia : Anjing) adalah binatang berkaki empat yang suka menggonggong. Bagi orang Karo non Muslim daging biang yang dimakan biasa disebut B1. Sedang untuk daging Babi disebut B2. Mungkin pengertian B1 dan B2 yang muncul pada makanan khas suku Karo ini diambil dari jumlah B pada kosa kata dalam namanya.

.
Tidak semua merga suku diperbolehkan makan daging biang. Merga Sembiring contohnya. Namun tidak semua sub merga Sembiring tidak boleh makan biang. Merga Sembiring golongan Singombak (menghanyutkan perabuan) menjadi golongan la tengka man biang (pantang makan daging anjing). Merga Sembiring yang digolongkan Singombak ini adalah Brahmana, Pandia, Colia, Guru Kinayan, Keling, Depari, Pelawi, Bunuh Aji, Busuk, Muham, Meliala, Pande Bayang, Maha, Tekang dan Kapur. Sementara golongan Sembiring yang tengka man biang (boleh makan daging anjing) adalah Kembaren, Keloko, Sipayung, Sinulaki.

.
Istilah Singombak lahir dari fenomena penghanyutan abu pembakaran mayat yang dilakukan ke sungai Lau Biang pada Kerja Mbelin Paka Waluh di kuta Seberaya yang dilakukan Seremai Sekali atau 32 tahun sekali. Sembiring Hindu Tamil itulah istilah yang dipakai budayawan Karo K.S. Brahmana yang terkenal dengan nama samaran Brahma Putro. Kesimpulan Brahma Putro ini lahir dari penyelidikannya kalau golongan Sembiring ini berasal dari India. Kerja Mbelin Paka Waluh terakhir terjadi antara tahun 1850-1880, upacara suci pembakaran mayat (ngaben) dan menghanyutkan perabuan mayat itu ke sungai Lau Biang konon dipercaya di lautan luas akan bertemu dengan sungai Gangga India yang dianggap suci itu. Tentang Hindu, Seorang Antropolog Karo Juara R. Ginting membenarkan dalam tulisannya THE POSITION OF HINDUISM IN KARO SOCIETY (NORTH SUMATRA) dalam buku berjudul ‘Hinduism’ in Modern Indonesia: A Minority Religion Between Local, National and Global Interests, Martin Ramstedt (editor), Routledge Curzon, 2003: halaman 226-241.

Continue reading “Fenomena Biang”