Kapal Bernama Karo

Menurut catatan sejarah, ada 3 kapal yang bernama Karo.

Kapal bernama Karo pertama adalah Kapal “Sibayak”. Kapal itu membawa Gouverneur Generaal Nederlandsch Indie Jhr. Mr.B.C. de Jonge dari Tanjung Priok ke Belanda setelah digantikan Gouverneur Generaal yang baru Jhr. Mr.A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer pada tahun 1936. Continue reading “Kapal Bernama Karo”

Advertisements

Erkiker

Erkiker berasal dari kata kiker yang berarti gergaji. Jadi Erkiker adalah tradisi memotong gigi dan meratakannya yang dilakukan pada anak perempuan dan anak laki-laki ketika berumur 10-15 tahun. Pada zaman dulu tradisi memotong gigi dan meratakannya merupakan kebanggaan dan menunjukkan kemampuan sebuah keluarga. Selain itu erkiker juga bertujuan untuk memperindah bentuk gigi. Continue reading “Erkiker”

Secercah Harapan dari kaki Sinabung

Foto ini saya ambil dari SD Naman Teran, Tanah Karo. “Tetaplah semangat belajar adik-adiku. Jadilah generasi penerus bangsa yang cerdas. Tuhan tidak pernah memberikan cobaan yang melebihi kekuatan kita. Percayalah, Badai pasti berlalu.”

Simbol Kerukunan Umat Beragama di Karo

Foto ini diambil di desa Perteguhen Tanah Karo. Mesjid dan Gereja berdiri berhadapan tampak damai di bawah kaki Gunung Sinabung. Tidak pernah ada gesekan antar agama di Bumi Turang.

Adat Istiadatlah yang telah menyatukan sosial masyarakat Karo. Tanah Karo telah menjadi simbol keberagaman dan kebhinekaan di wilayah NKRI.

 

 

 

Mobil Pertama ke Tanah Karo

Pada tahun 1907, jalan raya Medan-Kabanjahe selesai dibangun atas prakarsa Pdt. JH. Neumann. Mobil pertama yang tiba di Kabanjahe adalah mobil milik seorang pengusaha Belanda bernama J.Th. Cremer. Tujuh tahun kemudian tepatnya tahun 1914, seorang Belanda memprakarsai bus umum pertama ke Tanah Karo.

Fenomena Biang

Biang (Bahasa Indonesia : Anjing) adalah binatang berkaki empat yang suka menggonggong. Bagi orang Karo non Muslim daging biang yang dimakan biasa disebut B1. Sedang untuk daging Babi disebut B2. Mungkin pengertian B1 dan B2 yang muncul pada makanan khas suku Karo ini diambil dari jumlah B pada kosa kata dalam namanya.

.
Tidak semua merga suku diperbolehkan makan daging biang. Merga Sembiring contohnya. Namun tidak semua sub merga Sembiring tidak boleh makan biang. Merga Sembiring golongan Singombak (menghanyutkan perabuan) menjadi golongan la tengka man biang (pantang makan daging anjing). Merga Sembiring yang digolongkan Singombak ini adalah Brahmana, Pandia, Colia, Guru Kinayan, Keling, Depari, Pelawi, Bunuh Aji, Busuk, Muham, Meliala, Pande Bayang, Maha, Tekang dan Kapur. Sementara golongan Sembiring yang tengka man biang (boleh makan daging anjing) adalah Kembaren, Keloko, Sipayung, Sinulaki.

.
Istilah Singombak lahir dari fenomena penghanyutan abu pembakaran mayat yang dilakukan ke sungai Lau Biang pada Kerja Mbelin Paka Waluh di kuta Seberaya yang dilakukan Seremai Sekali atau 32 tahun sekali. Sembiring Hindu Tamil itulah istilah yang dipakai budayawan Karo K.S. Brahmana yang terkenal dengan nama samaran Brahma Putro. Kesimpulan Brahma Putro ini lahir dari penyelidikannya kalau golongan Sembiring ini berasal dari India. Kerja Mbelin Paka Waluh terakhir terjadi antara tahun 1850-1880, upacara suci pembakaran mayat (ngaben) dan menghanyutkan perabuan mayat itu ke sungai Lau Biang konon dipercaya di lautan luas akan bertemu dengan sungai Gangga India yang dianggap suci itu. Tentang Hindu, Seorang Antropolog Karo Juara R. Ginting membenarkan dalam tulisannya THE POSITION OF HINDUISM IN KARO SOCIETY (NORTH SUMATRA) dalam buku berjudul ‘Hinduism’ in Modern Indonesia: A Minority Religion Between Local, National and Global Interests, Martin Ramstedt (editor), Routledge Curzon, 2003: halaman 226-241.

Continue reading “Fenomena Biang”

Bersama Vino Bastian

 

With Vino Bastian

 

Bersama aktor Vino Bastian di sebuah restoran di kawasan Salemba Jakarta. Vino Bastian terpilih memerankan tokoh pahlawan asal Karo Letjen Jamin Ginting di film layar lebar “3 Nafas Likas” yang disutradarai oleh Rako Prijanto produksi Oreima Films.

Saya terpilih khusus untuk melatih dan menghidupkan karakter Djamin Ginting dalam diri Vino Bastian. Juga mengajarinya secara khusus tentang karakter pria Karo, bahasa tubuh, dan juga dialek Karo Tempo Doeloe. Agar sosok Karo yang dihidupkan dalam diri Vino Bastian memang asli dan tidak terkontaminasi serta digeneralisasi dengan karakter suku-suku lain di Sumatera Utara. Secara khusus saya salut pada sosok Vino Bastian yang begitu semangat, serius, dan sangat profesional melakukan riset tentang suku Karo terkhusus karakter Bapak Djamin Ginting.

Dalam film “3 Nafas Likas” Vino Bastian akan beradu akting dengan Atiqah Hasiholan yang akan berperan menjadi Likas Tarigan istri dari Djamin Ginting. Proses pengambilan gambar akan dilakukan di Sumatera Utara, Jakarta, dan Kanada. Menurut rencana film ini akan dirilis September 2014 nanti.

 

Info :

http://id.wikipedia.org/wiki/3_Nafas_Likas

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑